Langsung ke konten utama

Postingan

Berbagi Tempat Tinggal

Oleh: Firdos Putra A. Mulai beberapa minggu yang lalu kamarku terisi enam nyawa. Mau tak mau aku harus berbagi tempat tinggal dengannya. Meskipun kadang aku merasa risih, tempat privasiku menjadi berkurang. Apa lagi saat aku ingin istirahat, mereka menggangguku dengan suara gaduh. Lebih dari itu, aroma tak sedap pun sering mereka keluarkan. Kemarin (3 November 2007) aku pindahkan mereka ke kamar kosong. Aku berikan selimut seadanya. Tapi, nyatanya pagi hari tadi mereka pindah lagi ke kamarku. Ah, betapa sulitnya perilaku mereka. Empat kucing kecil yang baru berukuran setelapak tanganku, dan satu ibu kucing. Pagi itu aku terbangun karena beberapa kali di atap kamarku si ibu kucing melompat dan mendarat di asbes. Bruk! Dua kali. Artinya, dua ekor anaknya sudah dimigrasikan lagi. Kembali ke habitatnya, kembali ke atap kamarku. Aku tidak habis pikir, kenapa si ibu tidak mau menempati kamar kosong yang aku sediakan? Terbangun dari tidurku pagi tadi, aku merenung, apa yang ibu kucing p...

Nadia, Shasha, Donat, Entrhee

Oleh: Firdos Putra A. Seharian aku di luar kota, Banjarnegara. Berangkat dari Purwokerto sekitar jam sembilan pagi. Meskipun rencana awal rombongan akan berangkat pukul 07.30. Tapi karena kita hidup di Indonesia, akhirnya waktu yang molor menjadi semacam kewajaran. Atau pun, memang kita sudah menyediakan toleransi beberapa jam untuk mundur. Keberangkatanku ke Banjarnegara bukan dalam rangka liburan, melainkan dalam rangka menunaikan ‘tugas suci’, yakni mempererat tali silaturrahmi. Dulu, aku dan rombongan pernah Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sana. Tepatnya di sebuah desa yang unik, Kandang Wangi. Dulu kala, konon katanya ada seorang Putri yang terdesak dalam sebuah pengejaran. Lantas ia memasuki sebuah wilayah, atau lebih tepatnya lagi ‘terkandang’ di wilayah itu. Putri itu lantas menjadi tokoh panutan. Terbentuklah sebuah desa dengan nama Kandang dan karena Putri, lantas ekspresi Wangi dimunculkan sebagai pertanda keperempuanan. Seperti juga Goenawan Mohammad menyebut perempuan penu...

Aku, Amerika dan Green Card Lottery [GCL]

Oleh: Firdos Putra A. Sebagai sosiolog, aku tidak kekurangan referensi tentang Amerika berikut cerita hitam yang melingkupinya. Mulai dari infansi Amerika ke Irak yang menurutku melanggar cita-cita perdamaian dunia, isu terorisme yang sengaja dihembuskan sebagai bentuk religiofication insecurity dunia, negara adidaya yang interventif terhadap kebijakan dalam negeri negara lain, atau kepongahan yang rapuh ketika WTC ternyata dapat ditabrak oleh pesawat secara sengaja. Dan seringkali aku mengkritik Amerika terkait dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Yang aneh, pernah suatu ketika seorang teman bertanya, "Menurutmu negara mana yang paling hebat?" Jawabku, "Amerika, terlepas dari segala kekurangannya". Sistem jaminan sosial yang mencukupi, lihat saja di film-film Hollywood, jika kita merasa terusik dengan tingkah tetangga sebelah, kita cukup men-dial 911—anehnya saya lebih hafal 911 daripada 110—beberapa menit kemudian, LAPD, NYPD, atau kepolisian negara...

Aku dan Black Bibble

Oleh: Firdos Putra A. Seperti sebagian kos cowok lainnya, sirkulasi compac disk (CD) film biru di kosku juga lumayan marak. Mungkin di kos lah setiap cowok seperti aku menemukan keleluasaan untuk menjelma sebagai bad boy. Tidak seperti di rumah, yang aku kira relatif ketat. Pernah suatu malam di rumah, aku memutar film American Pie 5, kebetulan sampai pada adegan naked miles-nya. Kebetulan juga keponakanku lewat—karena posisi televisi berada di ruang tengah—kontan membuatku kaget, dan kupercepat adeg an itu. Namun, tetap saja malu. Sedangkan di kos, aku bisa seleluasa mungkin, dengan komputer bututku yang kadang ngadat satu film aku putar. Black Bibble, aku dapatkan dari teman kos ku yang rajin meng-up date perkembangan perbiruan film. Menurutku Black Bibble adalah klimaks dari imajinasi seseorang tentang kesempurnaan telanjangnya tubuh manusia. Tidak ada yang kurang, payudara besar, kuning bahkan semu putih, pubis yang putih kekuning-kuningan, otot kemaluan yang menonjol, tidak ad...

