Langsung ke konten utama

Wijaya Kusuma


Believe It or Not
Oleh: Firdaus Putra A

Satu hari di waktu pagi Ibu mengirim satu pesan singkat ke ponsel saya. Intinya, saya disuruh mencari bunga Wijaya Kusuma. Konon kata Bapak, di Pekalongan tidak ada, yakni Wijaya Kusuma dengan warna ungu atau violet. Yang ada warna putih dan pink. Kontan saja saya berpikir mistis. Pasti warna ungu atau violet ini merupakan syarat tertentu dari lelaku tertentu pula.

Akhirnya, pukul delapan pagi itu juga, saya memulai pencarian si bunga mistis. Dibantu seorang teman, Ike, awalnya saya mencari ke Pasar Wage. Sebuah pasar tradisional yang relatif besar di Purwokerto. Hasilnya nihil. Kemudian kami memutuskan untuk mencari ke daerah Baturaden. Sepanjang jalan menuju Baturaden memang banyak depot-depot bunga di kanan-kiri jalan. Saya masuki satu persatu.

Kurang lebih 25 sampai 30 depot bunga saya masuki. Dan hasilnya sedikit membawa harapan. Hanya ada satu depot bunga yang punya. Itupun dengan Wijaya Kusuma yang masih berkuncup kecil. Sedangkan di banyak depot lain ada memang yang sudah berkuncup besar dan siap merekah. Hanya saja warnanya pink. Tentu saja tidak masuk kriteria.

Saya menjadi penasaran, apa sebenarnya khasiat dari Wijaya Kusuma. Saya temukan jawabannya di sebuah blog. Wijaya Kusuma berasal dari dua kata Jawa. Wijaya berarti “menang”, dan Kusuma berarti “bunga”. Secara sederhana bisa diartikan sebagai bunga kemenangan. Jawaban itu juga diperkuat oleh cerita para pemilik depot bunga. Bahwa Wijaya Kusuma merupakan bungan “ajaib”. Hanya orang yang beruntung saja yang dapat menyaksikan bunga itu merekah. Dan orang yang menyaksikannya akan mendapat keberuntungan.

Masih penasaran saya browsing situs lain. Dan aneka jawaban tersedia. Mitosnya bunga ini dulu kala dimiliki oleh Sri Kresna. Khasiatnya, menurut tradisi Jawa, bagi orang yang melihatnya sewaktu merekah dapat mendatangkan berkah. Berbeda lagi menurut tradisi Hindu Kuno, diyakini bunga ini dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Dan satu lagi, menurut tradisi modern-ilmiah, bunga dengan nama Latin Epiphylum Anguliger—termasuk keluarga kaktus—berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit; mengobati nyeri lambung, anti radang, penghenti pendarahan, obat batuk, obat asma dan lain-lain. Sedangkan menurut versi orang awam, ketika merekah bunga ini mengeluarkan bau harum yang luar biasa. Baunya seperti perpaduan antara bau Melati, Kamboja dan Mawar. Atau mungkin lebih harum dari ketiga campuran bunga itu.

Sore hari Bapak dan Ibu sampai di kos saya, Grendeng Purwokerto. Artinya beliau sangat serius mencari bunga ini. Dan akhirnya beliau bercerita untuk apa sebenarnya bunga Wijaya Kusuma dengan warna ungu itu.

Awal cerita bermula dari seorang teman Bapak—diberi kelebihan oleh Tuhan dalam bentuk ma’unah—yang dapat “merubah” sebatang rokok menjadi selembar uang. Bapak pun tertarik mencoba. Dan mengeluarkan satu batang Dji Sam Soe. Dan benar, rokok tersebut berubah. Hanya saja, teman tersebut kaget, tercengang menyaksikan hasil perubahannya. Bapak menjadi heran. Selidik, rokok tersebut berubah menjadi selembar uang ribuan yang sudah lusuh. Dan satu lagi, di atasnya terdapat straples yang menancap. Padahal, kata teman tersebut, tidak pernah ia “merubah” rokok menjadi uang dan hasilnya seperti itu. Biasanya rokok tersebut berubah menjadi pecahan lima puluh ribuan dan relatif bagus. Teman tersebut menjelaskan, bahwa selembar uang ribuan, lusuh dan straples yang sudah karatan menandakan bahwa saat ini usaha (ekonomi) Bapak sedang ‘dijaili’ seseorang.

