Langsung ke konten utama

Postingan

Membaca Pancasila Secara Dialektik: dari Sila Kelima ke Sila Pertama

Oleh: Firdaus Putra, HC.  Banyak diskusi Pancasila seringkali tertuju pada Sila Pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa". Memang ada presedennya, yang terkini adalah merebaknya sikap intoleran dan sentimen antar agama. Meskipun hal itu sebenarnya bukan fenomena yang berdiri sendiri melainkan berkelindan dengan anasir ekonomi-politik. Sinyalemen itu dibaca oleh beberapa intelektual Indonesia dalam Jurnal Maarif, "Setelah Aksi Bela Islam: Gerakan Sosial Islam, Demokratisasi dan Keadilan Sosial", rilis Desember 2016 lalu. Di sisi lain, OXFAM (2017) beberapa bulan lalu merilis laporannya tentang ketimpangan sosial-ekonomi di Indonesia. Dalam keterangannya OXFAM menyebut bahwa kekayaan 4 milyader Indonesia sejumlah 25 milyar dolar, setara dengan kekayaan 100 juta penduduk miskin. Belum lagi ditambah dengan data Indonesia peringkat ke tujuh dalam indeks kapitalisme kroni dunia (2016).  Dalam konteks seperti itulah kita perlu membaca Pancasila secara dialektik ...

Perlunya Meremajakan Logo Koperasi Indonesia

Oleh: Firdaus Putra, HC. Beringin atau Teratai Pada tahun 2012 logo koperasi, yang akrab kita lihat, "Pohon Beringin" hasil kongres Tasikmalaya 1947 dirubah oleh Menteri Koperasi. Dalam Permen No. 02/Per/M.KUKM/IV/2012 tujuan perubahan itu untuk tingkatkan citra dan kepercayaan masyarakat pada koperasi. Logo besutan Menteri Syarif Hasan itu berupa "Bunga Teratai" dengan warna dominan hijau.  Selepas tiga tahun, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menganulir penggunaan "Bunga Teratai" versi Pemerintah. Surat bernomor SKEP/03/Dekopin-E/I/2015, menyatakan bahwa melalui Munas Dekopin 2014 gerakan koperasi kembali kepada logo "Pohon Beringin". Maju mundur perubahan logo itu memberi sinyal: gerakan koperasi gamang mendefinisikan diri. Satu sisi ada aspirasi tentang perubahan yang harus dilakukan agar adaptif dengan zaman; Di sisi lain, ada romantisisme sejarah koperasi yang harus dipertahankan.  David Airey, brand designer dunia b...

Menyempurnakan "Sharing Economy"

Oleh: Firdaus Putra, HC. Februari lalu Prof. Rhenald Kasali kembali luncurkan buku, Disruption: Tak Ada yang Tak Bisa Diubah Sebelum Dihadapi, Motivasi Saja Tidak Cukup (2017). Disruption atau disrupsi , katanya, telah membuat Blue Bird alami penurunan laba bersih dari 629,1 miliar menjadi 360,8 miliar atau 42,3% pada tahun 2016. Sedang Taksi Express rugi sampai 81,8 miliar dari tahun sebelumnya untung 11,8 miliar. Kedua perusahaan itu terdisrupsi oleh Uber, yang konyolnya, tak memiliki armada, pangkalan dan mesin argometer. Beda Model Bisnis Perkembangan teknologi informasi membuat model bisnis berubah. Blue Bird dan Express memiliki model bisnis yang berbeda dengan Uber meski sama-sama memiliki layanan taksi. Yang pertama sebuah perusahaan transportasi yang memiliki armada, pangkalan, bengkel dan izin operasional layanan taksi; Yang kedua perusahaan aplikasi yang menghubungkan antara orang yang memiliki mobil (supply) dengan orang yang membutuhkan layanan (demand). Ya...

