Langsung ke konten utama

Postingan

Warteg Depan FISIP

Oleh: Firdaus Putra A. Warung itu terletak tepat di depan kampus FISIP UNSOED. Dari tahun 1993 secara fisik tidak banyak mengalami perubahan. Masih sama, dinding penuh tempelan pamflet. Kayu yang lusuh. Atap bagian dalam yang juga tak putih terang. Untuk sebagian orang warung itu sekedar tempat makan, ngopi dan nongkrong. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai ruang publik nan mencerahkan. Warteg depan FISIP tercatat sebagai saksi hidup dinamika gerakan mahasiswa, aktivis LSM, pegiat komunitas indie, band indie, aktivis parpol, wartawan di Purwokerto. Dari sana juga berbagai gagasan dan aksi perubahan lahir. Di lain sisi, sudah tak terbilang puluhan aktivis, anggota dewan, wartawan dan seterusnya juga lahir dari sana. Warung itu bukan sekedar warung makan. Ia, warteg, sudah menjadi ruang publik, ruang milik bersama yang mempertemukan berbagai komunitas di Purwokerto. Ia, warteg, telah melibas batas-batas yang ada. Ia, warteg, juga telah melampaui generasi. Hari Jum’at malam ...

Melati Jaya Giri

Oleh: Firdaus Putra A. “Melati dari Jaya Giri …” bolak-balik aku putar tembang kenangan itu. Aku punya kesan yang dalam khusus pada “Jaya Giri”. Aku belum pernah ke sana. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu dalam dan seakan sudah mengenalnya. Setelah sekian lama mencarinya, aku peroleh lagu ini dari dosenku, Pak Rawuh. Katanya beliau punya banyak koleksi tembang-tembang kenangan. Dia sendiri putar lagu itu dengan piringan hitam. Wow … benar-benar klasik. Sedang laguku ini, sudah di MP3-kan. Tapi kesan klasik itu masih tersisa. Suara musik yang sangat sederhana dengan aransemen yang juga sederhana. Pada masalah lagu, aku mungkin tergolong orang yang konservatif. Meski banyak lagu-lagu berganti dalam genre pop, belum ada yang menandingi kesan tembang kenangan. Memang, aku anak zaman pop. Hanya saja aku dibesarkan di tengah bapak-ibu yang demen tembang kenangan. Aku masih ingat, dulu saban hari ibuku memutar “Gelas-gelas Kaca”, “Teluk Bayur”, “Hitam-Putih Potomu” dan lainnya. ...

Golongan Putih

Oleh: Firdaus Putra A. Beruntunglah klaim “Golongan Putih” (Golput). Ia tidak terkena logika oposisi biner. Justru, ia membalik logika itu. Putih menjadi tak sama dengan memilih. Hitam sama dengan tidak memilih. Namun, di tahap berikutnya, ia belum selamat. Oposisi biner masih saja beroperasi. Golput sama dengan tidak memilih-tidak mencontreng. Dan yang mencontreng, sama dengan memilih. Padahal, tidak memilih pun adalah pilihan. Itu semestinya. Ia juga belum selamat, Golput sama dengan pengecut, juga pecundang. Golput menjadi segolongan yang berpangku tangan. Ia tak turut menentukan. Lagi-lagi ia tak selamat, menyontreng sama dengan warga negara yang baik. Golput adalah warga negara yang tak baik. Itulah kontestasi wacana yang tengah diadu di ruang publik. Berbagai rasionalisasi mengalir deras, baik dari pro-Golput, lebih-lebih kontra-Golput. Tak kurang-kurang, otoritas agama bermain tangan dengan fatwa kontra-Golput. Golput menjadi segolongan yang “dihajar” dari sana-sini. Seca...