Teman tersebut akhirnya menyarankan agar Bapak melakukan lelaku tertentu. Yang salah satu syaratnya adalah mencari bunga Wijaya Kusuma yang berwarna ungu. Hal ini dilakukan sebagai penangkal atas tindakan jail seseorang. Saya mulai paham alasan kenapa Bapak dan Ibu jauh-jauh dari Pekalongan ke Purwokerto untuk mencari bunga itu.

Dari pencarian itu saya menjadi tahu tentang bentuk, perbedaan, asal muasal, mitos, serta khasiat si bunga misterius. Minimalnya perjalanan yang cukup melelahkan tidak sia-sia. Pengetahuan saya melalui pengalaman kian bertambah. Dan yang jelas, saat ini saya berada di antara rasionalisme modern dan mistisisme tradisi.

Saya dibesarkan di tengah keluarga santri yang nota benenya Nahdlatul ‘Ulama, Bapak, Mbak, Mas dan saya pun pernah nyantri. Jadi, posisi saya memang senantiasa berada di antara dua tegangan itu. Saya tidak sepenuhnya percaya terhadap rasionalisme modern. Dan di sisi lain, saya juga tidak antipati terhadap mistisime tradisi.

Sampai saat ini saya masih meyakini, di dunia ini memang ada hal-hal yang tidak bisa dirasionalisasikan akal. Dan juga ada sesuatu yang harus dirasionalisasikan. Menjadi lebih arif kalau saya mengamini adagium yang sering digunakan kalangan NU, al-muhafazhah al-qadim al-shalih wa al-ahkdz bi al-jadid al-ashlah, yang artinya kurang-lebih “Memelihara sesuatu yang lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik”. Suatu kearifan pandangan/sikap yang melampaui polarisasi nalar-nalar dalam peradaban manusia. []

___________
Note:
Dalam konsep Islam, dikenal beberapa tingkatan kelebihan yang diberikan Tuhan kepada hambanya; Mu’jizat untuk nabi; Karomah untuk para auliya, wali, dan semacamnya; Ma’unah untuk orang awam; dan terakhir, kelebihan yang diberikan untuk orang jahat atau dzolim.

2/3/2008

Komentar

David mengatakan…
halo ms putra ,
sya jg png beli bunga wijayakusuma yg brwarna ungu , bisa kasi tau sya letak depot ny wkt membeli bunga wijaya kusuma tersebut ...,
coz depot ny emang banyak bgt ,
hehe..

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Pak Bi, Orang yang Mau Tahu Detail

Beberapa bulan sebelumnya, sekira empat tahun lalu, tiba-tiba saya menerima panggilan dari nomor asing. Itu lah momen pertama kali kami berkenalan. Beliau menyampaikan perlu dukungan dalam pengembangan suatu koperasi konsumsi tingkat sekunder.   Saya menyapanya dengan “Pak Bi”. Beliau orang yang mau tahu detail. Bila sedang diskusi, akan mencecar habis sampai ke akar. Itu lah yang terjadi bila kami sedang rapat di kantornya, Jakarta.   Presentasi akan dimulai saya dengan uraian konsep makronya. Lalu akan didetailkan oleh tim yang lain. Saat itu, Pak Bi dan Pak Firdaus, serta yang lain, menyimak dengan khidmat. Di tengah-tengah diskusi, beliau bisa langsung interupsi untuk bertanya atau memperjelas.   Beliau sangat teliti menyimak, sehingga kadang saya dan teman-teman merasa grogi. Tambah, secara intelektual beliau terus berpikir. Seperti suatu tempo beliau hubungi saya untuk diskusikan soal bukunya “Sistem Ekonomi Pancasila”. Saya sampaikan secara obyektif, “Konstruksi ne...