Langsung ke konten utama

Postingan

Menangisi Jilbab

Oleh: Firdaus Putra A. Entah perasaan apa itu, tiba-tiba mataku berlinangan air ketika membaca paragraf demi paragraf temuan M. Guntur Romli di Padang, Sumatera Barat (www.guntur.name). Ada rasa sesak, dongkol, dan muak. Meski aku memang Muslim, tapi aku tidak tega ketika seorang ibu Kristen berujar; “Lalu saya katakan padanya bahwa ini peraturan jadi putri saya harus mengikutinya dan saya pun menjelaskan bahwa pakaian hanyalah simbol sehingga tidak mewajibkan dia harus mempelajari Islam karena iman seseorang itu tidak digambarkan dari jilbab dan iman seseorang itu tidak digambarkan dari Salib tetapi iman seseorang itu berada pada hati nurani. Sehingga saya katakan pada putri saya agar ia jangan kalah, ia harus bisa menunjukkan bahwa walaupun ia memakai jilbab, imannya masih teguh mempertahankan agama Kristen. Putri saya itu dididik untuk hidp berdampingan dengan umat agama lain, sehingga ia dapat memahaminya. Sebetulnya jauh di lubuk hati saya, hal ini sangat menyiksa. Putri sa...

Epistemologi Gerakan

Enam Tesis Kebuntuan Epistemik Oleh: Firdaus Putra A. Epistemologi sebagai ilmu tentang pengetahuan sekurang-sekurangnya membahas; sumber pengetahuan dan cara/metode mendapatkan pengetahuan. Tulisan ini akan menyoroti dua hal itu pada ranah gerakan mahasiswa. Sedangkan tulisan ini bersumber dari pengamatan sehari-hari terhadap kecenderungan gerakan mahasiswa, khususnya di Purwokerto Sumber Pengetahuan Ada beberapa tesis yang akan saya ajukan. Pertama, menurut saya, gerakan mahasiswa mengalami—meminjam bahasa Baudrillard—tranz. Istilah ini biasanya digunakan dalam analisis hiperealitas dan simulakrum. Pokok masalahnya saya khususnya pada perkembangan isu sosial yang cepat dan beragam. Seperti analisis Baudrillard tentang “masyarakat tontonan”, saat ini informasi yang beredar terlalu banyak. Sederhananya, melalui media cetak dan elektronik, ditambah internet, membuat masyarakat tidak mampu memilah dan memilih informasi apa yang benar-benar dibutuhkan dirinya. Semua informasi dis...

Belajar Motor

Oleh: Firdaus Putra A. Beberapa pemuda di pinggir kios rokok memperhatikan kami berdua. Atau mungkin lebih tepatnya memperhatikan perempuan ayu yang duduk di depanku. Dengan sedikit gugup dan kaku, Wahyu memedang kemudi. Maklum, malam ini ia sedang belajar mengendarai motor. Usianya tak terpaut jauh dariku, 21 tahun. Jangan tertawa atau mencibir dulu. Sebenarnya Wahyu sudah bisa mengendarai motor. Dulu, ketika SMA, ia pernah mengalami kecelakaan. Bukan sekedar luka ringan, bahkan ia harus rawat inap di rumah sakit. Selebihnya, beberapa anggota tubuhnya harus dijahit. Peristiwa itulah yang sampai sekarang membuatnya trauma untuk mengendarai motor. Malam ini (08/05), aku mengajak Wahyu berkeliling GOR Purwokerto. Benar-benar “berkeliling”, dalam makna harfiahnya. Dari ujung, kembali ke ujung lagi. Belok kiri, dan berlatih membelok ke kanan. Khusus belok kanan, sulit katanya. Sesekali tubuh pun ikut miring ke kanan atau ke kiri. Kurang-lebih satu jam kami berkeliling di GOR. Awal...

