Langsung ke konten utama

Mediokrat-mediokrat Baru


Membedakan Istilah Pegiat dan Aktivis Kampus
Oleh: Firdaus Putra A.

Setiap zaman melahirkan anak zamannya masing-masing. Setiap kampus, melahirkan aktivisnya masing-masing. Seleksi alam dengan berbagai lika-likunya, melahirkan aktivis yang tahan banting-tahan uji. Dalam konteks kampus, tempaan serta ujian itu terlihat bagaimana seorang aktivis beradaptasi, bertahan dan berproses dalam kegiatan kampus: bakat-minat, respon terhadap kebijakan universitas dan juga respon terhadap kebijakan negara.

Dua belas semester saya hidup menjadi mahasiswa. Berada di tengah-tengah bersama para pegiat dan aktivis lainnya. Mengawali coretan ini, saya akan membedakan dua term yang menurut saya berbeda meski bisa digunakan secara tumpang tindih: pegiat kampus dan aktivis kampus.

Pegiat kampus merupakan mahasiswa yang menyemarakkan kehidupan kampus dengan berbagai kegiatan, baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Menurut saya, nalar yang ada di pegiat kampus adalah nalar pengembangan, aktualisasi serta peneguhan eksistensi diri melalui kegiatan-kegiatan UKM atau HMJ.

Titik berangkat bergabung di UKM atau HMJ adalah dalam rangka mencari pengalaman, mengisi waktu luang atau sekedar memenuhi hobi semata. Nalarnya cenderung tidak kritis terhadap kepolitikan kampus. Orientasi kegiatan cenderung dalam rangka memenuhi kebutuhan diri dan kurang menaruh peran pada masalah sosial.

Di sisi lain, aktivis kampus merupakan mahasiswa yang selain beraktivitas di dalam UKM, HMJ dan/atau organisasi massa mahasiswa dalam rangka mencukupi kebutuhan diri, juga mendaulatkan diri untuk aktif memenuhi peran sosial mereka sebagai kelas intelektual. Dalam konteks kepolitikan, mereka sangat kritis, baik terhadap kebijakan universitas atau negara.

Pegiat atau aktivis kampus menurut saya tidak bisa dilacak dari akar organisasi/ lembaga dimana yang bersangkutan dikader atau ditempa. Melainkan nalar yang terekspresikan dalam cara merespon kondisi politik kampus/ negara. Jadi, aktivis kampus bisa berasal dari UKM atau HMJ, sebaliknya pegiat kampus juga bisa berasal dari organisasi massa mahasiswa.

Meski demikian, menurut hemat saya, lebih besar peluang UKM dan HMJ sekedar melahirkan pegiat kampus daripada aktivis kampus. Di lain sisi, organisasi massa mahasiswa lebih besar berpeluang melahirkan aktivis kampus. Hal ini bisa dipahami dengan melihat pola pendidikan/ perkaderan yang ada di UKM/HMJ yang berbeda sekali dengan organisasi massa mahasiswa.

Pola pendidikan dan perkaderan UKM/ HMJ seringkali sekedar dalam rangka mencukupi kebutuhan UKM/ HMJ yang bersangkutan. Misalnya: UKM olah raga hanya peduli pada masalah olah raga, UKM pecinta alam hanya pada masalah kepecinta-alaman, UKM seni hanya pada masalah seni (ekspresi), UKM kerohanian, hanya pada masalah keagamaan, dan seterusnya. Dari sekian UKM, mungkin hanya UKM pers mahasiswa yang relatif kritis di banding yang lain.

Berbeda dengan itu, organisasi massa mahasiswa melakukan pendidikan dan perkaderan yang sangat serius. Mereka memberikan banyak bekal kepada anggotanya, mulai dari analisa sosial, analisa ekonomi-politik, bahkan sebuah cita-cita yang besar berupa ideologi. Hal inilah yang kemudian membuat anggota organisasi massa mahasiswa cenderung lebih kritis dibanding anggota UKM/ HMJ.