Aku, Tukul dan Empat Mata

Oleh: Firdos Putra A. Banyak perbedaan antara aku dan Tukul. Aku pernah menyaksikan acaranya di salah stasiun televisi swasta. Sedang Tukul belum pernah menyaksikan ketika aku memimpin diskusi atau orasi. Tukul gak ganteng-ganteng amat, minimalnya semua pemirsa Empat Mata setuju. Sedangkan aku, cukup ganteng, minimalnya pacarku setuju. Tukul sok tolol, sok lugu. Sedang aku, sok narsis, sok tahu. Dan bla bla bla ... Beberapa kali aku tonton Tukul di Empat Mata, aku heran kenapa ratingnya begitu tinggi? Sampai-sampai seorang temanku mengambilnya sebagai bahan skripsi. Apa karena gigi tonggosnya? Padahal lebih tonggos si Boneng di Warkop DKI. Apa mungkin karena ketololan, keluguannya? Kalau iya, mengapa orang banyak begitu terpesona dengan ketololan dan keluguannya? Dengan caci makinya, dengan bahasa tubuhnya? Dan sebagainya. Seperti Inul Daratista, Tukul meroket hanya dalam hitungan bulan. Inul sempat masuk di pemberitaan TIMES, majalah kaliber internasional. Sedang Tukul pernah un...

Seekor Kucing Cemani

Oleh: Firdaus Putra A. I SUATU malam, saya lupa kapan tepatnya, ketika berkunjung ke kosan pacar, kompleks Sumampir, saya bertemu dengan seekor kucing berbulu hitam utuh. Mungkin jika ia adalah ayam, ia akan disebut dengan ayam cemani. Ayam yang bulu, kulit dan matanya hitam semua. Tidak jadi soal saya kira untuk menyebut si kucing dengan sebutan kucing cemani. Seperti biasa, saya berjalan berdua menyusuri jalanan Sumampir. Tepat di dekat kosan pacar, sesekor kucing cemani sedang me-ngeong-ngeong. Saya kaget. Ada kucing ternyata di rerimbunan tanaman Melati. Tapi, kenapa terus me-ngeong? Ternyata ia diikat oleh siempunya di depan rumah. Diikat pas di lingkar panggulnya. Ikatan a la Cowboy, paham maksud saya? Ikatan, ketika kita meronta atau melawannya, ikatan itu akan semakin kencang melilit tubuh kita. seperti itulah si kucing cemani diikat. Tidak salah jika ia me-ngeong. Pasti sakit rasanya. Pasti ngilu panggulnya, daerah selangkangan atau kelaminnya. Kami berhenti sejenak, me...

Spätmodernismus

Oleh: Firdaus Putra A. Pukul 11:14 di bawah pohon Akasia Seperti biasa hari begitu terik. Sun block yang aku pakai tetap saja sama, tidak mampu menghalau sengatan ultra violet yang menusuk keras ke kulit ku. Sedari tadi aku tertegun melihat kanak-kanak bermain di tengah terik tanpa mengindahkan kemungkinan terburuk. Lihat lah, mereka aysik sekali bermain ayunan. Seperti masa kecilku dulu. Anak-anak belia itu mungkin belum tahu tentang panasnya matahari yang bisa menghanguskan kulit mulusnya. Juga belum tahu suatu ketika akan menemukan kesulitan saat mereka menginjak dewasa. Ya … seperti aku ini. Hari ini aku termenung sendiri, di tengah taman kota yang hampir gersang. Hanya tiga pohon Akasia besar yang ada. Dengan dedaunan yang mulai berguguran. Termasuk satu pohon di mana aku berteduh untuk menghindarkan screen Black Berry-ku terkena cahaya langsung. Tiba-tiba, PDA-ku berbunyi. Satu panggilan via VOIP. Dari siapa gerangan? Aku terima. "Ya Nel, emmm.... aku masih di Indone...