Langsung ke konten utama

Postingan

TPS di SMS, Perubahan di Genggaman

Strategi Baru Meningkatkan Partisipasi Mahasiswa dalam Pemira BEM Melalui SMS  Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Gagasan ini berambisi mempermudah penyaluran hak pilih mahasiswa dalam Pemira BEM hanya dengan “Ketik A (spasi) B (spasi) C kirim ke: 085647788XXX”. Tiga tahun lalu saya sempat menawarkan ide “Pemira Goes to Class”. Ide ini untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam Pemira BEM. Meski tujuannya sama, berbeda dengan itu, gagasan kali ini membasiskan diri pada penggunaan teknologi, khususnya ponsel. Seperti para pegiat kampus ketahui, tingkat partisipasi mahasiswa dalam Pemira BEM tidak pernah mencapai 50% dari seluruh mahasiswa. Kasus semacam ini terjadi berulang kali di Pemira BEM tingkat fakultas atau tingkat universitas di Unsoed Purwokerto. Pertanyaannya, mengapa tingkat partisipasi mahasiswa dalam Pemira cenderung rendah? Satu penjelasan yang sampai sekarang saya yakini, mahasiswa pada umumnya menganggap Pemira BEM bukan dunianya. Politik kampus adalah...

Ada Apa dengan Ekspresi Berkesenian Kita?

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Sebuah ajakan untuk lebih jujur, polos dan spontan. Mari menari bersama! Ada struktur tak kasat mata yang mengkonstruksi kita, “Bahwa joget relatif berkonotasi buruk, daripada baik”. Ada suatu tembok yang menghalangi kita membayangkan, “Perlunya mengadakan pesta kostum saat ulang tahun”. Dan dalam konteks itu, secara umum ada semacam conciousness blocking yang kita alami, hingga kita tak pernah memikirkan, membayangkan bahkan melakukan itu semua. Yang saya maksud dengan itu semua adalah suatu praktik berkesenian massal. Yang menempatkan diri kita sebagai subyek, bukan sekedar penonton suatu pagelaran, misalnya tarian, jogetan atau sejenisnya. Dan selama ini, kita hanya diposisikan sebagai penonton belaka dari apa yang saya sebutkan.

Vietnam, Kota yang Lusuh (Bagian 3 dari 3)

Oleh: Firdaus Putra Vietnam, perjalanan terpanjang yang pernah saya lakukan. Saya dan Mas Rahab menempuh paling tidak 24 jam melalui darat. Kami berangkat dari Lao pakai Sleeping Bus. Bus seperti ini kali pertama saya lihat. Tempat duduk itu memanjang dan jadilah tempat tidur. Sayangnya fasilitas bus ini tak selengkap NCA. Tiket dijual 240 ribu kip atau 25$. Sebelumnya kami cek pesawat, Vientien-Hanoi, terpaut 132$, tentu angka yang signifikan, bukan? Sebagian besar penumpang adalah penduduk lokal Lao atau Vietnam. Hanya ada 8 turis asing, dua di antaranya adalah kami. Kami duduk dekat dengan mereka semua. Lelaki depan kami dari Irish Island, part of UK. Di depannya ada Mira dan temannya, sarjana bisnis dari Frankfurt, Jerman. Sedang sebelah kami, laki-laki dan perempuan, dari Australia. Saya tak yakin mereka couple, karena tak terlihat romantika mereka berdua. Lalu di belakang kami ada tiga pemuda Chili.

Laos, Mekong yang Kering (Bagian 2 dari 3)

 Oleh: Firdaus Putra Melalui jalur darat bersembilan kami jalan-jalan ke Laos. Awalnya kami rencanakan berangkat dengan bus pagi pukul 07.00. Saya, Soim dan Mas Rahab sudah berkemas dan siap landas. Sayangnya, teman-teman cewek belum siap. Akhirnya kami ketinggalan bus. Untungnya ada bus siang hari. Menariknya, saat itu sedang ada perayaan tertentu, jalan raya padat dan macet. Taksi kami tak bisa gerak. Seperti di film-film, kami turun dari taksi dan jalan kaki menuju terminal bus. Dengan jalan cepat akhirnya sampai dan syukurlah, bus belum pergi. Bus yang kami tumpangi rada jorok. Kurang menarik untuk dikatakan sebagai bus antar kota antar negara. Pukul sembilan malam kami sampai di Vientien dengan sebelumnya check in di keimigrasian. Kalau tak salah ingat kami keluarkan 30 ribu kip untuk sebagai biaya administrasi over time . Tidak ketat dan biasa saja. Sesampai terminal bus Vientien, langsung cari hotel. Syukur lah dapat hotel kelas melati dengan biaya terjangkau....

