Langsung ke konten utama

Postingan

Dimensi Keempat

Oleh: Firdaus Putra, HC. Albert Einstein mulai bicara soal dimensi keempat saat merumuskan Teori Relativitas Khusus (1905). Kemudian ada ilmuwan lain, PD. Ouspensky merilis buku The Fourth Dimension empat tahun setelahnya. Ambillah kubus kayu, rabalah; Ia punya sisi panjang, lebar dan isi. Kubus kayu itu kita sebut tiga dimensi. Lihatlah sebuah foto; Ia hanya punya sisi panjang dan lebar saja. Foto itu kita sebut dua dimensi. Buatlah satu titik; Ia hanya punya satu dimensi. Lantas apa itu dimensi keempat? Dimensi keempat merupakan penambahan dari wujud tiga dimensi dengan satu dimensi tertentu. Mari kita tengok kembali ihwal kubus kayu. Kita lupa satu hal, bahwa saat meraba kubus, kita berada dalam waktu tertentu. Dan itulah dimensi keempat: waktu. Bayangkanlah kita sedang di dalam ruang tunggu. Saat berada di ruang tunggu itu, pasti kita juga sedang berada dalam waktu tertentu: pagi, siang atau malam. Sulit membayangkan berada dalam ruang tanpa konteks waktu. Alhasil,...

Joker Seorang Anarkis?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Sebagian para pengulas Batman: The Dark Knight melabeli Joker sebagai sosok anarkis. Dalam salah satu dialog, Joker (Heath Ledger) bilang, “Introduce a little anarchy, you upset the established order and everything becomes chaos. I’m an agent of chaos”. Joker menyebut dirinya sebagai aktor pengacau yang akan menyuguhkan sedikit anarkisme dan membalik segala yang mapan di kota Gotham. Jadi, adakah Joker seorang Anarkis, dalam makna penganut faham anarkisme? Film besutan Christopher Nolan tahun 2008 itu benar-benar fenomenal. Selain soal keuntungan yang diraupnya mencapai 1 milyar dollar, film ini juga banyak dikaji secara politik. Beberapa ilmuwan politik Youngjeen Choe, Vincent M. Gaine, John Ip dan masih banyak lainnya, mengaitkan film ini dengan kondisi dan kebijakan Amerika Serikat pasca 9/11. Ada pola yang sama antara apa yang dilakukan Batman dengan George W. Bush dalam melawan kejahatan/ terorisme. Tak berhenti pada pemeran protagonis, tok...

Konsumsi Sosial: Pemenuhan Motif Egoistik dan Altruistik Konsumen

Oleh: Firdaus Putra, HC. “It is not from the benevolence of the butcher, the brewer or the baker that we expect our dinner, but from their regard to their own interest” – Adam Smith. Nalar Fundamen Bangunan ekonomi kita selama ini selalu terilhami pernyataan Adam Smith di atas. Yang dapat kita terjemahkan, “Bukan karena kebaikan hati tukang hati, bir atau tukang roti yang kita harap menyediakan makan malam kita, tetapi karena kepedulian mereka pada kepentingan dirinya sendiri”. Dalam bukunya The Wealth of Nations , Smith mengungkapkan bahwa motif mengejar keuntungan pribadi itulah yang menggerakkan ekonomi. Bukan sebaliknya, motif untuk berbuat baik kepada orang lain. Pada tahap pertama, Smith tidak salah, pernyataannya itu hanya sekedar refleksi terhadap kondisi masyarakat. Sedang pada tahap kedua, pernyataan itu lambat-laun menjadi doktrin yang nampak menjadi pembenar bahwa segala ihwal adalah melulu kepentingan pribadi ( self interest ). Alhasil, dunia ini dipe...

Homo Cooperativus: Melampaui Negara dan Pasar, Menyongsong Era Komunitas

Oleh: Firdaus Putra, HC. *** (Penulis adalah Manajer Organisasi Koperasi Konsumen Kopkun dan Pengurus HIPMI Kab. Banyumas Kompartemen Kewirausahaan Sosial) Aktor Masa Depan Siapa aktor utama penggerak sosial ekonomi masa mendatang? Ini adalah pertanyaan kunci Abad 21 dimana kita hidup hari ini. Sejarah manusia telah melewati beberapa babak sejarah: pada Abad 15 dunia mulai mengenal embrio negara-bangsa ( nation state ). Pada abad itu penjelajahan antar samudera dimulai. Kemudian pada Abad 19 mulailah abad industri. Pada abad ini penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan pasar. Sebutlah mesin uap, pesawat, radio dan penemuan-penemuan lainnya. Elinor Ostrom, penerima Nobel dalam bidang ekonomi tahun 2009, memberi isyarat bahwa komunitas adalah aktor masa depan. Dalam bukunya The Future of the Commons: Beyond Market Failure and Government Regulation (2012) ia menggambarkan bagaimana negara dan pasar telah gagal dalam...

The Different of Java: Membayangkan City Branding Banyumas

Oleh: Firdaus Putra, HC. *** Penulis adalah Koordinator Banyumas Inspirasi,  Pengurus HIPMI Kompartemen Kewirausahaan Sosial BPC Banyumas. Sekedar Logo dan Moto? Bicara soal city branding persolannya tak sesederhana logo dan moto. City branding adalah proses berkelanjutan bagaimana membangun citra kota melalui beragam instrumen. Instrumen itu bisa melalui sarana pra sarana kota, masyarakat, ekspresi kebudayaan, transportasi, destinasi wisata bahkan soal pidato pemimpin daerahnya. Alhasil city branding adalah kerja padu dari semua unsur: pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat. Kompleksitas kerja itu membuat pembangunan city branding bukan mimpi semalam. Di kota-kota lain, misalnya Yogyakarta, Solo, Pekalongan dan lainnya, proses city branding makan waktu satu tahun lamanya. Proses city branding biasanya diawali dengan riset yang mendalam. Targetnya memetakan potensi kota baik yang nampak atau tak nampak, posisi kota di antara kota lain, akar sejarah kota, e...