Bahkan, inti kepolitikan kampus pada dasarnya dimainkan oleh kader organisasi massa mahasiswa. Di lingkaran selanjutnya, para pegiat kampus dari UKM/ HMJ biasanya menjadi kelompok pendukung dari gagasan-gagasan tertentu. Sebagai kelompok pendukung ini, mereka akan memancarteruskan kepada mahasiswa umum.

Lantas dimana posisi mediokrat baru itu? Mediokrat bisa dipahami sebagai “orang yang tanggung” atau “sedang-sedang saja” kemampuannya, kepeduliannya atau perjuangannya. Para mediokrat baru ini, menurut saya, lahir dari para pegiat kampus yang melupakan peran sosial mahasiswa sebagai kelas intelektual. Aktivitas yang dikerjakan sekedar mencukupi kebutuhan dirinya.

Meski demikian, para mediokrat baru ini bisa turun jalan pada aksi-aksi tertentu. Hanya saja, kepedulian serta tekad perjuangan mereka biasanya rendah. Artinya, mereka tidak berjibaku dan mati-matian dalam melakukan peran sosialnya. Mereka, menurut saya, sekedar menggugurkan kewajiban atau mencegah sanksi sosial berupa olok-olok, klaim tidak berpihak dan sebagainya.

Para mediokrat ini relatif banyak jumlahnya dibanding aktivis kampus yang berjibaku dalam melaksanakan peran sosialnya. Padahal, di ranah kampus, para mediokrat yang biasanya dari barisan UKM/ HMJ ini sangat strategis posisinya. Sekurang-kurangnya mereka mempunyai modal berupa sekretariat, didukung dengan dana kemahasiswaan, serta secara resmi diakui sebagai lembaga intrakampus.

Kondisi ideal yang kita harapkan tentunya bagaimana secara bertahap dan berkesinambungan para pegiat kampus berubah kesadaran menjadi aktivis kampus. Tentu saja ini persoalan pendidikan dan perkaderan anggota-anggotanya. Ujungnya, saya akan menggagalkan tesis tentang lahirnya para mediokrat-mediokrat baru itu. []

Komentar

el-ferda mengatakan…
Fatimah Arsalan Nisa Hasanah
Regenerasi yang terkesan asal comot, cuma jadi formalitas ajah....
Fri at 7:52pm

Suroto Ph
banyak diantara kita adalah generasi sekolahan yang lahir dari ruang aktifita....kampus adalah menara gading, tempat beraktualisasi diri, belajar untuk mengabdi di sektor kapitalis kemudian....intelektualitas kita dipertanyakan, dan kita telah terserabut dari akar sosial kita sendiri....selamat datang kegelapan!
Fri at 8:07pm

Irawan Sarjono
dunia pendidikan di negara kita memang dibuat untuk memajukan hal tersebut, dimana ruang-ruang ekplorasi dan pengembangan kreatifitas dibelenggu dengan berbagai mekanisme,, dari IPK yang digunakan sebagai syarat untuk mencari pekerjaan, sehingga tolak ukur mahasiswa saat melakukan perkuliahan hanyalah untuk mencari indeks prestasi semata tidak lain tidak bukan,, kalaupun beraktifitas diluar itu hanya sebagai ajang eksistensi belaka,, yang pedoman dan dasarnya main-main,,,
Fri at 8:13pm •

Dimas Saputra Aditama
terkadang idealitas teman-teman yang mengklaim dirinya sebagai aktifis kampus akan goyah ketika dibenturkan dengan kebutuhan materi.. untuk aman lebih baik jadi pegiat kampuss saja
Fri at 8:41pm .