Thailand, Dini Hari Ramai (Bagian 1 dari 3)

Oleh: Firdaus Putra Kami mendarat di Thailand jam 10 pagi hari. Tak banyak selisih waktu dengan Indonesia. Serombongan kami ada Soim, Mas Rahab, Vita, Fani, Yuyun dan Dyah. Apa yang kami lakukan pertama kali di bandara yang besar itu adalah mencari simcard untuk ponsel. Syukurlah ada paket BB senilai 250 bath atau 70 ribu untuk 7 hari. Saya ambil paket itu. Lalu kami makan siang di salah satu restoran di bandara Bangkok. Dan lanjutkan perjalanan ke terminal bus untuk menuju ke Khonkaen. Tak banyak kendala selain bahasa. Bukan kami yang tak bisa berbahasa, melainkan driver taksi dan beberapa pelayan itu yang tak bisa bahasa Inggris. Jam empat kami lanjutkan perjalanan pakai bus. Nakon Chair Air, namanya. Harga tiketnya kurang-lebih 150 ribu rupiah. Dan itu setimpal dengan fasilitasnya: teve tiap kursi, stick game, kursi pijat, snack, susu dan makan berat. Enam jam Bangkok-Khonkaen jadi tak terasa dengan pelayanan yang bagus itu. Di Khonkaen, salah satu ibu kota provinsi di...

Ihwal Romantis

Oleh: Firdaus Putra Akan kukisahkan padamu seperti apa itu romantis. Kucatat manuskrip ini di bawah pengaruh Ode To Joy dan Fur Elise -nya Beethoven. Kuputar keras-keras pada earphone hingga penuhi gendang telinga dan seluruh memoriku. Dan sayangnya, aku tetap gagal rangkai metafor untuk sebuah puisi. Aku lebih bisa berpanjang-lebar dalam kata. Kuakui saat mencatat ini aku betul-betul mabuk kepayang. Ya … sebuah momen ekstase tentang perasaan yang tak terpermanai itu. Rasa yang begitu membahagiakan, hingga aku bisa lupakan segala ihwal. Rasa yang membuncah begitu saja. Dan tangan ini, hanya ikuti aliran rasa itu. Aku bisa rasakan sesyahdu apa Beethoven saat pimpin orkestra mainkan Ode To Joy . Kusaksikan, dalam film itu, dikawal Anna Holtz (Diane Kruger), matanya memejam-membuka ikuti gerak Holtz. Dan tangan itu, begitu lincah menjulur-julurkan tongkat konduktor. Di panggung itu, di depan ribuan mata, ia begitu agung. Aku lebih suka memadukan ihwal romantis pada ...

Joyeux Anniversarie: 900 Words For You

Oleh: Firdaus Putra Saya mulai sadar tentang hari ulang tahun ketika SMP dulu kala. Sebelumnya tak pernah ada ucapan atau perayaan khusus. Tentu berbeda dengan yang sedari kecil ulang tahunnya senantiasa dirayakan keluarga. Dan semuanya mengarah pada makna bahwa perayaan ulang tahun merupakan momen sosial, bukan individual. Adanya perayaan mengandaikan adanya orang lain. Saya jadi ingat film Into The Wild. Film berdasar kisah nyata ini berakhir tragis. Kisah ini tentang seorang pemuda broken home . Ia tinggalkan keluarganya, melakukan petualangan, bermukim dari satu ke komunitas yang lain. Sampai akhirnya ia merasa perlu hidup di Alaska untuk mencari makna hidup. Di Alaska, hutan itu, ia hidup sendirian di dalam mobil karavan yang lama ditinggal pemiliknya. Berbekal peralatan survival ia bertahan. Hari-harinya ia isi dengan membaca buku dan menulis diary. Dan suatu ketika ia sakit. Sendirian di tengah hutan ia cari tumbuhan yang bisa ia makan. Naasnya, ia salah mem...