Langsung ke konten utama

Sepotong Keyboard


Oleh: Firdaus Putra A.

30 April, malam hari, kemarahan membuat saya memukul dan meremukan keyboard. Tanpa keyboard, rasa sepi menghinggapi diri. Pasalnya, keyboard baru tidak kunjung datang lantaran si kantong, kosong. Lebih menyiksa, beberapa hari terakhir ide-ide berseliweran di kepala. Rasanya benar-benar tidak mengenakan. Komputer tetap bisa nyala, akan tetapi tidak bisa untuk mengetik.

Saya coba meminjam komputer teman kos. Hanya saja konsentrasi tidak saya dapatkan. Otak buntu, ide macet. Malam itu saya uring-uringan. Rasanya seperti sedang birahi dan ingin sekali melakukan onani. Agar semua ide keluar dan orgasme kebebasan terjadi.

Saya masih menunggu sampai lusa. Menunggu uang yang rencananya akan masuk ke kantong. Hanya saja, karena bertepatan dengan Hari Pendidikan, kantor administrasi tidak melayani seperti biasanya. Karyawan sedang sibuk mengikuti lomba-lomba dalam rangka memperingati hari besar itu. Saya pun gigit jari.

Baru hari ini, 4 Mei saya bisa membeli keyboard. Lega rasanya. Jari jemari rasanya menemukan teman bermain. Tuts-tuts saya sentuh dan entah mengetik apa. Jari-jari tangan saya menemukan media pembebasan. Otak saya merasa lega dan terbebaskan. Empat tulisan lahir.

Lambat laun saya sadari komputer melahirkan kecanduan/adiksi. Parahnya, tanpa komputer saya tidak bisa membuahkan tulisan satu pun. Kebiasaan menulis dengan pena dan kertas sudah lama saya tinggalkan. Saya menjadi ketergantungan dengan komputer.

Kasus keyboard membuat saya benar-benar gelisah. Saya khawatir bilamana pintu kebebasan saya, justru baru bisa terbuka dengan kunci teknologi. Keyboard adalah salah satunya. Saya khawatir bilamana kebebasan saya ternyata tergantung pada permainan jari di atas tuts-tuts keyboard. Tanpa keyboard, semuanya lenyap, beku dan melayang.

Hari ini saya mengetik dengan keyboard baru. Ada rasa yang aneh. Rasanya tidak seperti keyboard yang dulu sudah menemani dua tahun. Keyboard baru ini demikian keras. Beberapa kali jari saya menyentuh tuts huruf yang tak tepat. Padahal, dengan keyboard yang dulu, salah ketik dari salah pencet tuts relatif sedikit.

Meskipun saat ini saya tetap bisa mengetik tanpa melihat keyboard, hanya saja kecepatan mengetik menjadi turun. Saya menyesal telah memukul dan meremukan keyboard lama itu.

Hari-hari ke depan saya hanya berharap, kapan keyboard baru ini secepatnya menjadi lama? Kapan pula jari jemari saya mampu bersahabat dengan keyboard baru itu? Yang jelas, beberapa kali salah pencet huruf, membuat saya tidak nyaman. Dan juga, tuts yang keras membuat ujung jari tidak enak.

Bila memungkinkan, saya ingin keyboard lama itu kembali. Menemani dengan setia, baik siang pun malam. Jujur, saya rindu pada keyboard lama. []

04/05/2008

Komentar

Anonim mengatakan…
Lhaa??? ada apa kok sampe meremukkan keyboard? kabar mu baikkah??

keindahan terasa saat semua itu hilang. karena cita sepertinya harus benar-benar dimiliki. tanpa itu semua juga hanya angan dan melayan tak karuan....

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...