Langsung ke konten utama

Postingan

Mediokrat-mediokrat Baru

Membedakan Istilah Pegiat dan Aktivis Kampus Oleh: Firdaus Putra A. Setiap zaman melahirkan anak zamannya masing-masing. Setiap kampus, melahirkan aktivisnya masing-masing. Seleksi alam dengan berbagai lika-likunya, melahirkan aktivis yang tahan banting-tahan uji. Dalam konteks kampus, tempaan serta ujian itu terlihat bagaimana seorang aktivis beradaptasi, bertahan dan berproses dalam kegiatan kampus: bakat-minat, respon terhadap kebijakan universitas dan juga respon terhadap kebijakan negara. Dua belas semester saya hidup menjadi mahasiswa. Berada di tengah-tengah bersama para pegiat dan aktivis lainnya. Mengawali coretan ini, saya akan membedakan dua term yang menurut saya berbeda meski bisa digunakan secara tumpang tindih: pegiat kampus dan aktivis kampus. Pegiat kampus merupakan mahasiswa yang menyemarakkan kehidupan kampus dengan berbagai kegiatan, baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Menurut saya, nalar yang ada di pegiat kampus ada...

Esai yang Memikat seperti Lemon Tea

Oleh: Firdaus Putra A. “Hidup yang tak diperiksa, adalah hidup yang tak pantas didiami”. (Socrates) Mungkin benar apa kata Socrates di atas, “Hidup yang tak diperiksa-dipikirkan, adalah sebuah kehidupan yang tak pantas didiami”. Inilah tradisi yang dikembangkan kaum shopis Yunani dulu. Bagaimana realitas yang sempat mampir perlu, bahkan harus, diperiksa-dipikirkan agar tak sekedar lewat tanpa bekas. Apapun itu! Memeriksa-memikirkan kehidupan sejatinya adalah bagaimana mendayagunakan akal-budi manusia untuk memahami realitas/ peristiwa. Sedangkan seorang penulis bak “Sembari belanja, menyegarkan mata di mall”. Sembari berpikir, ia menuliskan buah pikirannya itu. Dua aktivitas terlampaui dalam sebuah aktivitas yang padat energi dan makna. Sepintas tentang Menulis Pada mulanya menulis esai itu adalah rasa gelisah. Gelisah terhadap apa yang dicerap si penulis. Entah realitas faktual atau imajiner. Realitas itu kemudian ditanya atau dipertanyakan, “Kok begitu se?”. Sederhananya, p...

Unlimited Power: Sebuah Revolusi Energi

Oleh: Firdaus Putra A. Dulu saya tak pernah membayangkan adanya sumber energi “abadi” semacam ini. Jikalau terbayang, hanyalah dalam dongeng Iron Man atau pesawat luar angkasa berbahan bakar nuklir. Itu dulu! Sebut saja Denny Prianto, lulusan STM di Purwokerto yang gemar berselancar dan belajar dari dunia internet menemukan fakta bahwa ada sumber energi abadi yang bersih dan murah. Tentu saja bersih dan murah dibanding dengan nuklir yang beresiko tinggi. Tiga hari yang lalu Denny mempresentasikan hasil penelitiannya itu di ruang Barak Kopkun . Mudahnya, kita sebut dengan generator listrik berbasis magnet. Memang gagasan Denny tidaklah baru. Ia peroleh dari situs perusahaan Lutec – Australia . Namun yang menarik adalah usaha dia untuk menelaah dan mencoba temuan Lutec tersebut bersama teman-temannya. Ia menjelaskan, “Cara kerja alat ini sangat sederhana, yakni berdasar prinsip bahwa kutub magnet sejenis akan tolak-menolak dan sebaliknya. Efek tolak-menolak itu yang jika kita kelo...

Jam Malam yang Menghambat

Oleh: Firdaus Putra A. Secara kultural sulit bagi mahasiswi (perempuan) menyetarai aktivitas/ pengalaman mahasiswa (laki-laki). Lihat saja, pada pukul sembilan malam, mereka sudah harus kembali ke kos/ pondokan/ asrama. Melebihi jam itu, pintu terkunci dan bersiaplah menanggung resiko. Tanggal 23 November yang lalu, saya menyelenggarakan diskusi hingga larut malam. Pukul 23.30 diskusi tentang “Koperasi dan Modal Sosial” itu selesai. Akhirnya, Wahyu, tidak memperoleh pintu masuk. Dia hubungi beberapa teman, hasilnya nihil. Dengan baik Kang Suroto mempersilahkan Wahyu tidur di tempatnya, Perumahan Teluk, bersama adiknya Lastri. Untuk sampai ke sana, Wahyu memesan satu taksi di depan Unsoed. Itulah sepenggal cerita jam malam bagi mahasiswi yang menurut saya menghambat mereka. Bandingkan dengan saya (laki-laki) yang pulang jam berapapun adalah sah. Entah untuk diskusi, ngobrol ngalor-ngidul, internetan di hotspot kampus, mengikuti pembekalan tertentu, dan seterusnya. Tidak ada hambat...

