Langsung ke konten utama

Postingan

Rindu

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah lebih dari dua minggu kami berjauhan. Sesekali kami bertemu, saat ia menunaikan tugas sehubungan dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Atau suatu waktu saya menjenguknya ke Bobotsari, tempatnya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sudah beberapa hari terakhir saya memasang fotonya sebagai wallpaper di ponsel. Padahal ini jarang bahkan tak pernah saya lakukan. Memasang foto kekasih di wallpaper bagi saya terlalu ekspresif; bisa jadi sepasang kekasih yang baru merajut kisah atau bisa pula posesivitas yang berlebihan. Beberapa hari terakhir rasa itu tak terbendung. Tepatnya setelah sehari saya menjenguknya. Ingin rasanya bersua dan bersama sepanjang hari. Cinta Lokasi atau “Cinlok” tak terlalu menghantui pikiran saya. Pasalnya, kebetulan sekali kelompok KKN Wahyu memperoleh DPL Bu Rini. Konon kata Wahyu, di awal pertemuan kelompok dengan DPL, Bu Rini mengatakan kepada teman kelompoknya untuk jangan coba-coba mendekati Wahyu. “Masalahnya saya kenal pacarnya. Dan ...

4 K

Oleh: Firdaus Putra A. Seorang teman melabeli saya sebagai inisiator-motivator. Label itu ia lekatkan pada aktivitas saya sebagai blogger. Mungkin sudah lebih dari 20 orang yang saya provokasi untuk nge-blog. Sejurus dengan itu, saya provokasi juga mereka untuk senantiasa menulis. Mengingat kekuatan blog dan alasan adanya blog bagi kebanyakan orang adalah untuk mempublikasikan karyanya, tulisan merupakan salah satu bentuknya. Dalam beberapa kesempatan saya katakan bahwa membuat blog itu mudah. Dibutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk memiliki akun blog tertentu. Dan dibutuhkan kurang dari 30 menit untuk meracik blog baru itu sampai layak tampil. Dan dibutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk membuat tampilan blog baru itu menjadi eye catching. Namun, dibutuhkan waktu yang sangat dan sangat lama untuk membuat blog kita tetap up to date, menarik, berpesan dan berkesan. Nah, itulah dakwah yang saya lakukan dalam dunia per-blog-an. Merangsang orang agar mau menulis. Kemudian m...

Ill Feel

Oleh: Firdaus Putra A. Malam itu (10/2) sehabis pulang dari kampus ekonomi, saya mengisi perut di warung hik pertigaan Jl. Madrani. Ada seorang laki-laki yang sedang menikmati rokok. Dan saat saya datang, ada seorang perempuan (mungkin 20an tahun) yang sedang menerima telepon. Di sebelahnya ada seorang laki-laki yang nampak menunggu si perempuan. Ia duduk di jok motor, bukan di bangku panjang. Saya makan sebungkus nasi kucing berikut mendoan. Sembari ngobrol dengan si pemilik, saya sruput jahe susu panas. Beberapa saat si perempuan ngobrol dengan si laki-laki di atas motor. Sedang membahas pacar yang tak mau diputus. Ia bercerita, meski pelan, namun saya tetap bisa mendengar dengan jelas. Tak berapa lama, si pemilik warung menawarkan, “Ta LA masih ada neh”. Entah Ita, Nita, atau Mita, perempuan itu disapa pemilik warung. Dia hanya menjawab, “Enggak lah beh (mungkin babeh maksudnya) jangan rokok ah”. Tak berapa lama, perempuan itu memanggil sepasang lelaki yang berkendara melinta...

Sawang-sinawang

Oleh: Firdaus Putra A. Frasa ini saya peroleh dari seorang teller salah satu bank di Purwokerto. Saat itu saya sedang mengantri beserta puluhan mahasiswa lainnya untuk membayar SPP. Hari itu tanggal 3 Januari adalah H-1 mendekati masa akhir pembayaran. Selebihnya, terhitung tanggal 5 Januari, mahasiswa akan dikenakan denda sebesar 0,3% dari besaran SPP. Tak heran hari itu antrian panjang seperti enam bulan-enam bulan yang lalu. Itulah momen tak menyenangkan yang senantiasa disesaki mahasiswa, termasuk saya. Anehnya, tetap saja sebagian besar mahasiswa memilih membayar di akhir jatuh tempo sebelum pengenaan denda. Padahal masa pembayaran SPP biasanya dibuka selama satu bulan penuh. Siang itu saya datang pukul satu siang sehabis waktu istirahat. Saya tumpuk Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) di atas tumpukan lainnya. Tumpukan KTM saya taksir setinggi lima sampai tujuh senti. Dari pada borring, saya tinggalkan antrian untuk makan siang dan nongkrong sejenak di Warteg depan kampus FISIP. K...

