Langsung ke konten utama

Hidup dalam Detail

Oleh: Firdaus Putra A.

I
Kita, manusia, cenderung berpikir dalam generalisasi. Padahal, kita hidup dalam setiap detail yang kecil, unik dan tersebar. Detail-detail mulai bangun tidur sampai tidur lagi itulah yang menyusun pola hidup kita. Dalam detail-detail itu pula ratusan bahkan ribuan tindakan kecil tersusun dan akhirnya membentuk suatu pola. Inilah kemudian yang bisa kita sebut sebagai gaya hidup, dalam maknanya yang paling luas.

Nah, dalam konteks seperti itu saya termasuk orang yang percaya bahwa tindakan-tindakan kecil itu sangat mempengaruhi perubahan dunia, sekurang-kurangnya kehidupan kita. Tindakan-tindakan kecil itu ibarat pasir yang menyusun istana di tepian pantai. Ia begitu riil dengan dampak yang riil pula.

II
Saya akan menyuguhkan beberapa ilustrasi dari detail hidup yang seringkali lewat begitu saja. Sebutlah kebersihan tempat hunian bersama dalam rupa kos atau kontrakan. Seberapa sering kita membersihkan kamar atau ruang pribadi? Lalu, seberapa sering kita membersihkan lorong kamar, dapur, ruang tamu, ruang tv, kamar mandi, tempat sampah, garasi dan sebagainya? Saya yakin frekuensinya lebih tinggi di kamar atau ruang pribadi, berbanding terbalik dengan ruang-ruang bersama yang saya sebut di atas. Tentu saja ini sangat manusiawi. Ya, manusia senantiasa menghendaki pemenuhan kenyamanan yang cukup bagi dirinya.

Berbeda dengan itu, ruang bersama nampak tidak berhubungan dengan dirinya, oleh karenanya derajat kenyamanan di ruang bersama tak menjadi prioritas. Ruang pribadi begitu bersih, rapi dan harum, sedang ruang bersama begitu kotor, penuh debu, jorok dan berbagai perlengkapan tak tertata rapi. Ketidakrapihan dan kejorokan itu menjadi-jadi dengan tiadanya jadwal piket yang mendisposisi setiap individu untuk bergilir menyapu, membersihkan dan merapihkannya.

Ada pemandangan yang kontras di sana. Ruang pribadi lebih diprioritaskan daripada ruang bersama. Saya merasa hal ini berangkat dari anggapan bahwa ruang bersama tak berhubungan dengan ruang pribadi. Menurut saya anggapan semacam ini kurang berasalan. Coba perhatikan, setiap hari kita melalui ruang bersama. Atau dalam hal lain, saban hari kita beraktivitas dengan atau dalam ruang bersama. Sehingga secara langsung ruang bersama berdampak pada ruang pribadi kita, misal debu terbawa masuk ke ruang pribadi melalui kaki serta pakaian kita. Kebersihan ruang pribadi akan sangat bergantung dengan kebersihan ruang bersama. Sesering apapun kita membersihkan ruang pribadi akan sia-sia bilamana ruang bersama tetap saja penuh dengan sampah, debu dan berbagai kotoran lainnya.

Hal semacam ini seringkali tidak masuk dalam proses berpikir kita. Kita sangat mafhum dengan generalisasi “Kebersihan pangkal kesehatan” atau "Kebersihan sebagian dari iman", namun kita tidak mampu merealisasikannya dalam detail kehidupan. Ironisnya, disadari atau tidak, sebenarnya masing-masing kita merasa senang saat ada individu lain merelakan dirinya membersihkan ruang bersama. Ya, kita begitu menikmati dampak dari tindakan orang lain dan anehnya sebagian di antara kita tak mau mengadaptasinya, mencontohnya atau sekurang-kurangnya, mencobanya. Sebagian diri kita masih menyimpan mentalitas pecundang dan parasistik yang menggantungkan dirinya kepada yang lain.

Padahal, untuk melakukan tindakan seperti itu tidak dibutuhkan energi yang besar atau waktu yang panjang. Cukup dengan sekian menit saja kita bisa melakukan tindakan yang bermakna dan bermanfaat bagi diri kita dan secara tak langsung bagi yang lain. Misal, secara spontan mengambil sampah yang tercecer dan memasukkannya ke tempatnya. Menguras air di bak mandi saat terlihat keruh. Menyikat dinding kamar mandi saat terlihat kotor penuh dengan bercak dan lendir. Menyapu lorong kamar dan merapihkan berbagai barang di ruang tamu. Saya yakin tindakan-tindakan kecil seperti ini tidak akan mengganggu “aktivitas besar” kita.

III
Lantas mengapa nampak sulit untuk dilakukan? Apakah kita terlalu sibuk dan tak punya waktu luang atau karena faktor lain? Saya tidak melihat faktor kesibukan menjadi salah satu alasan. Toh buktinya sebagian kita bisa mengalokasikan waktu lebih dari lima jam untuk bermain play station, nonton tv dan pacaran, bukan?

Tesis di awal tulisan merupakan salah satu sebabnya, hidup dalam detail namun cenderung berpikir dengan generalisasi. Selain itu, saya fikir sebagian di antara kita miskin inisiatif. Misal, ceceran sampah yang tak terjamah beberapa hari menunjukan bahwa kapasitas untuk mengambil keputusan—yakni membuangnya—sangat rendah. Saat melihat cecerah sampah, sebenarnya kita tidak nyaman atau tidak sreg. Namun sayangnya, input itu tidak diolah lebih lanjut sehingga menjadi tindakan.

Hal lainnya, saya fikir sebagian di antara kita termasuk pemalas. Malas karena memang tak peduli yang menurut saya benar-benar seorang pecundang atau malas karena tak ingin merepoti diri sendiri yang menurut saya adalah seorang egois. Sampai-sampai bisa saja terjadi sebagian di antara kita ada yang sama sekali belum pernah mengepel lantai kos atau kontrakan, menguras dan membersikahkan bak mandi, membuang ceceran sampah dan sebagainya. Orang seperti ini saya golongkan sebagai parasit yang memuakkan.

Sampai hari ini saya tak habis fikir dengan perilaku seseorang (baca: mahasiswa) yang seperti itu. Ya, hanya dengan lima menit dan tak lebih dari ribuan kalori kita bisa membenahi tempat tinggal dan lingkungan sekitar, namun itu tak pernah terjadi. Berbuatlah walau sekecil apapun itu! Bagaimana dengan Anda?[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...