Langsung ke konten utama

Postingan

Jam Malam yang Menghambat

Oleh: Firdaus Putra A. Secara kultural sulit bagi mahasiswi (perempuan) menyetarai aktivitas/ pengalaman mahasiswa (laki-laki). Lihat saja, pada pukul sembilan malam, mereka sudah harus kembali ke kos/ pondokan/ asrama. Melebihi jam itu, pintu terkunci dan bersiaplah menanggung resiko. Tanggal 23 November yang lalu, saya menyelenggarakan diskusi hingga larut malam. Pukul 23.30 diskusi tentang “Koperasi dan Modal Sosial” itu selesai. Akhirnya, Wahyu, tidak memperoleh pintu masuk. Dia hubungi beberapa teman, hasilnya nihil. Dengan baik Kang Suroto mempersilahkan Wahyu tidur di tempatnya, Perumahan Teluk, bersama adiknya Lastri. Untuk sampai ke sana, Wahyu memesan satu taksi di depan Unsoed. Itulah sepenggal cerita jam malam bagi mahasiswi yang menurut saya menghambat mereka. Bandingkan dengan saya (laki-laki) yang pulang jam berapapun adalah sah. Entah untuk diskusi, ngobrol ngalor-ngidul, internetan di hotspot kampus, mengikuti pembekalan tertentu, dan seterusnya. Tidak ada hambat...

Bekerja di Koperasi

Oleh: Firdaus Putra A. IPK saya tidak terlalu kecil, 3,79. Kecerdasan saya juga tidak buruk-buruk amat. Sekurang-kurangnya pada 2006, saya memperoleh penghargaan Mahasiswa Berprestasi I se-FISIP dan III se-UNSOED. Aktivitas saya juga lumayan. Pada awal 2009 saya memperoleh Youngchangemaker Award dari Ashoka Indonesia – Bandung. Lantas, banyak teman bertanya mengapa saya bekerja di koperasi? Tepatnya di Koperasi Kampus UNSOED (Kopkun), bukannya di lembaga yang lain? Banyak orang menganggap koperasi itu hanya mengelola toko kelontong, simpan-pinjam dan sebagainya. Memang tidak sepenuhnya salah. Namun, hanya memaknai koperasi sebagai itu saja, adalah salah. Citra koperasi semacam itu muncul di zaman Orde Baru. Koperasi adalah unit usaha kecil yang tidak akan pernah besar. Itupun diperparah dengan koperasi yang hanya mengurus kalangan menengah-bawah saja. Citra koperasi semacam ini yang membuat banyak teman saya bertanya, “Kok bisa kamu kerja di sana?” Koperasi sejatinya asosiasi suk...

Akal Budi dalam Situasi yang Dilematis

Oleh: Firdaus Putra A. Perasaan seperti ini membuat saya tak nyaman. Awalnya Wahyu mengirim pesan, “Mas bisa beliin obat deman dan sakit kepala ga?”. SMS itu pukul sembilan malam. Saat itu saya sedang makan dan perut mulai mual karena maag. Saya balas, “Kalau bisa minta bantuan teman kos dulu”. Namun nafsu makan saya juga tak membaik. Nasi, mie goreng dan telur dadar hanya beberapa sendok saya makan. Sisanya saya berikan pada tanah dan berbagai makhluk renik lainnya. Perasaan itu menyergap. Saya merasa tidak nyaman telah menolak permintaan (yang cukup genting) pacar saya. Ada semacam tuntutan naluriah untuk mempertanggungjawabkan tindakan itu. Saya kirim SMS ke tiga teman perempuan, “Pertanyaan. Malam-malam jam 9an kamu demam. Kamu butuh obat. Siapa yang akan kamu mintai tolong? 1. Pacar 2. Teman kos. Jawab ya, serius”. Teman A menjawab, “Pacar”. Menyusul kemudian teman B, “Teman kos, karena cowokku jauh dan teman kos paling dekat sama aku saat ini”. Sedang teman C membalas saat sa...

Pidato Pemakaman Nan Membosankan

Oleh: Firdaus Putra A. “Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya. Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan. Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Ek...

Inilah “Gaya Krikitiuw”

Oleh: Firdaus Putra A. “Krikitiuw…!”, seru Rangga menirukan Sule dalam lakon Opera van Java. Bersweater Che Guevara, Rangga tampak kontras dengan Fakhri yang berkaos Bart Simpson. Siang itu, tampilan dua anak belia ini terlihat mencolok di antara kerumunan belasan anak-anak SMA RHS, Megamendung Bogor. Rangga dan Fakhri sedang menjalani hukuman. Rangga lebih suka sweater Che-nya ketimbang kaos biru-hijau-putih, seragam olahraga sekolahnya. Kalau Fakhri lebih suka Bart Simpson. “Makanya dijemur”, kata Rangga. Meski memakainya, ia tak tahu siapa sebenarnya si Comandante itu. “Itu kan penyanyi?”, tegasnya dengan mata berbinar. Seperti halnya Fakhri, ia tak tahu siapa ikon Bart Simpson. Hal itu membuat Penulis merasa geli. Rangga dan Fakhri adalah remaja yang hidup di kawasan Megamendung. Daerah yang hanya beberapa kilometer sebelum Puncak Bogor. Di akhir pekan, jalur itu dipadati warga Jakarta yang berlibur. Wajarlah, mereka tidak memahami ikon-ikon itu. Mereka hidup di kawas...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...

“Menjadi Indonesia” Bersama Masyarakat*

Oleh: Firdaus Putra A. I Tesis bahwa mahasiswa berada pada menara gading perguruan tinggi sudah lama kita dengar. Meskipun ia berada di tengah masyarakat, namun sedikit sekali mahasiswa yang mampu hidup bersama masyarakat. Terlebih lagi bagi mahasiswa pendatang yang kos di wilayah tertentu. Pola relasi lebih terlihat semata ekonomis daripada kemanusiaan yang murni. Ilustrasi berikut ini akan menggenapkan tesis menara gading tersebut. Suatu ketika seorang teman membutuhkan palu dan tang untuk membenahi kamar kosnya. Alih-alih meminjam perlengkapan itu di tetangga sekitar, yang bersangkutan lebih memilih menggunakan batu terinspirasi manusia purba dulu kala. Ironisnya, selisih satu rumah ada tetangga yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia enggan meminjam palu dan tang bukan lantaran khawatir mengganggu, melainkan malu karena tidak mengenal beliau. Ilustrasi semacam ini pernah terjadi di Gang Kutilang, Grendeng , Purwokerto[1]. Lain waktu, beberapa tahun sebelumnya ada seorang mahasi...