Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 2, 2008

Aku, Gita dan Tulisan

Sepenggal Perjalanan Imajiner Oleh: Firdaus Putra A. Apa hebatnya tulisan? Pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulut Tata, saat di lapak buku-buku bekas. Toh tulisan hanya sekedar rangkaian kata, kalimat, paragraf yang diujung cerita diberi judul dan nama penulisnya. Tidak ada yang istimewa dari tulisan. coba bandingkan dengan musik, ia mengalun dengan indah. Ribuan penonton mengiringi seakan musik mengeluarkan pheromon yang merangsang mereka. Aku masih membolak-balikkan beberapa buku yang sudah lusuh. Beberapa buku yang terlihat menarik aku buka halaman demi halaman. Sekedar untuk tahu isinya. Belum aku ladeni lontaran Tata yang bersungut-sungut kesal karena seharian berkeliling di lapak buku. Tolong ambilkan yang itu! Serunya, meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan buku yang dimaksud. Aku ambil, beberapa detik aku lihat judulnya, “Kumpulan Catatan Pinggir Goenawan Mohammad”. Ini! Sembari kuberikan buku itu. Kulirik sepintas ia mulai membuka-buka buku itu. Sesekali ia ...

Sempurna a la Gita Gutawa

Oleh: Firdaus Putra A. Malam ini Giga Gutawa sudah mengganggu istirahatku dengan lantunan Sempurna-nya. Bolak-balik aku putar lagu itu. Beruntung tadi malam aku temukan beberapa versi lagu itu. Satu versi live show, suara aslinya kurang tertangkap baik di loud speaker-ku. Sedikit pecah. Versi satu sama seperti yang live show, hanya saja dilantunkan di dalam studio rekaman, jadi suara merdunya dapat dinikmati melalui speaker standar. Dan versi kedua, lebih dinamis. Untuk kali pertamanya aku dengar penyanyi muda dengan bakat yang luar biasa. Terlepas dari Erwin Gutawa, Gita punya peluang untuk menjadi diva musik Indonesia pada generasinya. Ia berbeda dengan penyanyi pop muda lainnya. Suaranya begitu khas. Dengan oktaf yang tinggi. Melengking, membuncahkan kesunyian. Dan kali pertama aku secara sengaja mencari lagu tertentu. Biasanya stok lagu di komputerku hasil pemberian teman-teman. Atau juga pacar. Maklum aku tidak terlalu mengikuti berbagai macam perkembangan musik Indonesia a...

Selamat Jalan Base

Nestapa dari Makassar Oleh: Firdaus Putra A. Seorang Ibu yang tengah hamil tujuh bulan terbujur kaku di atas kasur. Di sampingnya, Bahir, putra yang berusia tiga tahun juga terbaring tanpa nyawa. Menyedihkan, itulah kata yang tepat untuk melukiskan salah satu tahap kehidupan, kematian. Namun, ironis mereka berdua, ibu dan anak, bukan meninggal karena sakit. Bukan pula karena kekerasan dalam rumah tangga. Mereka meninggal karena selama tiga hari terakhir tidak punya makanan untuk dimakan. Konon, kata tetangga, kadang mereka hanya makan air dicampur garam ditambah sedikit bumbu dapur.Yang akhirnya diare menyerang mereka. Base dan Bahir adalah cerita tentang kenestapaan anak manusia. Tempo dulu, mungkin mereka pernah mendengar celotehan orang tua, “Ayam saja, baru lahir bisa mencari makan sendiri. Apalagi manusia”. Mungkin juga celotehan itu salah. Kehidupan manusia ternyata tak sederhana kehidupan ayam. Tanpa uang, ayam bisa mengais makanan di manapun. Tanpa uang, apa yang bisa dil...

Idola Cilik

Oleh: Firdaus Putra A. Apa yang tak dijual oleh industri? Nyaris tidak ada. Mulai dari yang kasat mata, sampai yang gaib. Hantu-hantu misalnya, dijual melalui industri hiburan. Sampai yang sedang pop, berbagai macam kontes menyanyi dibuat guna menghibur pemirsa, alih-alih merogoh kantong pemirsanya melalui SMS dukungan. Sampai tidak sungkan-sungkan lagi industri hiburan menjual masa kanak-kanak para putra bangsa. Dengan dalih sebagai upaya menggali potensi atau bakat menyanyi yang terpendam. Dibuatlah kontes menyanyi dalam tajuk “Idola Cilik”. Apa yang kurang pantas? Sepintas lalu kontes menyanyi ini tidak berbeda dengan konstes menyanyi yang lain, sebut saja, Indonesian Idol, AFI, Superdut, Mamamia, KDI, dan seterusnya. Beberapa yang saya sebut rata-rata berpeserta dewasa. Ada juga campuran antara orang tua dengan si anak, seperti pada Mamamia. Mari kita tengok sebentar tayangan Idola Cilik di salah satu televisi swasta. Sebuah tayangan yang menyuguhkan kemahiran anak-anak melan...