Bekerja di Koperasi

Oleh: Firdaus Putra A. IPK saya tidak terlalu kecil, 3,79. Kecerdasan saya juga tidak buruk-buruk amat. Sekurang-kurangnya pada 2006, saya memperoleh penghargaan Mahasiswa Berprestasi I se-FISIP dan III se-UNSOED. Aktivitas saya juga lumayan. Pada awal 2009 saya memperoleh Youngchangemaker Award dari Ashoka Indonesia – Bandung. Lantas, banyak teman bertanya mengapa saya bekerja di koperasi? Tepatnya di Koperasi Kampus UNSOED (Kopkun), bukannya di lembaga yang lain? Banyak orang menganggap koperasi itu hanya mengelola toko kelontong, simpan-pinjam dan sebagainya. Memang tidak sepenuhnya salah. Namun, hanya memaknai koperasi sebagai itu saja, adalah salah. Citra koperasi semacam itu muncul di zaman Orde Baru. Koperasi adalah unit usaha kecil yang tidak akan pernah besar. Itupun diperparah dengan koperasi yang hanya mengurus kalangan menengah-bawah saja. Citra koperasi semacam ini yang membuat banyak teman saya bertanya, “Kok bisa kamu kerja di sana?” Koperasi sejatinya asosiasi suk...

Akal Budi dalam Situasi yang Dilematis

Oleh: Firdaus Putra A. Perasaan seperti ini membuat saya tak nyaman. Awalnya Wahyu mengirim pesan, “Mas bisa beliin obat deman dan sakit kepala ga?”. SMS itu pukul sembilan malam. Saat itu saya sedang makan dan perut mulai mual karena maag. Saya balas, “Kalau bisa minta bantuan teman kos dulu”. Namun nafsu makan saya juga tak membaik. Nasi, mie goreng dan telur dadar hanya beberapa sendok saya makan. Sisanya saya berikan pada tanah dan berbagai makhluk renik lainnya. Perasaan itu menyergap. Saya merasa tidak nyaman telah menolak permintaan (yang cukup genting) pacar saya. Ada semacam tuntutan naluriah untuk mempertanggungjawabkan tindakan itu. Saya kirim SMS ke tiga teman perempuan, “Pertanyaan. Malam-malam jam 9an kamu demam. Kamu butuh obat. Siapa yang akan kamu mintai tolong? 1. Pacar 2. Teman kos. Jawab ya, serius”. Teman A menjawab, “Pacar”. Menyusul kemudian teman B, “Teman kos, karena cowokku jauh dan teman kos paling dekat sama aku saat ini”. Sedang teman C membalas saat sa...

Pidato Pemakaman Nan Membosankan

Oleh: Firdaus Putra A. “Dalam kelebihan dan kekurangannya, saya merasa bangga pernah bergumul erat sebagai putra beliau”. Kutipan itu pernah terlintas dalam “imajinasi nakal” pidato pemakaman ayah saya. Pidato pemakaman di desa dan kota di Indonesia, sebagian besar membosankan. Diwakili oleh orang tertentu—biasanya sesepuh atau kyai—keluarga akan menyampaikan sambutan tertentu. Kalau almarhum Muslim, beliau akan membuka dengan berbagai “ayat kematian”. Di tengahnya, berbagai petuah suci tentang takdir Tuhan ini dieksplorasi secara normatif. Pada bagian akhir, atas nama keluarga beliau mohon maaf atas segala kesalahan almarhum. Tak lupa beliau mengingatkan masalah hutang-piutang almarhum ditanggung sepenuhnya oleh keluarga. Demikian biasanya pidato pemakaman yang sempat beberapa kali saya saksikan. Pidato pemakaman normatif nan membosankan seperti ini tak beda jauh dengan pengajian mingguan di langgar atau masjid. Bahasanya cenderung melangit dengan berbagai cantolan ayat suci. Ek...