Irawan Sarjono
sebenarnya tidak ada yang salah dengan penggiat kampus karena, mereka juga berusaha untuk mengapresiasikan diri mereka, hanya pada batasan-batasan tertentu yang terkadang kawan-kawan terlalu prosedural dan formil dalam menyikapi sebuah persoalan, yang notabenenya tidak terlalu diperlukan... intinya bagaimana kita bisa membangun mental-mental dalam ... See Morediri kita untuk tidak menjadi kerdil, yang hanya dengan buaian segelintir uang kita terpedaya.. uang dan materi memang dibutuhkan tapi itu bkan segalanya.
Fri at 8:49pm •

Alvin Yulityas Sandy
dimas:
sejak awal dulu waktu aku aktif di LPM solidaritas idealisme juga dipertanyakan.

waktu itu gogon yg ngajak aku diskusi soal idealisme.
... See More
dan ternyata memang idealis kurang cock dilapngan.

kata orang-orang harus dialektis. materialisme dialektis. menyesuaikan kondisi.
Fri at 9:50pm •
el-ferda mengatakan…
Syafiq Naqsyabandi
Ada kisah tentang creativ minority, nyatanya yang kreatif,inovatif atau dalam tulisan ini aktifis kampus, jumlahnya selalu minoritas. Dan yang banyak adalah floating mass atau dalam tulisan ini disebut mediokrat. Terlepas dari itu semua, empat semester pertama saya kuliah, saya mengenal seorang mahasiswa yang bukan anggota UKM/HMJ,bukan pula ... See Moreorganisasi ekstra kampus, namun dia selalu mendaulatkan peran sosialnya sebagai seorang intelektual. Dia beberapa kali membuat lembaga studi sebagai wadah aktualisasinya, tak ayal, gelar aktivis kampuspun tersemat pada namanya, pemikirannyapun tak diragukan. Tapi ada hal yg kurang darinya, bukan semata-mata karena dia tidak punya "baju",namun nyatanya saya belum mengenal adik ideologisnya. Dan yang selalu melakukan pengkaderan secara ideologis hanyalah "baju-baju" yang tersedia dan tidak dipakai olehnya, entah rasional entah tidak, akañ menyenangkan jika setelah 12 semester masa kuliahnya, ada adik ideologis yang bisa diajak partnership untuk mewarnai kampusku disisa masa kuliahku. (7i)-->salah ketik
Fri at 10:15pm

Henrikus Setya Adi Pratama
lebih mendasar sebenarnya karena mungkin perubahan zaman yang membuat menjadi seperti itu....mengurangi kepekaan sosial...akhirnya pandangan pun menjadi tumpang tindih..karena kualitasnya pun menjadi terlihat samar2......

(THX)
Fri at 10:46pm
Bangkit Wismo
wah...saat aku baca, komennya terlalu berat, kata seorang kakak kelas bahasanya pake "bahasa langit". nggak cuma yang bikin tulisan, tapi juga yang komen. aku jadi merasa bodoh.

memangnya apa yang salah jika jadi mediokrat? toh, aktifis ataupun pegiat kampus nggak pernah bisa nyelesein persoalan apapun. cuma jadi pelengkap penderita doank kok! ... See Moreentah di sebelah mana pangkal persoalannya. nggak pengen menjastufikasi apapun.