Makanan Anak Kos

Oleh: Firdaus Putra A. Di sebelah kiri saya sepasang muda-mudi memesan nasi putih dengan telor ceplok. Sedangkan saya yang sudah datang sebelum mereka, memesan nasi goreng dengan telor dadar. Harga nasi goreng di warung itu memang terbilang murah, hanya Rp 2500. Tentunya dengan rasa yang ala kadarnya. Lebih tajam rasa manis kecapnya daripada gurihnya bumbu dapur. Saya tidak tahu persis harga menu nasi putih dan telur ceplok yang dipesan mereka. Anggaplah nilainya sama, Rp. 2500. Meskipun saya memesan lebih awal, dan makan lebih awal, tapi lantaran sembari mebaca koran Kompas, mereka selesai lebih dulu. Nasi goreng yang saya pesan pun tidak habis ludes seperti biasa ketika saya lapar. Masih ada sisa. Memang saat memakannya saya memilih bagian nasi yang tidak terlalu mengkilat terkena minyak goreng. Bahkan sisa nasi yang tidak saya makan terlihat kehitam-hitaman, mungkin pengaruh minyak goreng dan kecap. Keluar dari warung itu, saya berjalan menuju kos. Di sepanjang jalan saya mera...

Music is Beautiful

Oleh: Firdaus Putra A. Pagi hari ini aku menyempatkan diri memutar beberapa musik pilihan; Donna Donna (sound track Gie movie), Viva Forever (Spice Giril), Clocks (aku lupa nama grup musiknya), Numb (Linking Park), dan Frozen (Madonna). Sejujurnya aku tidak tahu persis arti dari bait-baitnya. Hanya saja aku tahu sedikit makna yang ingin disampaikan dari irama serta bit nadanya. Ada perasaan yang berbeda ketika aku mendengarkannya. Jika ada yang bilang, bahwa musik adalah bahasa universal, aku cukup setuju. Tanpa mengetahui liriknya, aku sudah cukup tahu musik itu sedang menggambarkan potret buram, riang atau keterombang-ambingan. Biasanya hanya beberapa bait saja yang aku tahu maknanya. Selebihnya entahlah. Aku juga tidak tahu persis alasan—selain hanya sekedar selera—kenapa aku lebih suka musik slow daripada musik dengan bit cepat, apalagi cadas ala punk. Pada yang terakhir, aku sama sekali tidak menemukan keindahan. Justru telingaku terasa sangat pekak mendengarkan musik-musik...

Wijaya Kusuma

Believe It or Not Oleh: Firdaus Putra A Satu hari di waktu pagi Ibu mengirim satu pesan singkat ke ponsel saya. Intinya, saya disuruh mencari bunga Wijaya Kusuma. Konon kata Bapak, di Pekalongan tidak ada, yakni Wijaya Kusuma dengan warna ungu atau violet. Yang ada warna putih dan pink. Kontan saja saya berpikir mistis. Pasti warna ungu atau violet ini merupakan syarat tertentu dari lelaku tertentu pula. Akhirnya, pukul delapan pagi itu juga, saya memulai pencarian si bunga mistis. Dibantu seorang teman, Ike, awalnya saya mencari ke Pasar Wage. Sebuah pasar tradisional yang relatif besar di Purwokerto. Hasilnya nihil. Kemudian kami memutuskan untuk mencari ke daerah Baturaden. Sepanjang jalan menuju Baturaden memang banyak depot-depot bunga di kanan-kiri jalan. Saya masuki satu persatu. Kurang lebih 25 sampai 30 depot bunga saya masuki. Dan hasilnya sedikit membawa harapan. Hanya ada satu depot bunga yang punya. Itupun dengan Wijaya Kusuma yang masih berkuncup kecil. Sedangka...