Sebelum Keliling Dunia

Dear Gita ... Gita aku sudah menerima suratmu seminggu yang lalu. Hanya saja karena aktivitas yang cukup padat, aku belum selesai merumuskan jawaban yang tepat untukmu. Dan hari ini, tanggal 9 April 2009 saat seluruh masyarakat Indonesia tengah merayakan pesta demokrasi, aku punya waktu luang untuk berpikir. Setelah aku baca, ada dua hal yang bisa aku sarikan dari suratmu, pertama pertanyaanmu tentang “Romantisisme Kritis” dan terakhir tentang kesiapanku untuk ke Belanda. Gita, seringkali kita sebagai masyarakat modern hidup dalam logika oposisi biner. Pada tanggal 9 April yang lalu, warga Indonesia yang baik adalah yang menyalurkan hak pilihnya. Dengan logika oposisi biner, maka yang tidak menyalurkan hak pilih menjadi warga negara yang tidak baik, kurang lebih seperti itu. Lihat saja, sebagian masyarakat mengecap Golongan Putih (Golput) sebagai orang yang pengecut atau pecundang. Padahal, kalau mau adil, tidak memilih pun merupakan pilihan. Dan sayangnya, logika seperti ini masi...

Tetap Perlu Keliling Dunia

Dear, Sahabatku Gita Aku sudah terima dan baca surat balasanmu. Aku yakin sesaat kamu terima suratku, kamu pasti langsung menjajagi tulisan peserta lain yang ikut program itu . Gita, aku memahami betul kekhawatiranmu. Ya, kamu pasti khawatir adanya sindrom “amnesia sejarah”, “rendah diri” dan “silau” pada negeri Belanda oleh peserta program. Aku pun berpikir sama. Dalam kajianku, Sosiologi, inilah mentalitas masyarakat poskolonial. Sebuah sikap masyarakat yang pernah mengalami penjajahan. Meski penjajahan itu sudah berakhir cukup lama, lebih dari 60 tahun yang lalu, namun bekas-bekasnya masih tersisa di relung-relung jiwa masyarakat. Dan ironisnya, seperti yang kamu tulis, sindrom itu lekat pada generasi kita, generasi yang sebenarnya tak mengalami sejarah kelam itu. Tak perlulah aku keliling dunia, biarkan ku di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena ku tak mau jauh darimu. Dunia boleh tertawa, melihat ku bahagia. Walau di tempat yang kau anggap tak biasa. Gita yang mani...

Tak Perlu Keliling Dunia

Dear Gita Gutawa, Kapur putih yang pucat, terasa penuh warna. Dan kelak ia enggan datang pun berpinang. Kertas putih yang pudar, tertulis seribu kata. Dan kuungkap semua yang sedang kurasa. Dengarkanlah kata hatiku, bahwa ku ingin untuk tetap di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, biarkan ku di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena ku tak mau jauh darimu. Dunia boleh tertawa, melihat ku bahagia. Walau di tempat yang kau anggap tak biasa. Biarkanlah aku bernyanyi, berlari, berputar, menari di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena kau di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, kaulah segalanya bagiku di dunia. Sahabatku Gita, pandanganmu masih saja sama seperti beberapa tahun yang lalu. Kamu benar-benar sosok yang romantis. Kamu sangat pandai menghayati masa lalu. Namun, Gita apakah kamu yakin akan senantiasa hidup dalam lingkaran itu? Gita yang baik, hari ini aku juga kamu hidup di zaman yang oleh para Sosiolog sebut era modern. Masa dimana bumi semakin menyempi...

Ayam Kampus

Oleh: Firdaus Putra A. Apa yang bisa dilakukan internet? Yang saya temukan adalah blow-up atau eksploitasi terhadap mereka. Tadi siang (25/03) tak sengaja saya masuk ke sebuah blog. URL blog itu semirip “Jakarta Undercover”. Namun, tentu saja bukan “Jakarta”, melainkan nama sebuah universitas di Purwokerto. Dalam halaman maya itu ada lima nama berikut ciri-ciri fisik, hobi, dan berbagai hal tentang “si ayam”. Satu nomor saya cek masih aktif. Si empunya menerima, perempuan. Dan si empunya tak menyangkal nama yang saya sapakan kepadanya. Secara refleks ia mengamini. Artinya nomor berikut nama adalah benar adanya. Temuan nomor dan nama non-fiksi ini tak terlalu merisaukan. Justru, saya bertanya-tanya, siapa gerangan yang dengan sengaja menyantumkan nomor ponsel berikut nama si empunya dalam halaman maya yang tak senonoh itu. Dalam tulisan ini saya memang sedang tidak memedulikan adanya “ayam kampus” di universitas itu. Ada dua sekenario yang saya susun melihat temuan itu. Perta...