Langsung ke konten utama

Postingan

Pidato Pemakaman Nan Membosankan

Oleh: Firdaus Putra A. “Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya. Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan. Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Ek...

Inilah “Gaya Krikitiuw”

Oleh: Firdaus Putra A. “Krikitiuw…!”, seru Rangga menirukan Sule dalam lakon Opera van Java. Bersweater Che Guevara, Rangga tampak kontras dengan Fakhri yang berkaos Bart Simpson. Siang itu, tampilan dua anak belia ini terlihat mencolok di antara kerumunan belasan anak-anak SMA RHS, Megamendung Bogor. Rangga dan Fakhri sedang menjalani hukuman. Rangga lebih suka sweater Che-nya ketimbang kaos biru-hijau-putih, seragam olahraga sekolahnya. Kalau Fakhri lebih suka Bart Simpson. “Makanya dijemur”, kata Rangga. Meski memakainya, ia tak tahu siapa sebenarnya si Comandante itu. “Itu kan penyanyi?”, tegasnya dengan mata berbinar. Seperti halnya Fakhri, ia tak tahu siapa ikon Bart Simpson. Hal itu membuat Penulis merasa geli. Rangga dan Fakhri adalah remaja yang hidup di kawasan Megamendung. Daerah yang hanya beberapa kilometer sebelum Puncak Bogor. Di akhir pekan, jalur itu dipadati warga Jakarta yang berlibur. Wajarlah, mereka tidak memahami ikon-ikon itu. Mereka hidup di kawas...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...

“Menjadi Indonesia” Bersama Masyarakat*

Oleh: Firdaus Putra A. I Tesis bahwa mahasiswa berada pada menara gading perguruan tinggi sudah lama kita dengar. Meskipun ia berada di tengah masyarakat, namun sedikit sekali mahasiswa yang mampu hidup bersama masyarakat. Terlebih lagi bagi mahasiswa pendatang yang kos di wilayah tertentu. Pola relasi lebih terlihat semata ekonomis daripada kemanusiaan yang murni. Ilustrasi berikut ini akan menggenapkan tesis menara gading tersebut. Suatu ketika seorang teman membutuhkan palu dan tang untuk membenahi kamar kosnya. Alih-alih meminjam perlengkapan itu di tetangga sekitar, yang bersangkutan lebih memilih menggunakan batu terinspirasi manusia purba dulu kala. Ironisnya, selisih satu rumah ada tetangga yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia enggan meminjam palu dan tang bukan lantaran khawatir mengganggu, melainkan malu karena tidak mengenal beliau. Ilustrasi semacam ini pernah terjadi di Gang Kutilang, Grendeng , Purwokerto[1]. Lain waktu, beberapa tahun sebelumnya ada seorang mahasi...

Menculik “Si Bintang Porno” Miyabi

Oleh: Firdaus Putra A. Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno. Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture —rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja...

My Next Dream and the Omens

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang sesuatu yang remeh membuat hidup atau pandangan kita berubah. Beberapa bulan yang lalu saya habiskan buku antologi cerpen Jumpha Lahiri yang berjudul “Interpreter of Maladise” atau Penerjemah Luka. Salah satu daya tarik cerpen itu terletak pada kekuatan narasi yang detail, dan sederhana. Cerpen itu tak menyuguhkan narasi yang jauh dan muluk, tapi realitas yang dekat dan terjamah. Sehingga meski seting seluru cerita berada di Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya, saya sebagai pembaca di Indonesia bisa mengimajinasikan bagaimana detail peristiwanya. Menurut saya, cerpen ini ditulis dari sudut pandang seorang imigran yang mengalami keterasingan hidup di rimba modernitas. Sebagian kisahnya berakhir dengan pilu dan pesimistik. Lantas apa hubungannya dengan “mimpi saya selanjutnya” seperti pada judul di atas? Selama mendekati masa lulus, saya tak pernah bermimpi untuk melanjutkan studi S2. Tentu saja alasan klise, masalah biaya. Rencana yang sudah saya ...

Melacak Pengunjung Blog

Oleh: Firdaus Putra A. “Ya ampun, Des! Aku disini dah jerit-jerit sambil ngacak-ngacak rambut kayak orang gila. Aku sih ga butuh cara ngelabui, toh aku GA BAKAL baca-baca blognya lagi. Tapi aku butuh cara biar dia ga tahu aku selama ini pembaca setia blognya. Adooh, blo’on banget sumpah, Des. Aku dari kemarin-kemarin pingin tanya ini ke kamu, tapi lupa terus. Aku pikir blog ga ada fitur aneh kayak gitu. Des, what should i do?” received 23-Sept-2009 12:41. Lalu kubalas pesan panjang itu, “Hahaha. Tahu ga, aku ketawa bayangin kamu jerit-jerit dan ngacak-ngacak rambut. Tenang aja, live traffic feed paling enak dibaca pas hari itu-today. Kalo sudah akumulasi, hanya berisi rating judul yang sering dibaca orang. Artinya jejak kamu akan tertutup oleh jejak-jejak pengunjung lainnya. Tenang aja Nad, jatuh cinta ga dilarang kok!”. Jadi begini ceritanya, temanku sebut saja Miss Donad tertarik dengan seseorang. Nah si Donad ini setiap kali mengunjungi facebook “si pangeran kodok”, ia juga me...