Langsung ke konten utama

Postingan

Cabe Kakus

Oleh: Firdaus Putra A. Melihat foto ini Anda sedang tidak berpikir kan kalau saya yang menanam cabe itu? Memang benar, saya dan teman-teman penghuni kos lainnya tak pernah menanam pohon itu. Pohon cabe itu sudah beberapa bulan tumbuh subur tanpa gangguan di kayu rangka pintu salah satu kakus kos saya. Hebatnya, pohon itu berbuah dengan ranum. Saya hitung ada delapan buah cabe ijo segar bergelantungan dengan bebas. Mari kita imajinasikan, bagaimana kiranya si pohon bisa mangkal di kayu rangka pintu kakus kos saya. Sekenario pertama, seorang teman cuci tangan di kran air dekat kakus sehabis menikmati makanan bersambal. Saat itu ada sebiji cabe yang nyelip di sela-sela jari. Air yang cukup kencang melempar si biji itu dan mendarat tepat di kayu itu. Ini masuk akal, bukan? Atau sekenario kedua, seorang teman berkumur-kumur lantaran kepedasan sambal cabe ijo. Tanpa sengaja atau karena memang jorok, ia memuntahkan air kumuran itu ke kayu rangka pintu kakus itu. Dibantu sisa makanan da...

Pringgolayan

Oleh: Firdaus Putra A. Rumah itu cukup, cukup kecil. Ukurannya hanya 3 x 4 meter. Di lantai pertama perkakas masak, bumbu dapur, pakaian kotor, almari makan, gelas-piring, dan berbagai barang lainnya tertata tak begitu rapih. Di pojok ruangan, dekat pintu, ada sekat dinding membentuk bidang L yang nampak seperti “kamar mandi”. Tidak ada daun pintunya. Bidang L itu barangkali hanya berukuran 50 x 50 cm. Ada tumpukan piring-mangkok kotor. Juga rendaman pakaian di ember kecil serta air di dua ember kecil. Dinding ruangan itu belum disemen. Terlihat jelas kotak-kotak batu bata nan merah. Beberapa sisinya terpasang poster atau kalender caleg-caleg daerah Solo. Sedang atapnya, adalah kayu papan yang ditata berjajar setinggi, mungkin, dua meter. Di sudut ruang terlihat anak tangga permanen dari balok-papan kayu. Tangga itu menuju lantai dua. Di lantai dua inilah bidang papan yang berjajar berubah menjadi lantai. Di atasnya kasur atau yang pasti alas tidur berikut bantal dan selimut ber...

Riset dan Hipnotis

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang saya berpikir jahil. Misal, bukankah apa yang dikehendaki dari riset lapangan adalah sebuah jawaban yang jujur? Dengan jawaban jujur dari responden ini, maka realitas bisa terbaca dan terpetakan secara utuh. Jawaban jujur dari responden menjadi basis fundamen dari sebuah riset itu sendiri. Dalam rangka memperoleh jawaban-jawaban itu, disusunlah sebuah metode riset yang ketat. Ada uji validitas dengan berbagai cara; sumber, metode, peneliti. Atau triangulasi dari berbagai segi atau momentum. Riset kurang-lebihnya nampak sebagai cara untuk “menginterogasi” dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar. Nah, pikiran jahil saya bermula dari hal itu. Jika benar riset dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar dari jawaban-jawaban responden, mengapa tidak digunakan saja pendekatan hipnotis. Saya belum pernah merasakan dihipnotis. Hanya saja, menurut berbagai informasi seseorang yang dihipnotis dengan sendirinya akan berkata jujur. Apa-apa yang ada di...

