Langsung ke konten utama

Postingan

Diseminasi Wacana;

Sebuah Investasi untuk Masa Depan Oleh: Firdaus Putra A. Judul di atas muncul dari hasil diskusi saya dengan Agung Mahdi. Dalam satu kesempatan tertentu kami ngobrol panjang lebar terkait dengan gerakan mahasiswa. Sampai pada titik tertentu, Agung mengkritik LS Profetika (salah satu lembaga yang saya kelola), bahwa LS Profetika (selanjutnya kita singkat dengan Profetika) mengurusi masalah yang belum terlalu dibutuhkan masyarakat. Perlu diketahui, Profetika merupakan lingkar studi yang concern pada masalah sosial-agama. Berbeda dengan ormas atau gerakan mahasiswa lainnya, lembaga ini lebih berbasiskan ide dalam strategi gerakannya. Isu yang diangkat seputar masalah agama (dalam pengertian sosiologis bukan normatif), seperti pluralisme, inklusivitas, sikap berdemokrasi, nalar dalam beragama, dan lain sebagainya. Untuk itu, yang perlu diingat bahwa term sosial-agama merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat Profetika lebih mengkaji praktik-praktik kebergamaan masyara...

Bukan Sekedar Lomba

Semacam Surat Terbuka Oleh: Firdaus Putra A. “Ya, mas. Makalah dan hasil penelitianpun bisa memakai kata ganti seperti itu (Saya, Ia, Kamu, penj.). Cuma karena sifatnya yang ilmiah kata tadi lebih direduksi menjadi peneliti atau penulis. Semangat mas, perjalanan tidak berhenti di sini, perjalanan masih panjang. Barangkali kan lebih arif bila mas berkenan menerima proses ini. Mengalah untuk menang, kepuasan bukan karena kehebatan kita diketahui orang lain, tapi kepuasan adalah aksi hati karena ikhlas dalam bertindak.” Tiga lembar pesan singkat di atas dikirim oleh kawan saya, Nizar namanya. Pesan singkat sebelumnya diawali dengan “diskusi via SMS” yang saat itu saya berusaha untuk mempertanyakan hasil “Lomba Penulisan Esai 10 tahun Bersama KAMMI”. Awalnya saya menanyakan kepada Nizar, siapa yang menyeleksi esai yang masuk hingga muncul lima finalis untuk mempresentasikannya pada 30 Maret 2008 di Wisama Wijaya Kusuma Baturraden. Nizar menjawab, bahwa yang menyeleksi adalah Dewan Jur...

Analisis Pembangunan PCW

Isyarat Lampu Kuning untuk Pemda Kab. Banyumas* Oleh: Firdaus Putra A. Pembangunan PCW dan Berbagai Responnya Masalah yang sangat aktual saat ini di Purwokerto adalah pembangunan pusat perbelanjaan Purwokerto City Walk (untuk selanjutnya disingkat PCW). Menurut informasi yang ada, PCW tidak hanya menawarkan ruang-ruang belanja baru dalam konsep duko, melainkan juga arena renang (waterboom), tempat hiburan sejenis kafe, food court, iceskating, dan juga sport center[1]. Melihat apa yang ditawarkan pihak pembangun, PCW berpotensi menjadi tempat terlengkap untuk menghabiskan waktu luang masyarakat (baca: mahasiswa). Hal tersebut nampaknya telah diperhitungkan secara matang oleh pihak pembangun, yakni PT. Selindo Pilar Utama Purwokerto. Buktinya, pemilihan tempat/lokasi sebagai faktor terpenting dalam dunia usaha mendapat perhatian utama. Dalam makalahnya, DR. Restyarto Efiawan, selaku bagian pemasaran PCW mengungkapkan bahwa alasan terpenting PCW dibangun di depan Universitas Jender...