Menyongsong Purwokerto Kota Koperasi 2022

Oleh: Firdaus Putra, HC.  Jangkar Historis Cikal bakal koperasi di Indonesia bermula dari Purwokerto, Banyumas. Tepatnya dulu pada 1896 di masa Hindia Belanda. Kisah itu bermula dari Raden Aria Wiriaatmadja yang menginisiasi Bank Priyayi bermodalkan kas masjid. Tujuannya untuk melepaskan kalangan priyayi dari jerat rentenir. Bank Priyayi itu didukung penuh oleh Asisten Residen Belanda, E. Sieburgh. Selisih tahun berikutnya, de Wolf van Westerrode menggantikan Sieburgh. Sepulang dari Jerman, de Wolf bersemangat kembangkan model koperasi pertanian ala Reiffeissen. Lalu sejarah mencatat, Bank Priyayi Wiriaatmadja itu direorganisasi oleh de Wolf menjadi Bank Petani mengadaptasi model Reiffeissen. de Wolf saat itu memperoleh mandat langsung dari Menteri Kolonial Cramer: memerangi lintah darat yang menyengsarakan masyarakat (Furnivall, 2009). Kronik sejarah itu menggambarkan tiga hal: Pertama, sedari dulu rentenir atau lintah darat selalu menjadi musuh pemerintah dan masyarak...

Revolusi Mesir dan Pernikahan

Oleh: Firdaus Putra, HC. Kadang revolusi tak selalu dekat dengan jargon heroik. Di Mesir sana, sekira 2011 yang lalu, teriakan itu berbunyi "Aku Ingin Menikah". Itu bukannya dibentangkan oleh para jones-jones, namun para revolusioner Arab Spring saat itu. Bila ingin membayangkan semembahana apa revolusi Mesir, putarlah Emel Mahtlouti, My Word is Free.  Jauh dari kata main-main, semuanya serius; Seserius menggulingkan rezim Mubarak. Lantas mengapa slogan itu justru berbunyi "Aku Ingin Menikah"? Apa yang herois adalah yang, sebenarnya, dialektis. Heroisme sebagai sebentuk pembelaan pada hak-hak sipil warga barang tentu berasa manusia sekali. Ia tak perlu dibalut dengan "Hancurkan Mubarak yang otoriter" atau "Tegakkan demokrasi" dan sejenisnya. Ia hanya perlu dialektis atawa hadap masalah. Dan, ihwal menikah di sana adalah soal serius. Itu, lagi-lagi, tak main-main. Dikisahkan oleh Shereen el Feki dalam Seks dan Hijab,  bagaimana kondisi...

Hamna, Sebuah Refleksi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Bila ditanya apakah sedari dulu saya pernah memilih koperasi sebagai jalan hidup serius? Tidak. Pun di masa awal inisiasi idealisme di zaman kuliah. Alih-alih memilihnya, memandangnya pun dengan picingan mata. Ya, saya sini dengan koperasi. Bahkan dulu di saat kali pertama Kopkun Grand Opening, saya sengaja duduk di luar habiskan rokok dan nikmati gorengan. Tentu maksudnya untuk hindari obrolan serius di ruang dalam. Yang saat itu ada Pak Arsad, Mas Ilham, Mas Dani, Mas Herli dan lainnya. Itupun yang saya kenal saat itu hanya Mas Ilham, karena sama-sama Sosiologi FISIP. Awal mula saya gabung di Kopkun bukanlah sebuah pilihan serius. Saya sampaikan itu ke Pak Arsad, selaku ketua, ketika screening saya sebagai Manajer. Saya diminta menjadi Manajer Organisasi, tepat tiga bulan sebelum lulus. Saya nyatakan padanya, "Boleh jadi ketika ada beasiswa, saya akan resign, Pak". Deal! Itu dulu September 2009. Sampai kemudian tawaran pekerjaan silih ber...

Mengapa Saya Menulis?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya seorang blogger karenanya saya sering menulis. Lebih mendasar dari itu, saya memang suka menulis. Buat saya pada momen tertentu menulis merupakan mekanisme penyembuhan diri (self healing). Saat menuliskan sesuatu, terutama yang terkait dengan hal yang telah lampau, mau tak mau saya harus berani untuk memeriksa ulang diri saya. Memeriksa dalam konteks ini adalah mengingat kembali, meneguhkan, merefleksikan dan tentu saja memaknainya kembali. Dengan cara seperti itu, menulis memberikan sebuah cermin besar dan saya akan berdiri di depannya. Kadang pada momen dimana saya mengalami suasana hati yang buruk, saya akan menulis untuk menumpahkan begitu saja apa yang saya rasakan atau hayati. Penghayatan atas situasi ini yang kadang sulit untuk digambarkan, namun dengan menuliskannya, saya menjadi tahu bagaimana situasi itu terjadi. Penghayatan situasi membuat saya menjadi bagian dari situasi (part in). Dengan menuliskannya, saya akan berposisi se...