Langsung ke konten utama

White Rabbit


Oleh: Firdaus Putra A.

Kelinci putih. Bukan kelincinya Playboy lho... Foto di samping itu kelincinya teman-teman kosku. Si kelinci, entah siapa namanya, sudah lima hari terakhir tidur di salah satu kamar kos yang tidak terpakai. Namun bukan kelinci liar lho, ada salah satu teman yang membelinya.

Ada kelinci di kos, rasa kangenku dengan kucing cukup terobati. Di Purwokerto aku jarang menemukan kucing yang mau dipelihara anak kos. Atau, anak kos—termasuk aku—akan berpikir seribu kali untuk melihara kucing. Bayangkan, makanan si empunya sekedar tempe-tahu, masak si kucing makan ikan.

Nah, karena ada kelinci, akhirnya dialah yang jadi “obyek klangenan”ku. Sembari mengisi waktu luang, aku memberi makan kelinci dengan wortel, sawi putih, kubis, timun, kangkung, atau sayuran lainnya. Senang rasanya melihat cara dia makan. Mulutnya bergerak-gerak, memamah terus menerus. Sesekali aku dekatkan jariku dan dia menggigitnya. Seperti kucingku dulu yang suka menggigit lembut jari atau telapak tanganku.

Tapi, aku tetap lebih suka kucing. Bulunya lebih halus. Penurut, apalagi kalau sering dibelai. Dia juga bisa diajak bermain atau tidur bareng di kasur. Sedangkan kelinci, bulunya, meski berwarna putih, tidak sehalus kucing. Baunya apek mirip kambing, mungkin karena sama-sama makan tumbuh-tumbuhan. Tambah lagi, aku tak terlalu suka karena dia tidak bersuara. Tidak “ngik ... “, atau “ngeong ...”, atau suara lainnya. Aku jadi tak tertarik untuk mengajaknya ngobrol. Ada lagi, matanya jarang berkedip, jadi aku tak tahu sebenarnya dia sedang memandangku atau lainnya. Intinya, kelinci kurang komunikatif daripada kucing.

Sampai akhirnya, malam ini (13/08), sekitar pukul 22.30, kelinci itu mendapat musibah. Dia diterkam dan dibawa lari seekor kucing hitam. Beberapa teman tidak bisa mengejarnya. Si kucing lari ke atas genteng. Sudah bisa dipastikan, nasib naas sedang menimpanya. Ia tewas dimangsa kucing.

Seharian ini dia memang jarang di kamar. Sore tadi, pukul 19-an, aku lihat dia berada di depan kamarku. Diam sendirian, tidak makan atau aktivitas lainnya. Mungkin dia bosan di kamarnya yang pengap dan gelap. Tapi naas, sekali waktu ingin menikmati udara malam, kucing memburunya.

Berita duka itu aku sampaikan ke pacarku, Wahyu. Via SMS dia membalas, “Innalillahi ... Emang kucing doyan kelinci ya? Di rumah ade kok (kelinci) gak diapa-apain. Ah .... ade kan masih pingin mainan, ngasih makan ... gimana se ...” Aku balas SMS itu, “Mungkin aslinya dah di TO (target operasi) dari kemarin sama si kucing. Dan tadi ada kesempatan, disikat deh.” Wahyu membalas lagi, “Yah ... Tuh kucing ngeliatnya apa ya? Disangkanya tikus kali ya, apa lagi tikusnya gede ... putih lagi, udah kayak tikus bule aja. Ah ... kasian.”

Meski aku lebih suka kucing daripada kelinci, dalam kasus ini aku muak dengan kucing. Pasalnya dia sudah bertindak keterlaluan. Masak si kelinci yang masih kecil, polos dan lugu itu dia makan. Kenapa tidak mencari tikus saja. Toh masih banyak tikus-tikus di atas rumah, tempat sampah, atau selokan. Ah dasar kucing tak punya akal.

Tapi biarlah, namanya juga binatang, ya kalau tidak membunuh, ia mungkin dibunuh. Mereka tidak mengenal peri kelakuan seperti manusia. Juga tidak mempunyai konstitusi yang menjamin hak-hak hidup serta penghidupan. Atau memperoleh tunjangan sosial ketika sulit mencari makan. Ya mereka itu binatang. Binatang ya binatang, sesopan-sopannya binatang tetap binatang. Tapi, tetap saja, aku kasian sama si kelinci. []

Komentar

omoshiroi mengatakan…
tapi kini manusia sudah semakin mirip dengan binatang. mempunyai akal, tapi tidak didunakan sebagaimana mestinya.
Unknown mengatakan…
wah, sepertinya dari bahasa yang ada, bisa juga dianalogikan kepada cerita seorang manusia

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...