Langsung ke konten utama

eMachines D720


Oleh: Firdaus Putra A.

Hadiah lima juta dari Kapan Lagi akhirnya berubah bentuk menjadi eMachines D720. laptop ini produksi Acer. Karena merek ini masih asing, saya browsing via google, saya temukan ulasan panjang laptop jenis ini. Sebagai berikut, “E-machines merupakan sebuah perusahaan komputer yang baerbasis di California, USA. Pada tahun 2004 perusahaan ini diakuisisi oleh Gateway dengan kucuran dana tidak kurang dari $262 Milyar. Lucunya, pada tahun 2007 Gateway akhirnya dibeli oleh Acer. Kondisi ini membuat Gateway dan emachines berada dibawah manajemen Acer. E-machines sendiri menjadi sebuah divisi low cost PC" [lihat di sini].

Di beberapa blogger banyak juga yang sudah membeli produk ini. Mengapa? Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, berkisar 5,5 juta rupiah. Dan menariknya, spesifikasi yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung; Processor : Mobile DualCore Intel Pentium T3400 2,16 Ghz | Chipset : Mobile Intel Cantiga GL40 Express | VGA : Intel GMA 4500M - 64 MB Dedicated | Display : 14,1″ Wide - 1280×800 Max Res | Memory : 512 MB (Free Upgrade ke 1 GB) | HD : Hitachi Travelstar 160 GB SATA-II 5400 RPM/8MB Buffer | Optcal : Hitachi-LG 8x DVD Super Multi Drive | WiFi : Atheros AR5007EG 802.11 b/g
Mic | Webcam | Gigabit LAN | OS : Linpus Linux. Dengan spesifikasi seperti itu, seorang penjual di Purwokerto menyebut eMachines sebagai “laptop seribu umat”.

Saya membeli laptop itu sekitar tiga hari yang lalu di note book center tertentu di Purwokerto. Berbeda dengan beberapa teman lain, saya beli dengan harga 5,5 juta. Namun, ada di beberapa situs e-commerce yang menjual laptop itu dengan harga 5,9 sampai 6,2 juta. Setelah saya terima, RAM langsung saya up grade 1 Gbyte dengan membayar 175 ribu. Jadinya sekarang laptop saya bisa dipacu sampai 1,5Gbyte.

Malamnya saya mencoba fasilitas WiFi laptop itu di kampus Ekonomi UNSOED. Dan hasilnya sangat memuaskan, mungkin karena memang sinyalnya bagus saat itu, atau juga karena kecepatan laptop RAM yang saya tambah.

Besoknya saya membeli tas khusus untuk laptop. Tepatnya di Metro saya ambil Real Pollo dengan harga Rp. 210.000. Sebelumnya saya tanyakan ke penjaga apakah tas tersebut muat untuk laptop 12”? Si penjaga mengiyakan. Sampai di kos, saya coba. Dan tidak seperti bayangan, tas itu terlalu kecil. Bersama Wahyu akhirnya saya ke Metro lagi untuk menukar dengan jenis atau merek lain.

Saya ambil tas dengan merek Tracker seharga Rp. 145.000. Parahnya sisa uang senilai Rp. 65.000 tidak bisa dicairkan. Justru sebaliknya, uang tersebut harus dibelanjakan bahkan harus lebih sekurang-kurangnya Rp. 500. Benar-benar hari yang naas.

Namun kenaasan itu sempat tertutupi ketika seorang teman memberi informasi kalau tulisan saya masuk dalam nominasi Lomba Cipta Esai Nasional “Kekuasaan dan Agama”. Via ponsel Wahyu saya cek kebenaran informasi itu. Dan benar, judul tulisan dan nama saya tercantum pada urutan nomor tujuh.

Terlepas dari pernak-pernik itu semua, sekarang dengan adanya laptop saya bisa mengurangi alokasi dana warnet. Pasalnya, aktivitas di dunia maya bisa saya lakukan dengan cuma-cuma di kampus Ekonomi atau lainnya. Termasuk malam ini, dimana tulisan ini saya posting via hot spot area Fak. Ekonomi UNSOED bersama Wahyu dan sepasang muda-mudi lainnya. []

Komentar

Hilmy Nugraha mengatakan…
asik,

baru nih,

OL trus...
Anonim mengatakan…
selamat mas atas laptop abrunya
aku jga barusan beli ni laptop.
Anonim mengatakan…
Wah mas..sebagai blogger baru aku salut banget untuk mas Anas
Bisa nyari duit dari ngeblog
Ajarin saya ya mas...

Salam kenal n mampir ke blog ku ya..
Aku Link mas Anas..link back saya juga ya..
thanks
zoelfa mengatakan…
mas kan ramya 512 vga 128, kalo ramnya diaupgrate 2gb vga sharenya tambah g , tlong penjelasannya
Farid Nugroho mengatakan…
iseng ngegoogle ttg emachine D720, eh masuk ke sini.
Masih kah laptop ini dipakai? saya masih pakai buat ngeblog lho, padahal belinya 2008 silam. meski sering overheat dan beberapa bagian udah rusak. :)

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...