Langsung ke konten utama

Romansa Cyber

Oleh: Firdaus Putra A.

Kembali lagi saya posting soal buku. Berbeda dengan dua buku yang lalu, buku ini relatif lebih tipis dan renyah. Judul panjangnya “Romansa Cyber, Lika-liku Hubungan Romantis di Internet”. Buku yang ditulis oleh Yayan Sopyan ini saya kira berangkat dari observasi langsung. Isinya secara umum seperti judulnya, lika-liku romansa atau kisah cinta di internet. Penulis mengawali dengan sebuah dialog (dengan pembacanya), “Namaku Sadasa Bara. Panggil aku dasabara”. Gaya penulisannya laiknya sebuah novel yang mengalir, mungkin seperti Dunia Shopie, namun lebih renyah buku ini.

Secara bulat buku ini dibagi menjadi 18 bagian. Setiap bagian penulis eksplor secara runtut-tuntas-bernas. Menariknya, pada setiap ulasan penulis langsung memberikan contoh atau ilustrasi situasi yang mungkin terjadi. Hingga pantas saja kalau kita klaim buku ini sebagai guid saat beromansa di dunia lain, dunia maya.

Pada bagian awal ia menulis soal “Dunia yang Lain, Dunia yang (Agak) Berbeda”. Ia menerangkan pokok internet berikut perkembangannya. Bagian ini masih berlanjut pada bagian “ Dari Mana Semuanya ini Bermula?” yang mengekplorasi lebih jauh soal teknologi komunikasi dalam internet dengan studi kasus mIRC.

Bagian tiga ia memblejeti karakteristik internet, yakni “Anonimitas dan Pencitraan Diri”. Bahwa di internet, seseorang bisa menyembunyikan Idnya atau bahkan menampilkan Id lain sesuai kehendakanya. Selain itu, setiap orang di internet akan mencitrakan dirinya sesuai keinginannya. Dengan garis bawah pada “citra” yakni sekedar penampakan luar.

Pada bab-bab berikutnya, ia memulai diskusi romansa cyber dengan memantik pada pangkal yang paling sensitif, “Batas Kejujuran”. Ya, internet meski melibas jarak antara satu user dengan lainnya, namun tetap saja masih menyisakan penghalang di antara keduanya sehingga sulit mengetahui tentang kejujuran seseorang. Bagian selanjutnya nampaknya lebih sebagai solusi terhadap limitasi kejujuran di internet, ia menulis “Bermain Aman”.

Pada beberapa bagian yang lain ia menulis soal “Emosi dalam Teks”. Eksplorasi penulis sampai pada kesimpulan bahwa teks merupakan perantara paling signifikan dalam romansa cyber. Sampai akhirnya manusia menemukan emoticon (emotion icon) yang tersusun pula melalui teks-teks tertentu. Misal :x, :-|, :-/, dan seterusnya. Eksplorasi ini berlanjut pada masalah “Typing is Convincing, Reading is Believing” bahwa, katanya “mengetikan pesan adalah meyakinkan lawan bicaramu dan karena kau membacanya maka kau mempercayainya. Setidaknya, kedua hal itulah yang menjadi asumsi dasar yang bisa dipegang orang ketika berkomunikasi dalam pergaulan cyber. Tentu, pada gilirannya orang harus menguji asumsi-asumsi itu: benarkah apa yang sedang diyakinkan padaku itu? Benarkah apa yang kubaca itu?”

Paling tidak beberapa pokok di atas merupakan inti sari dari romansa cyber yang di bedah dalam buku ini. Kemudian penulis melanjutkan elaborasi idenya pada “Cybersex” yang merupakan perpanjangan dari romansa cyber. Implikasi romansa cyber yang ia tulis pada bagian “S” untuk Selingkuh”.

Menjelang akhir, penulis memberi nasehat bilamana persiapan sebelum “kopi darat” dengan lawan bicara yang sebelumnya hanya dikenal dalam chat room. Pada bagian ini banyak tips-trik agar setiap orang tidak terjebak atau celaka saat mengalami romansa yang demikian ini. Karena Yayan yakin, di luar sana selain manusia yang baik dan jujur, ada juga sebagian yang jahat dan sengaja ingin mengambil untung dari diri kita. Maka, secara umum penulis buku ini ingin menyampaikan “jangan takut pada romansa cyber, kita cukup hati-hati dan waspada saja!’.

Pada halaman paling akhir penulis menyusun sebuah “kamus” atau “glosarium” yang memuat cara membuat emoticon serta singkatan dan bahasa slank di internet. Meski buku ini tipis, saya kira banyak manfaat yang bisa kita peroleh. Bagaimana, Anda pernah atau justru sedang mengalami romansa cyber? Kalau iya, saya undang Anda bercerita lebih jauh pada halaman komentar di bawah ini. []

PS: Buku ini diterbitkan oleh GagasMedia – Jakarta, Oktober 2003. Saya beli di Mall Malioboro seharga Rp. 5000 saat sedang bazar buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...