Determinisme Perspektif

Oleh: Firdaus Putra A. Tulisan ini muncul ketika saya banyak berdiskusi dengan kawan-kawan aktivis mahasiswa di kampus. Sebenarnya diskusi tersebut tidak secara langsung membahas perspektif-perspektif dalam mendekati sosial. Melainkan diskusi tersebut berangkat dari latar masalah konkret. Seperti gerakan mahasiswa dan agenda-agendanya. Perspektif dalam judul atau tulisan ini saya artikan sebagai pilihan sudut pandang yang kemudian secara teknis pilihan pisau analisis yang digunakan seseorang dalam menyingkap suatu permasalahan. Dalam ilmu sosial perspektif yang saya maksud bisa disamakan dengan pengertian metodologi. Sehingga tulisan ini, jika dalam tradisi ilmu sosial, maka akan masuk dalam rumpun methodenstreit atau perdebatan metodologi. Dan tidak sedikit saya jumpai bahwa aktivis mahasiswa terjebak pada determinisme perspektif atau sudut pandang. Seperti yang akan saya ilustrasikan di bagian ini. delapan atau sepuluh tahun yang lalu Indonesia pernah mengalami konflik yang be...

Kantong Plastik

Sebuah Ancaman Jangka Panjang Oleh: Firdaus Putra A. Fakta ini saya temukan melalui kawan-kawan Korps Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) FISIP UNSOED. Saat ini mereka tengah gencar melakukan kampanye daur ulang (reduce, recycle, and reuse) kantong plastik (plastic bag). Cukup mencengangkan, karena saya baru tahu kalau satu kantong plastik, yang tebalnya sepersekian milimeter, membutuhkan waktu urai 1000 tahun. Artinya, seluruh kantong plastik yang “lahir” di tahun 2000 akan “mati” pada kisaran tahun 3000. Memang, kematian mereka sebenarnya bisa dipercepat layaknya euthanasia bagi manusia. Sekurang-kurangnya dengan jalan mendaur ulang dengan teknologi insinerator. Hanya saja teknologi tersebut masih terbilang mahal karena infrastrukturnya yang besar dan lengkap. Harian Kompas (28 Maret 2008), juga menulis tentang bahaya limbah plastik ini. Sri Bebassari, Ketua Umum Asosiasi Persampahan Indonesia, dalam harian tersebut menyatakan bahwa sampah plastik yang ada seharusnya tidak bisa kita ...

Karikatur Muhammad

Jangan Sampai Menjadi Pelengkap Penderita Oleh: Firdaus Putra A. Sedikitnya dua kali peristiwa semacam ini terjadi, tepatnya pada tahun 2006 dan 2008. Hebohnya, pada kejadian yang terakhir, Pemerintah Jerman tidak segan-segan memberikan izin kepada lebih dari 20 media massa untuk memuat karikatur Nabi Muhammad. Sebuah kebijakan yang kontroversial, minimalnya bagi masyarakat Islam. Masih sama seperti pada tahun 2006, alasan pembuatan dan pemuatan berlindung dibalik logika kebebasan bereskpresi yang dijunjung tinggi dalam demokrasi. Sayangnya, kebebasan berekspresi tersebut secara de facto telah menyinggung kelompok tertentu, dalam hal ini adalah masyarakat Islam. Tidak terkecuali masyarakat Islam di Indonesia. Beberapa ormas Islam di tanah air secara intensif melakukan penggugatan. Dari cara sederhana, melalui aksi massa, penyebaran leaflet, pernyataan sikap lewat millist, sampai pada aksi boikot produk yang berasal dari negara tertentu. Dan sebagian ormas yang lain nampaknya ti...

Puisi Rupa Made Wianta

Oleh: Firdaus Putra A. Di rak buku saya bertambah enam koleksi lagi, salah satunya Kitab Suci Digantung di Pinggir Jalan New York . Satu buku karangan Made Wianta, seorang perupa seni asal Bali. Buku tersebut merupakan antologi puisi Made. Menengok judulnya, saya dibuat penasaran. Saya baca satu persatu secara acak beberapa puisi. Jujur, saya bingung. Bingung karena tak pernah paham puisi tersebut berkisah atau bercerita tentang apa. Saya nukilkan satu puisi dari buku tersebut; hilang sudah menarik napas terpenggal mungkin saja jari mencari aba-aba sekian juta pori-pori hendak merdeka (2003: 224) Puisi tersebut ditulis tanpa judul. Hanya tanggal, yakni 27 September 2001. Tidak hanya pada puisi di atas, pada yang lain saya juga bingung. Untungnya halaman akhir, ada beberapa esai dari kritikus atau pengamat sastra yang memberikan ulasan terkait dengan karya Made Wianta. Salah satunya Sindhunata. Menurutnya, puisi Made Wianta tergolong abstrak. Made berangkat dari kegeli...