Rindu

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah lebih dari dua minggu kami berjauhan. Sesekali kami bertemu, saat ia menunaikan tugas sehubungan dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Atau suatu waktu saya menjenguknya ke Bobotsari, tempatnya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sudah beberapa hari terakhir saya memasang fotonya sebagai wallpaper di ponsel. Padahal ini jarang bahkan tak pernah saya lakukan. Memasang foto kekasih di wallpaper bagi saya terlalu ekspresif; bisa jadi sepasang kekasih yang baru merajut kisah atau bisa pula posesivitas yang berlebihan. Beberapa hari terakhir rasa itu tak terbendung. Tepatnya setelah sehari saya menjenguknya. Ingin rasanya bersua dan bersama sepanjang hari. Cinta Lokasi atau “Cinlok” tak terlalu menghantui pikiran saya. Pasalnya, kebetulan sekali kelompok KKN Wahyu memperoleh DPL Bu Rini. Konon kata Wahyu, di awal pertemuan kelompok dengan DPL, Bu Rini mengatakan kepada teman kelompoknya untuk jangan coba-coba mendekati Wahyu. “Masalahnya saya kenal pacarnya. Dan ...

4 K

Oleh: Firdaus Putra A. Seorang teman melabeli saya sebagai inisiator-motivator. Label itu ia lekatkan pada aktivitas saya sebagai blogger. Mungkin sudah lebih dari 20 orang yang saya provokasi untuk nge-blog. Sejurus dengan itu, saya provokasi juga mereka untuk senantiasa menulis. Mengingat kekuatan blog dan alasan adanya blog bagi kebanyakan orang adalah untuk mempublikasikan karyanya, tulisan merupakan salah satu bentuknya. Dalam beberapa kesempatan saya katakan bahwa membuat blog itu mudah. Dibutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk memiliki akun blog tertentu. Dan dibutuhkan kurang dari 30 menit untuk meracik blog baru itu sampai layak tampil. Dan dibutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk membuat tampilan blog baru itu menjadi eye catching. Namun, dibutuhkan waktu yang sangat dan sangat lama untuk membuat blog kita tetap up to date, menarik, berpesan dan berkesan. Nah, itulah dakwah yang saya lakukan dalam dunia per-blog-an. Merangsang orang agar mau menulis. Kemudian m...

Ill Feel

Oleh: Firdaus Putra A. Malam itu (10/2) sehabis pulang dari kampus ekonomi, saya mengisi perut di warung hik pertigaan Jl. Madrani. Ada seorang laki-laki yang sedang menikmati rokok. Dan saat saya datang, ada seorang perempuan (mungkin 20an tahun) yang sedang menerima telepon. Di sebelahnya ada seorang laki-laki yang nampak menunggu si perempuan. Ia duduk di jok motor, bukan di bangku panjang. Saya makan sebungkus nasi kucing berikut mendoan. Sembari ngobrol dengan si pemilik, saya sruput jahe susu panas. Beberapa saat si perempuan ngobrol dengan si laki-laki di atas motor. Sedang membahas pacar yang tak mau diputus. Ia bercerita, meski pelan, namun saya tetap bisa mendengar dengan jelas. Tak berapa lama, si pemilik warung menawarkan, “Ta LA masih ada neh”. Entah Ita, Nita, atau Mita, perempuan itu disapa pemilik warung. Dia hanya menjawab, “Enggak lah beh (mungkin babeh maksudnya) jangan rokok ah”. Tak berapa lama, perempuan itu memanggil sepasang lelaki yang berkendara melinta...

Sawang-sinawang

Oleh: Firdaus Putra A. Frasa ini saya peroleh dari seorang teller salah satu bank di Purwokerto. Saat itu saya sedang mengantri beserta puluhan mahasiswa lainnya untuk membayar SPP. Hari itu tanggal 3 Januari adalah H-1 mendekati masa akhir pembayaran. Selebihnya, terhitung tanggal 5 Januari, mahasiswa akan dikenakan denda sebesar 0,3% dari besaran SPP. Tak heran hari itu antrian panjang seperti enam bulan-enam bulan yang lalu. Itulah momen tak menyenangkan yang senantiasa disesaki mahasiswa, termasuk saya. Anehnya, tetap saja sebagian besar mahasiswa memilih membayar di akhir jatuh tempo sebelum pengenaan denda. Padahal masa pembayaran SPP biasanya dibuka selama satu bulan penuh. Siang itu saya datang pukul satu siang sehabis waktu istirahat. Saya tumpuk Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) di atas tumpukan lainnya. Tumpukan KTM saya taksir setinggi lima sampai tujuh senti. Dari pada borring, saya tinggalkan antrian untuk makan siang dan nongkrong sejenak di Warteg depan kampus FISIP. K...