Oleh: Firdaus Putra Aku tak pernah sangka kalau krisis nuklir Jepang membuatku cemas. Pukul lima tadi kau terbang ke Jepang menjemput papamu. Dua hari lalu sudah kukatakan, minta seluruh familimu menjauh dari Fukushima. Bila perlu, pulanglah ke Singapura atau Taiwan. Papamu tetap ngotot. Kakak lelakimu menemani. Hanya mama dan kakak perempuanmu yang pulang agar kau tak cemas. Tapi, kini kau malah menyusul ke sana bersama mereka. Dan itu, membuatku demikian cemas. Kau tahu, ihwal Jepang adalah tentang “sudah jatuh tertimpa tangga”. Tsunami itu demikian dahsyat. Gempa sembilan sekian skala richter membuat sebagian negeri itu porak poranda. Ada sekitar 13.000 orang yang dikabarkan meninggal dan atau hilang. Dan kini, “tangga” itu menimpa. Krisis nuklir mengintai jam demi jam, hari demi hari. Sepertimu, kucermati terus perkembangan berita. Krisis itu terjadi lantaran pendingin inti nuklir rusak akibat tsunami. Jika inti yang panasnya di atas ratusan derajat celcius itu melumer, rad...