Langsung ke konten utama

Postingan

Ranilla Muncul di Pekalongan

Oleh: Firdos Putra A. Malam itu semua muda-mudi keluar dari rumah untuk memenuhi sebuah undangan pesta. Sebuah pesta melepas, menyobek atau mengganti kalender. Pesta itu digelar di sebuah lapangan, lapangan Mataram namanya. Posisinya di tengah-tengah kota. Meski bukan alun-alun, lapangan itu kini sudah sedemikian ramai. Tidak kalah dengan alun-alun kota. Motor berjalan pelan. Klakson dinyalakan, membuat pekak telinga. Knalpot dimodif, agar mengeluarkan suara yang nyaris seperti knalpot rusak. Bunyi terompet juga tidak absen. Di sana-sini muncul suara. Benda-benda bersuara, juga dari atas panggung. Sound system besar meneruskan gelombang suara sampai beberapa ratus meter. Di bawahnya, banyak orang berjingkrak-jingkrak menikmati alunan musik. Berganti penyanyi, satu petasan besar disulut. “Duor ...!!!”. Perempuan berteriak. Laki-laki bersorak. Anak-anak terdengar menangis dari kejauhan. Malam itu waktu menunjukan pukul 11.30. 30 menit lagi untuk menyambut awal tahun 2005. Tanpa di...

Refleksi Pesta Akhir Tahun

Oleh: Firdos Putra A. Tawangmangu, Karanganyar, Kuta, Bojonegoro, mengingatkanku pada tahun di mana gelombang Tsunami meluluhlantakkan Aceh. Memang Tsunami terjadi di bulan Desember, bulan penghujung tahun. Tapi dampaknya aku yakin belum pupus sampai awal tahun menjemput. Dan benar. Sedangkan di kota lain, gemerlap kembang api, tiupan terompet mengawali tahun di mana negeri ini sebenarnya belum pantas untuk bersuka-cita. Aku tertegun, kenapa kita kurang peduli terhadap masyarakat lain yang masih menangis. Saat itu aku ingat, beberapa event acara, baik live maupun di televisi mengingatkan para penontonnya untuk jangan berlebihan. Akhir tahun ini pun sama. Bencana menjadi catatan dalam kalender yang akan berganti. Aku rasa hampir sama seperti tahun di mana Tsunami terjadi. Satu masyarakat menangis, sedang yang lain berlebihan dalam bersuka-cita. Sama sekali toleransi, empati tidak mewujud di sebuah perayaan awal tahun. Lihatlah para muda-mudi yang berpasang-pasangan memacu motor...

Heli di Tengah Sawah

Oleh: Firdos Putra A. Aku membayangkan siang itu aku berjalan kaki dari Sidabowa sampai ke Patikraja. Hanya berjalan kaki, melepas rutinitas yang menjebakku dan seakan-akan membunuhku dengan waktu yang itu-itu saja, dengan aktivitas yang itu-itu juga. Aku berjalan menyusuri tepi jalan. Tidak kuhiraukan berbagai macam kendaraan yang lalu lalang di tengah jalan raya. Pandanganku hanya tertuju pada padi yang menghijau di sawah, di samping kiriku. Menikmati waktu luang tanpa ada gangguan dari sekretarisku, agenda meeting, pertemuan dengan customer, malam amal atau seabrek seremonial yang benar-benar membuatku muak. Aku benar-benar ingin menikmati ketidakbiasaan, sampai pakaian pun aku pilih yang benar-benar berbeda, kaos singlet warna putih seharga 20.000 ribuan. Dan tidak memakai sepatu seperti biasanya, hanya sandal jepit yang ku kenakan. Benar-benar di luar kebiasaanku, dengan segala kemewahan, kelengkapan fasilitas. Hari itu aku benar-benar tidak ingin diganggu. Di tengah-teng...

Demokrasi Minimalis untuk Pemerintahan Mahasiswa:

Studi Kasus PEMIRA KMFE UNSOED Oleh: Firdos Putra A. I Jargon demokrasi begitu rupa dipercaya oleh mahasiswa sebagai sistem yang par excelence. Sistem itu juga yang akhirnya dipilih oleh kawan-kawan mahasiswa untuk mengkreasi sistem pemerintahannya. Layaknya dalam demokrasi negara, pemerintahan mahasiswa juga tidak ketinggalan dengan melaksanakan hajat besar yang kita kenal dengan PEMIRA (Pemilihan Umum Raya), guna menentukan siapa yang pantas menduduki kursi pemerintahan. Tidak sekedar mengimitasi prosedur suksesi kepemimpinan dalam negara, mekanisme pemungutan suara pun nyaris sama, yakni mahasiswa sebagai voters memberikan suaranya di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Mereka berpikir bahwa mekanisme ini akan menjaga azas LUBER dan JURDIL seperti yang diterapkan negara dari dulu sampai sekarang. Alhasil, sampai saat ini banyak fakultas di UNSOED, yang menggunakan TPS sebagai mekanisme pemungutan suara. Hanya sayangnya, ada masalah yang selalu mengganjal setiap PEMIRA digelar, ya...

Kala Sungsang

Oleh: Firdos Putra A. Orang Jawa dulu ternyata mempunyai kearifan yang luar biasa. Hanya berbekal kelinuwihan mata hati, mereka dapat membaca gerak zaman dalam berapa ratus ke depan. Tengok lah ramalan untuk hari ini, bukan lagi zaman Kala Bendu, melainkan zaman Kala Sungsang. Tanda-tanda munculnya Kala Sungsang (Topeng Malaikat: 2005) antara lain, musim yang tidak bisa diramal, bencana alam datang beruntun tanpa bisa dicegah atau dideteksi, banyak pemimpin yang terjungkal dari kursi kekuasaan, banyak pemimpin yang mulai dilecehkan oleh rakyat kecil, banyak perempuan ternama terbuka rahasianya, rasa malu sudah tidak dimiliki oleh panutan masyarakat, para tokoh agama mulai diragukan kesalehannya, dan tingkat kejahatan naik secara tajam. Tanda mana yang tidak muncul di tengah-tengah masyarakat kita? Nyaris tidak ada bukan. Zaman Kala Sungsang konon katanya ‘sengaja’ diturunkan oleh si-empunya kehidupan. Mungkin hari ini Tuhan sudah bosan melihat tingkah kita, kata Ebiet. Mari kita ...

Menulis di Komputer

Oleh: Firdos Putra A. Pernahkan Anda merasa bahwa otak Anda menjadi beku, pikiran berhenti, ide tersendat ketika tidak menyentuh keyboard komputer? Saya sering merasakannya. Sudah menjadi kebiasaan, saya menuliskan ide, gagasan, imajinasi langsung melalui keyboard. Akhirnya kebiasaan menulis dengan tangan, pena, dan kertas menjadi hilang. Saya merasa bahwa dengan menyentuh keyboard, ide menjadi semakin lancar keluar. Sayangnya, hal semacam ini menganggu bila di suatu ketika komputer saya ngadat (error), listrik padam dan sebagainya. Bisa dibilang saya sudah kecanduan dengan komputer. Adiksi komputer membuat saya meninggalkan cara menulis konvensional. Dan parahnya, hari ini saya menemukan bahwa tulisan tangan saya menjadi tidak rapi, tidak seperti dulu kala. Menulis satu lembar di atas kertas A4 menjadi melelahkan dan tidak optimal. Menulis di komputer benar-benar telah merubah kebiasaan (habbit) saya yang lain. Seringkali saya becanda dengan teman, “Tolong suratnya ditulis pa...