Langsung ke konten utama

Postingan

Setelah Training ESQ

Spiritualitas atau Simulasi Spiritualitas? Oleh: Firdaus Putra A. Akhirnya saya penuhi undangan Sdr. Rizki untuk mengikuti training ESQ. Tepatnya pada 29-30 November, hari Sabtu-Minggu, dengan semangat saya datang ke Gedung Soemardjito. Hari pertama saya merasa kikuk, karena ternyata seluruh peserta training saat itu berasal dari berbagai instansi pemerintah atau swasta. Tdak ada peserta mahasiswa kecuali saya seorang. Meski kikuk dan salting, saya bersyukur atas bantuan Sdr. Rizki bisa mengikuti training tersebut secara cuma-cuma. Secara obyektif saya kira memang benar training tersebut menarik dan tidak membosankan. Teknologi multi-media begitu rupa membuat peserta tidak merasa bosan. Yel-yel, berbagai permainan, serta hadiah dari trainer membuat peserta semakin bersemangat mengikuti training dari pukul 07.30 sampai 18.00 WIB. Fasilitas lain seperti makan siang, makanan kecil, serta coffe break membuat perut dan mata tetap terjaga. Di luar masalah itu, sebenarnya pengalaman m...

Sangat Konyol Sekali

Oleh: Firdaus Putra A. Dini hari ini (23/11) saya mengalami dua hal konyol secara beruntun. Awalnya saya berniat mengecek beberapa nomor asing yang masuk di daftar Missed Call. Salah satunya nomor 08578014xxxx. Setelah dua kali panggil, si empunya mengangkat. Saya sapa, “Halo, Assalamualaikum, ini nomornya siapa ya?” Yang disapa diam saja, lantas saya lanjutkan, “Saya Firdaus” . Kemudian si empunya menjawab, “Ini bapake” . Saya belum paham, saya pertegas, “Bapake?” . Si empunya menjawab, “Bapake Wahyu” . Oh my God, ternyata nomor yang saya panggil adalah milik Ayah pacar saya. Kemudian dengan cepat saya mengganti bahasa Indonesia ke Jawa Kromo. “Ooo... nuwun sewu, nyuwun ngapuntene Pak, saya tidak tahu. Nyuwun ngapuntene mpun ngganggu.” (Permisi, mohon maaf pak, saya tidak tahu. Mohon maaf sudah mengganggu). Kemudian bergegas saya memanggil nomor pacar, 08572627xxxx. Tanpa menunggu lama, setelah diangkat saya nyerocos menceritakan kejadian konyol itu. “Ndut, ndut ... ternyata no...

Sex in the Kost

Oleh: Firdaus Putra A. Sebenarnya saya sudah tidak terlalu tertarik dengan buku karya Iip Wijayanto ini. Saya menjadi teringat lagi saat masuk ke kamar teman kos dan mendapati buku itu. Secara umum buku yang sempat booming tahun 2003 ini menyuguhkan realitas seks bebas dan seks pra nikah yang dilakukan mahasiswa (kos) di Yogyakarta. Buku ini lahir dari proses penelitian melalui metode wawancara dan obrservasi lapangan. Nah, komentar saya akan lebih masuk pada konteks proses penelitian tersebut. Pasalnya, dalam bukunya, Iip juga menyajikan bagaimana jalannya penelitian bahkan sampai transkip wawancara bersama informan. Dibantu dengan berbagai data dan literatur, mulai halaman 47 sampai 106, penulis mendeskripsikan bagaimana realitas seks mahasiswa dan proses penelitian untuk mengetahui masalah tersebut. Khususnya pada halaman 66 sampai 99, transkip wawancara tersaji sebagai data lapangan. Sebenarnya saya tidak mempunyai keberatan dengan hasil wawancara tersebut. Mengingat, apap...

