Langsung ke konten utama

Postingan

Internet, WAH!

Oleh: Firdaus Putra A. Kalau saja kemarin tidak mampir ke Detik.com untuk membaca berita terkini soal peledakan bom di Jakarta , aku tak akan ingat awal mula bagaimana mengenal internet. Tapi ada untungnya juga aku lupa awal mula mengenal internet, hikmahnya coretan ini belum pernah kubuat dan posting dan menjadi sah mengikuti lomba Blogdetik “My First Online Experience” . Begini ceritanya. Saat kelas tiga SMA, kakakku, sebut saja Azza sekolah di Jakarta Teknologi Cipta (JTC) Pekalongan. Itu sekolah D1 untuk Teknik Informatika dan jurusan lainnya. Nah, berhubung usiaku dan kakakku tak terpaut jauh, saat masih muda dulu kita sering main bersama. Kalau sekarang peluang itu kecil. Azza sudah berkeluarga. Suatu tempo Azza mengajakku ke kampusnya. Azza mengenalkanku dengan beberapa temannya. Ya sedikit SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat, aku nimbrung dengan mereka. Kami, maksudnya aku, kakakku dan teman-temannya ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu kelas malam usai. Selepas itulah kami...

Menyayur Bayam

Oleh: Firdaus Putra A. Siang tadi aku masak sayur bayam. Kalau orang Jawa biasanya bilang sayur bening. Mungkin Anda bertanya-tanya, iseng banget masak sayur bayam? Beli saja lebih pratis. Atau Anda menduga kalau saya kebanyakan nonton film Popeye. Begini ceritanya, kemarin siang saat perut lapar dan mau makan di warung sebelah ada ibu penjual sayur keliling. Mungkin karena sedang lapar, rasanya ingin sekali makan sayur-sayuran. Aku lihat dan tanya berapa harganya satu set bayam untuk disayur. Si ibu tertawa dengar pertanyaanku, “satu set”. Yang kumaksud itu bayam lengkap dengan bumbu-bumbunya untuk sekali masak. Harganya murah, Rp. 2000 sudah termasuk seikat bayam yang banyak sekali, satu wortel, bawang merah, bawang putih, daun bawang, kencur dan daun seladri. Nah sampai kos ternyata ada yang kelupaan, air PAM diblokir dari hari kemarin karena tiga bulan belum bayar. Maklum anak kos. Hehehe. Jadinya si bayam tidak kumasak langsung. Hari ini nampaknya waktu mendukung. Tidak ada ...

"Jalan Kesehatan"

Oleh: Firdaus Putra A. Tadi petang saya iseng mencicipi “Jalan Kesehatan” di kampus FISIP. “Jalan Kesehatan” itu sepanjang 20 meter dengan batu koral/ kerikil di atasnya. Saya lepas sandal. Mulailah langkah pertama dengan hati-hati. Rasanya tidak sesakit yang saya bayangkan. Bolak-balik saya berjalan di tengah kampus yang sepi itu. Kalau tak salah ada 10 menit saya mencicipinya. Kesimpulannya, setelah itu kaki terasa ringan dan plong! Saya pernah dengar sehatnya jalan di atas bebatuan atau kerikil. Ibu dulu pernah melakukannya secara rutin di kala pagi berjalan telanjang kaki di jalan desa yang belum teraspal. Konon katanya berjalan di atas kerikil/ bebatuan/ koral merupakan salah satu teknik pijak refleksi pada syaraf-syaraf kaki. Saat di Madinah, Ayah juga menggunakan sandal kayu yang “berduri-duri” dan membawanya ketika pulang. Sebenarnya dulu saya sering jalan kaki. Dari kos ke kampus. Kampus ke kos teman. Kampus ke fakultas lain dan seterusnya. Sampai-sampai kalau sekarang i...

