Langsung ke konten utama

Postingan

Hidup dalam Detail

Oleh: Firdaus Putra A. I Kita, manusia, cenderung berpikir dalam generalisasi. Padahal, kita hidup dalam setiap detail yang kecil, unik dan tersebar. Detail-detail mulai bangun tidur sampai tidur lagi itulah yang menyusun pola hidup kita. Dalam detail-detail itu pula ratusan bahkan ribuan tindakan kecil tersusun dan akhirnya membentuk suatu pola. Inilah kemudian yang bisa kita sebut sebagai gaya hidup, dalam maknanya yang paling luas. Nah, dalam konteks seperti itu saya termasuk orang yang percaya bahwa tindakan-tindakan kecil itu sangat mempengaruhi perubahan dunia, sekurang-kurangnya kehidupan kita. Tindakan-tindakan kecil itu ibarat pasir yang menyusun istana di tepian pantai. Ia begitu riil dengan dampak yang riil pula. II Saya akan menyuguhkan beberapa ilustrasi dari detail hidup yang seringkali lewat begitu saja. Sebutlah kebersihan tempat hunian bersama dalam rupa kos atau kontrakan. Seberapa sering kita membersihkan kamar atau ruang pribadi? Lalu, seberapa sering kita m...

Kata Kunci Porno

Oleh: Firdaus Putra A. Setiap kali saya online dan melihat blog ini, pasti di “Live Traffic Feed” terekam jejak pengunjung dengan kata kunci “Video Porno Lokal”. Bahkan pernah suatu kali, jejak itu muncul berurutan empat sampai lima pengunjung. Saya menyangka pengunjung itu “terjebak” dari kata kunci yang mereka gunakan untuk meng-googling . Pasalnya, saat saya cek dengan memasukan kata kunci “Video Porno Lokal” blog ini muncul pada halaman pertama di urutan tiga teratas pada mesin pencari Google. Sebenarnya saya merasa senang, dengan “keterjebakan” itu blog traffic saya senantiasa ramai. Namun, saya merasa iba juga dengan para pengunjung yang merasa “terjebak”. Memang dalam blog ini ada satu dua judul yang mengupas tentang “Video Porno Lokal”. Tulisan itu berisi tentang analisis kasar saya terhadap menjamurnya video porno yang diproduksi oleh anak negeri ini. Tentu saja tulisan para pengunjung tak akan mendapati ihwal erotisme atau sensualitas apalagi link video porno. Beberap...

Warteg Depan FISIP

Oleh: Firdaus Putra A. Warung itu terletak tepat di depan kampus FISIP UNSOED. Dari tahun 1993 secara fisik tidak banyak mengalami perubahan. Masih sama, dinding penuh tempelan pamflet. Kayu yang lusuh. Atap bagian dalam yang juga tak putih terang. Untuk sebagian orang warung itu sekedar tempat makan, ngopi dan nongkrong. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai ruang publik nan mencerahkan. Warteg depan FISIP tercatat sebagai saksi hidup dinamika gerakan mahasiswa, aktivis LSM, pegiat komunitas indie, band indie, aktivis parpol, wartawan di Purwokerto. Dari sana juga berbagai gagasan dan aksi perubahan lahir. Di lain sisi, sudah tak terbilang puluhan aktivis, anggota dewan, wartawan dan seterusnya juga lahir dari sana. Warung itu bukan sekedar warung makan. Ia, warteg, sudah menjadi ruang publik, ruang milik bersama yang mempertemukan berbagai komunitas di Purwokerto. Ia, warteg, telah melibas batas-batas yang ada. Ia, warteg, juga telah melampaui generasi. Hari Jum’at malam ...

Melati Jaya Giri

Oleh: Firdaus Putra A. “Melati dari Jaya Giri …” bolak-balik aku putar tembang kenangan itu. Aku punya kesan yang dalam khusus pada “Jaya Giri”. Aku belum pernah ke sana. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu dalam dan seakan sudah mengenalnya. Setelah sekian lama mencarinya, aku peroleh lagu ini dari dosenku, Pak Rawuh. Katanya beliau punya banyak koleksi tembang-tembang kenangan. Dia sendiri putar lagu itu dengan piringan hitam. Wow … benar-benar klasik. Sedang laguku ini, sudah di MP3-kan. Tapi kesan klasik itu masih tersisa. Suara musik yang sangat sederhana dengan aransemen yang juga sederhana. Pada masalah lagu, aku mungkin tergolong orang yang konservatif. Meski banyak lagu-lagu berganti dalam genre pop, belum ada yang menandingi kesan tembang kenangan. Memang, aku anak zaman pop. Hanya saja aku dibesarkan di tengah bapak-ibu yang demen tembang kenangan. Aku masih ingat, dulu saban hari ibuku memutar “Gelas-gelas Kaca”, “Teluk Bayur”, “Hitam-Putih Potomu” dan lainnya. ...