Terimakasih

Oleh: Firdaus Putra A. Saat kita merasa berhutang budi pada seseorang maka akan kita balas dengan terimakasih. Ia bisa berupa ucapan, “Terimakasih!” atau bisa dalam rupa lain. Dalam rupa ucapan, terimakasih melampaui batas formal-informal. Di kantor kita bisa bilang terimakasih kepada teman sejawat, pimpinan, atau karyawan di bawah kita. Di luar kantor kita bisa ucapkan ke tukang parkir, penjual soto, tukang semir sepatu dan seterusnya. Berbeda dengan ucapan, terimakasih dalam rupa benda atau barang bisa disalahpahami. Cobalah sampaikan rasa terimakasih kita pada seorang pimpinan karena promosi yang kita peroleh, pastilah kita bisa dituduh sedang menyuap atau menjilat. Coba pula sampaikan rasa terimakasih kepada seorang akuntan publik yang telah bersusah payah mengaudit harta benda kita, tentu saja kita disangka kolusi. Nah yang paling cair di antara semuanya adalah ucapan. Ia tidak menaruh tendensi macam-macam. Ia lahir dari penginsyafan bahwa ada orang lain yang telah membantu...

Friend Find Desire

Oleh: Firdaus Putra A. Siapa yang tak kenal beberapa forum seperti Friendster, Hi5, Facebook, Yuwie, Adultfriendfinder, Indonesian Single, dan seterusnya? Saya yakin kita sebagai orang yang akrab dengan dunia maya mengantongi setidaknya satu akun (account) di antara beberapa forum di atas. Banyaknya provider yang menyediakan berbagai layanan social cyber network menunjukan tingkat sosialitas masyarakat dunia maya yang tinggi. Adanya fasilitas “Find friend” merupakan ekspresi dari keingingan untuk saling menyapa satu sama lain, meski awalnya tak saling kenal. Hasrat untuk mencari teman itu begitu meluap. Bahkan sampai beberapa teman saya terlihat lebih mengejar kuantitas teman daripada kualitas pertemanan. Yang paling sederhana bisa kita kenali dengan mudahnya untuk meng-add dan meng-approve satu sama lain. Meskipun pada akhirnya, di kemudian hari saling sapa dan saling bincang relatif jarang. Meski demikian, banyaknya kuantitas tetap saja bermanfaat. Sekurang-kurangnya bagi y...

Cyber Chat

Oleh: Firdaus Putra A. Dua minggu terakhir saya sangat akrab dengan aktivitas chat di ruang maya. Biasanya saya gunakan Yahoo Messenger untuk bergaul dengan teman-teman lintas kota-lintas negara. Saya pilih aktivitas ini untuk menyelingi aktivitas surfing-browsing, up-loading, downloading, posting, lay-outing, editing, entah Facebook, blog, Friendster, e-mail, dan seterusnya. Selingan ini saya rasa cukup bermanfaat. Ya, sekurang-kurangnya saya tidak terhisap oleh logika mekanis laptop yang diam tak berasa-tak berekspresi. Dengan chat di ruang tertentu, saya tetap bisa aktif dengan senda gurau, saling sapa, tukar informasi, tukar pengalaman, tukar Facebook-Friendster, dan sebagainya. Meski tubuh saya dalam keadaan diam, saya tetap merasa mobile kemana-mana. Lihatlah saya terbang dari Yogyakarta ke Jakarta, Bali, Batam, Bandung, lalu ke Singapura, Amerika, India, Filipina, Inggris, dan belahan dunia lainnya. Saat terbang ke negara-negara lain saya siapkan dua sampai tiga kamus dig...