Cinta dalam Sepotong Roti

Oleh: Firdaus Putra A. Ada tiga lakon dalam novel itu, Harris, Mayang dan Topan. Mereka tiga sekawan semenjak kanak hingga dewasa. Seperti masa kanak lainnya, Mayang demen pengantin-pengantinan. Si Harrislah yang jadi pengantin pria-prian. Sedang Topan, sebagai penghulu dan penyedia berbagai perlengkapan pengantin-pengantinan. Begitulah, Fira Basuki membuka novelnya dengan kisah kocak itu. Tiga anak kecil yang bermain-main dengan kesakralan. Saat mereka bertiga sama dewasa, pengantin-pengantinan menjadi nyata bagi Harris dan Mayang. Ia menikah dengan pangeran itu, pangeran yang baik terhadap dirinya. Sayangnya, si pangeran pujaan hati tak mengerti betul perasaannya sebagai perempuan. Salah satunya, perasaan perempuan saat di ranjang. Mengeluh pada angin, Mayang mengatakan: Angin, angin. Jangan sampaikan. Pada ia atau yang lain. Aku bermain sendirian. Duduk di lantai. Ditemani kegelapan. Bermesraan. Sendirian. Dengan tangan. Milikku sendiri, yang perempuan. Kesepian. Ke...

I “Lost” My Friend

Oleh: Firdaus Putra A. Temanku, Imam namanya sekarang menjadi seorang donwline MLM merek dagang tertentu. Sebelumnya saat aku masih di Purwokerto, dia mengirim pesan singkat dengan nada provokatif. Kurang-lebih gabunglah dengannya untuk memperoleh penghasilan sampai dua juta. Beberapa hari kemudian dia mengirim pesan singkat yang lain, dia bilang akan membimbingku agar bisa menjadi agen yang baik. Beberapa pesan singkat itu belum membuatku muak, hanya sedikit tersenyum miris. Hari ini, saat aku berada di Pekalongan aku memberi kabar kepulangan dan keinginan untuk bertemu. Ya bertemu teman lama, teman SMP dan juga SMA, semacam nostalgia atau silaturrahmi. Aku kirim pesan menanyakan apakah dia sedang di rumah. Dia bilang sedang dinas malam. Kemudian dia katakan lagi, nanti ke Hotel Syariah Pekalongan saja sembari ikut pertemuan MLM itu. Oh, sudah sebegitunyakah dia, sampai-sampai tak ada alokasi waktu khusus untuk menemui seorang teman lama? Tadi pagi dia kembali mengirim pesan, in...

Laptop, Hotspot dan Reproduksi Kelas

Oleh: Firdaus Putra A. Malam ini saya sampai pada titik permenungan soal relasi antara laptop, hotspot dan reproduksi kelas sosial. Konteks renungan ini tentu saja bukan pada seluruh pemilik laptop dan pengakses hotspot dimanapun berada, melainkan pada konteks mahasiswa dan fasilitas kampus khususnya di Unsoed. Meski demikian, sampai batas tertentu saya kira tidak menutup kemungkinan untuk menarik ruang generalisasi pada kampus-kampus lainnya. Sekitar satu tahun belakangan mahasiswa Unsoed yang memiliki laptop meningkat tajam paralel dengan tersedianya fasilitas publik berupa hotspot area. Sekarang ini, sebagian besar fakultas di Unsoed sudah menyediakan hotspot area yang bisa diakses secara bebas oleh mahasiswa. Frekuensi akses semakin banyak dan sering paralel dengan kebijakan hotspot area 24 jam nonstop dan ditambah beberapa kafe di sekitar Unsoed menyediakan fasilitas serupa. Saya belum mempunyai data yang pasti terkait tingkat pembelian laptop oleh mahasiswa Unsoed. Namun, sal...

No Free Lunch

Oleh: Firdaus Putra A. Tepatlah ungkapan “Tak ada makan siang gratis” pada kasus yang menimpaku beberapa hari lalu. Pada tanggal 27 Juni yang lalu saya memperoleh peringatan mendadak kalau domain dotcodotcc (.co.cc) blog saya expired. Saya sebut ini mendadak, karena sepengetahuan saya dan mungkin juga blogger lain, domain dotcodotcc diberikan cuma-cuma. Silahkan cek saja di situs penyedianya terpampang banner kecil di pojok kiri-bawah, katanya “Free Domain”. Dulu, mungkin satu tahun yang lalu, saya gunakan domain ini juga berkat rekomendasi seorang teman. Cara kerjanya sangat mudah. Pertama kali masuklah ke situs www.co.cc, pada halaman muka akan kita temukan kolom memanjang untuk mencoba nama domain yang kita kehendaki. Coba saja, masukan pilihan domain Anda. Kemudian klik dan secara otomatis akan dijawab apakah domain tersebut tersedia secara cuma-cuma atau berbayar. Pengalaman saya, nama domain yang pendek (hanya susunan beberapa huruf) biasanya berbayar. Sedang nama domain ya...