ah, aku bukan aktifis ataupun pegiat kampus. aku tak punya jiwa sosial yang cukup mumpuni untuk mengembangkan intelektual sosialku. yang aku tau cuma orang tua miskin yang berjibaku untuk menjadikanku sarjana!!
Fri at 10:49pm
Susanto Wong Aboge
seorang lenggerpun tak ingin anaknya jadi lengger, tapi mereka terancam tidak bisa menyekolahkan anaknya di (industri) sekolah.
Yesterday at 3:15am
Alvin Yulityas Sandy
bangkit.. edan... mantebh lah... sesama penderita nehhh
Yesterday at 3:17am •
Susanto Wong Aboge
aktivis maupun pegiat sama-sama butuh logistik. sokongan logistik pada pegiat kampus lebih jelas terlihat dan aman. namun sokongan logistik aktivis di luar kampus tidak jelas terlihat. pasalnya bisa sangat sedikit atau malah berkelimpahan...
Yesterday at 3:24am
el-ferda mengatakan…
Chaerudin Affan
aktivis emang bukan penggiat kampus, 7 semester saya kuliah d FE UNSOED, penggiat kampus emang lebih banyak dari aktivis. pembedanya bukan organnya, tapi benar kata sipenulis "pola fikir, nalar kritis,gerakan kongkrit yang mati-matian, dll". tapi saya bingung, jadwal kuliah sudah habis, liburan sudah mulai menghipnotis semua mahasiswa, baik orang ... See Moreyang mengaku aktivis, atau orang yang hanya penggiat kampus, meka menyepikan kampus.
pembahasan tentang kata aktivis pernah saya diskusikan oleh beberapa kawan, dari dari kelas ekonomi mana mereka berasal, dan kenapa sekarang banyak mahasiswa yang di klam sebagai aktivis. yang jelas kampus hari ini kosong/sepi, tapi ini bukan berarti kampus lepas dari masalah, masih ada BOPP, BLU, pergantian rektor, dan masih banyak lagi....
cuma beberapa mahasiswa yang menurut saya dan kawan saya, layak di sebut aktivis. sia yang benar-benar memainkan peran sosial di kampus, dia yang tak kenal lelah, kalo kata bang daus pejuang mati-matian, walau dia belum mati sekarang....
Yesterday at 4:37am
Annisa Rengganis
baik pegiat kampus atau aktivis minimal sudah meniatkan dirinya untuk tenggelam pada rutinitas sosial yang dinilai sengkarut
Yesterday at 7:44pm
Firdaus Putra
@bangkit: kayaknya bangkit naif. bangkit itu kan Pemimpin Umum LPM Solidaritas FISIP UNSOED yang disegani di UNSOED, bahkan mungkin jejaring LPM di Purwokerto. tulisan yang dihadirkan ini tentu saja untuk orang-orang sekelas bangkit kok! tak perlu merasa bodoh.
@santo: memang butuh logistik, pokok soalnya bukan pada itu. tapi pada pendidikan dan perkaderan UKM/ HMJ.
@affan: aktivis juga manusia pank. hahaha.
@nisa: saya garis bawahi frasamu pada "tenggelam pada rutinitas".
@syafiq: saya memang tidak mendaulatkan diri di ormas atau UKM/ HMJ selama kuliah. "adik ideologis", coba carilah.... See More
@irawan: pegiat kampus tidak salah? memang tidak salah, namun masih kurang selama kita menggunakan basis nilai sebagai asumsi "tentang peran sosial intelektual dan mahasiswa di indonesia (dan mungkin negara dunia ketiga) termasuk kelas intelektual".
@henrikus: mungkin iya, masalah zaman yang berbeda. mungkin bukan. semuanya hipotetis.
@dimas dan alvin: sekurang-kurangnya, lalui dulu fase mahasiswa dengan sebaik-baiknya--dalam konteks ini--peran sosial dia sebagai kelas intelektual juga.
28 minutes ago
Irawan Sarjono
sekarang saatnya bagaimana membuat pegiat kampus juga dapat berperan lebih aktif dan berfikir realistis lagi,, seperti contoh di kampus saya masih ada kawan-kawan yang tidak mendukung dengan adanya aksi menuntut POM itu dibubarkan alasannya karena kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa juga perlu disokong oleh mahasiswa begitu lah alasan yang ... See Moremungkin bagi saya kurang rasional, hanya memang pada tataran tertentu, kita harus berkaca kepada para pegiat kampus yang walaupun monoton tapi selalu berusaha untuk membuat kegiatan2 berkesinambungan,, maka tidak ada salahnya kawan-kawan yang merasa atau mengaku sebagai aktivis untuk juga melakukan hal yang sama,,tentu dengan sebuah kegiatan yang lebih jelas untuk sebuah pemikiran massa, yang sampai dengan saat ini lebih banyak dihilangkan dari ranah publik secara umum....
6 minutes ago

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...