Golongan Putih

Oleh: Firdaus Putra A. Beruntunglah klaim “Golongan Putih” (Golput). Ia tidak terkena logika oposisi biner. Justru, ia membalik logika itu. Putih menjadi tak sama dengan memilih. Hitam sama dengan tidak memilih. Namun, di tahap berikutnya, ia belum selamat. Oposisi biner masih saja beroperasi. Golput sama dengan tidak memilih-tidak mencontreng. Dan yang mencontreng, sama dengan memilih. Padahal, tidak memilih pun adalah pilihan. Itu semestinya. Ia juga belum selamat, Golput sama dengan pengecut, juga pecundang. Golput menjadi segolongan yang berpangku tangan. Ia tak turut menentukan. Lagi-lagi ia tak selamat, menyontreng sama dengan warga negara yang baik. Golput adalah warga negara yang tak baik. Itulah kontestasi wacana yang tengah diadu di ruang publik. Berbagai rasionalisasi mengalir deras, baik dari pro-Golput, lebih-lebih kontra-Golput. Tak kurang-kurang, otoritas agama bermain tangan dengan fatwa kontra-Golput. Golput menjadi segolongan yang “dihajar” dari sana-sini. Seca...

Sebelum Keliling Dunia

Dear Gita ... Gita aku sudah menerima suratmu seminggu yang lalu. Hanya saja karena aktivitas yang cukup padat, aku belum selesai merumuskan jawaban yang tepat untukmu. Dan hari ini, tanggal 9 April 2009 saat seluruh masyarakat Indonesia tengah merayakan pesta demokrasi, aku punya waktu luang untuk berpikir. Setelah aku baca, ada dua hal yang bisa aku sarikan dari suratmu, pertama pertanyaanmu tentang “Romantisisme Kritis” dan terakhir tentang kesiapanku untuk ke Belanda. Gita, seringkali kita sebagai masyarakat modern hidup dalam logika oposisi biner. Pada tanggal 9 April yang lalu, warga Indonesia yang baik adalah yang menyalurkan hak pilihnya. Dengan logika oposisi biner, maka yang tidak menyalurkan hak pilih menjadi warga negara yang tidak baik, kurang lebih seperti itu. Lihat saja, sebagian masyarakat mengecap Golongan Putih (Golput) sebagai orang yang pengecut atau pecundang. Padahal, kalau mau adil, tidak memilih pun merupakan pilihan. Dan sayangnya, logika seperti ini masi...

Tetap Perlu Keliling Dunia

Dear, Sahabatku Gita Aku sudah terima dan baca surat balasanmu. Aku yakin sesaat kamu terima suratku, kamu pasti langsung menjajagi tulisan peserta lain yang ikut program itu . Gita, aku memahami betul kekhawatiranmu. Ya, kamu pasti khawatir adanya sindrom “amnesia sejarah”, “rendah diri” dan “silau” pada negeri Belanda oleh peserta program. Aku pun berpikir sama. Dalam kajianku, Sosiologi, inilah mentalitas masyarakat poskolonial. Sebuah sikap masyarakat yang pernah mengalami penjajahan. Meski penjajahan itu sudah berakhir cukup lama, lebih dari 60 tahun yang lalu, namun bekas-bekasnya masih tersisa di relung-relung jiwa masyarakat. Dan ironisnya, seperti yang kamu tulis, sindrom itu lekat pada generasi kita, generasi yang sebenarnya tak mengalami sejarah kelam itu. Tak perlulah aku keliling dunia, biarkan ku di sini. Tak perlulah aku keliling dunia, karena ku tak mau jauh darimu. Dunia boleh tertawa, melihat ku bahagia. Walau di tempat yang kau anggap tak biasa. Gita yang mani...