Motor Laris

Regulasi Pasar Motor Oleh: Firdaus Putra A. Kita sering mendengar kredit motor dengan DP 0%. Kemudahan pelayanan, ditambah dengan berbagai bonus, dan macam-macamnya. Seorang teman bercerita, bahwa setiap sales dealer ditarget untuk memperoleh sedikitnya empat pembeli. Nah, kalikan saja dengan bulan, tahun serta rasio penduduk menengah. Alhasil, modus pemasaran itu terbukti efektif. Fenomena semacam ini saya kira tersebar di hampir setiap daerah. Tambah lagi, tengoklah iklan sepeda motor di televisi dan koran. Berbagai jenis motor berlomba-lomba mengeluarkan produk baru. Entah sekedar “ganti baju”, atau benar-benar inovasi baru. Terakhir, merk dagang asal India mulai memasuki pasaran Indonesia. Jepang, China, Malaysia, ditambah India, akan merajai penjualan motor. Saat ini, berbagai media, baik cetak pun elektronik, mengangkat head line yang sama. Rencana pemerintah menaikan harga BBM akhir bulan Mei. Tambah, aksi penolakan terhadap rencana itu, baik dari mahasiswa pun masyaraka...

Ahmadiyah, Islam & Negara

Oleh: Firdaus Putra A. Seperti yang kita tahu dari pemberitaan di berbagai media massa, paska keluarnya fatwa MUI, eskalasi aksi pengrusakan terhadap masjid, musola jemaah Ahmadiyah semakin meningkat. Tidak boleh dilupakan, para pelaku pengrusakan seringkali mendasarkan fatwa MUI sebagai basis legitimasi tindakan anarkis tersebut. Tentu saja, peristiwa seperti ini sangat menganggu jemaah Ahmadiyah untuk menikmati kebebasannya dalam berkeyakinan serta menjalankan ajaran agamanya sesuai dengan keyakinannya. Fatwa MUI dan Bakorpakem Dalam khazanah pemikiran Islam, status fatwa memang hanya sebatas saran atau rekomendasi. Artinya, tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mengikuti fatwa tersebut. Apalagi dengan menindaklanjutinya dengan cara-cara yang jauh dari akhlak Islam. Sayangnya, fatwa penyesatan Ahmadiyah tidak dibarengi dengan fatwa tentang merusak dan menganggu pemeluk kepercayaan lain, juga sebagai tindakan yang sesat/salah. Dulu, Islam juga pernah mengalami sejarah kel...

Jujur - Ajur

Untuk Bagian Kesejahteraan Mahasiswa UNSOED Oleh: Firdaus Putra A. “Salam takzim. Saya sudah bilang kemarin, bahwa saya (sedang, penj.) cuti akademik. Dan saya punya saran nama pengganti. Saya sudah tak berharap mendapat beasiswa. Tiba-tiba menerima informasi nama saya keluar (di pengumuman beasiswa, penj.). Akhirnya saya berharap lagi. Dan sekarang saya harus sakit hati karena kelalaian manajemen. Rasanya tidak enak pak. Tolong sampaikan juga ke Pak Haji (Kepala Bagian Kesejahteraan Mahasiswa, penj.). Nuwun”. Dua lembar SMS di atas saya kirim ke Pak Prayitno, Senin 4 Mei yang lalu. Seorang karyawan yang mengelola beasiswa khususnya beasiswa Bank Indonesia (BI). Saya kirim beberapa menit setelah meninggalkan kantor Kesejahteraan Mahasiswa UNSOED. Ada sesal, mangkel dan sakit hati sesaat meninggalkan kantor itu. Satu minggu sebelumnya, seorang teman memberi kabar. Via SMS dia menyampaikan “kabar gembira”, bahwa beasiswa BI sudah turun. Saya disuruh secepatnya mengambil. Karena s...

For Blogger

Pembatasan dan Pengawasan Aktivitas Blog Oleh: Firdaus Putra A. Hari kemarin saya kaget ketika menerima kabar dari seorang teman yang menonton tayangan “Kupas Tuntas”. Tema yang diangkat masalah blog, blogger, dan blog content. Pokok masalahnya, pemerintah menghendaki agar aktivitas blogger diawasi, dibatasi. Khususnya bagi mereka yang memuat tema-tema kritik sosial dan kritik pemerintahan. Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian saya, juga Anda tentunya. Sekurang-kurangnya, bilamana kebijakan itu keluar, saya dan Anda semua sebagai blogger akan terancam dan terkebiri hak kebebasan berpendapat dan akses informasi. Jujur, saya mulai bingung memandang pemerintahan sekarang. Baru kemarin, DPR kita meributkan syair lagu Slank yang bernuansa kritik pemerintah. Dan sekarang ditambah dengan meributkan blog content yang “menyerang pemerintah”. Saya rasa, dua kasus ini bisa memperlihatkan kecenderungan pemerintah yang ternyata masih gagap dengan alam kebebasan dan demokrasi. Apa ja...