Ketaksantunan

Oleh: Firdaus Putra A. “Ka fir, gmn kbr? Denger2 msh nimbrung aja sm urusan kmpus.. Hehe gak inget umur bang? Kalah dkandang sndr kok ngusik2 kndang orang.. Malu dong bang!:-P” , pengirim 085282294028. Pesan pendek itu dikirim oleh seorang kawan yang nota benenya aktivis kampus dan pernah menjabat sebagai ketua ormas Islam tertentu di Purwokerto. Ada yang janggal dari pesan pendek yang saya terima pada 12 November, pukul 09:48 lalu. Dalam perjumpaan keseharian, meskipun kami jarang berjumpa, kawan tersebut jarang menyapa saya dengan, “Kak, Mas, Bang” atau sejenisnya. Hal ini lumrah karena kami berada dalam satu level masa. Usia kami pun tak terpaut jauh. Dalam perjumpaan langsung atau pesan pendek, biasanya kawan tersebut hanya menyapa saya dengan, “Us”, kependekan dari “Firdaus atau Daus”. Nah, kalimat pesan pendek yang tidak seperti biasanya itu membuat saya khawatir. Pertama, kalau kata “Ka fir” (dengan spasi) dimaksudkan untuk mendekati kata “Kafir” (tanpa spasi). Karena deng...

Mengakui

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah berminggu-minggu kita ikuti jelang Pemilu Amerika Serikat. Klimaksnya, hari kemarin Barrack Obama dinyatakan menang atas McCain dengan mengantongi lebih dari 300 suara. Saya yakin bukan hanya masyarakat Amerika saja yang menerima kemenangan itu dengan segepok harapan. Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden kita juga menyempatkan membuka konferensi pers untuk memberi ucapan dan mengaspirasikan harapan. Pun, saya, mungkin juga Anda, punya kebahagiaan dan harapan serupa. Nah, di sinilah Amerika benar-benar negara adigdaya. Pemilu dalam negerinya sudah menyita publik banyak negara dunia lain. Jujur atau tidak, saya, mungkin juga Anda, dengan nalar itu mengakui kalau Amerika masih menjadi 001 di dunia. Dalam konteks itu, tak berlebihan kalau saya, mungkin juga Anda, memberi selamat dan sedikit berharap pada sosok Obama dengan visi perubahannya. Seringkali kita mencibir bahwa siapapun presidennya, Amerika tetaplah Amerika, sang imperialis. Namun, saya, mungki...

Untu Wojo

Oleh: Firdaus Putra A. Tubuh kita menjadi sedemikian estetik. Dengan berbagai piranti, keindahan itu diwujudkan. Ada rebonding, smoothing, atau sekedar catok rambut. Menjadi indah dengan cara yang berbeda saat rambut menjadi “rambut jagung”. Itu hanya soal rambut, belum yang lain-lainnya. Tapi masih dalam anatomi yang sama, kepala, rezim keindahan bekerja secara massif dalam mulut kita. Gigi, jajaran putih bak serdadu itu harus senantiasa putih. Bila perlu mengkilap, itu kata iklan pasta gigi. Bagi yang bergelombang, kecanggihan teknologi bisa merapihkan. Entah dikikir, diamplas, atau bahkan didempul. Namun, bagi yang sukar ditaklukan, teknologi juga mempunyai jurus lain. Dokter gigi akan memberi saran untuk memasang behel (be: toilet, hel: buah apel). Seorang Bapak menyebutnya, untu wojo. Untu, bahasa Jawa untuk gigi. Sedang wojo, bisa kita terjemahkan sebagai baja, besi atau logam. Maksud si Bapak desa, kawat behel. Nah, teknologi ini benar-benar tahu hasrat keindahan manusi...

Sempati dan Garuda

Oleh: Firdaus Putra A. Bagus mana prestasi antara Sempati Air dengan Garuda? Serentak kita jawab Garuda. Namun, seorang teman berkata lain dengan alasan yang sangat masuk akal. Ketika ia mengikuti pelatihan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1995, rahasia sukses Sempati dan Garuda diungkap tuntas. Dan yang mengherankan, rahasia sukses itu bukan berangkat dari berbagai macam teori dan teknik manajemen pemasaran modern. Rahasia sukses itu justru berangkat dari kriteria penentuan pramugari masing-masing perusahaan. Pihak Garuda berasumsi kalau penumpang pesawat, sewaktu itu, adalah orang-orang kelas ekonomi menengah ke atas. Sehingga dibangunlah rumus, kelas atas harus dilayani oleh orang kelas atas. Asumsi ini kemudian diturunkan dalam tata cara rekrutmen pramugari. Dicarilah perempuan-perempuan dari keluarga berada (high class). Secara penampilan perempuan itu mengenakan rok satu kilan (kurang-lebih 10 cm) di atas lutut. Masalah face dan tubuh, tidak perlu ditanya lagi. Berbed...