Langsung ke konten utama

Postingan

Menculik “Si Bintang Porno” Miyabi

Oleh: Firdaus Putra A. Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno. Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture —rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja...

My Next Dream and the Omens

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang sesuatu yang remeh membuat hidup atau pandangan kita berubah. Beberapa bulan yang lalu saya habiskan buku antologi cerpen Jumpha Lahiri yang berjudul “Interpreter of Maladise” atau Penerjemah Luka. Salah satu daya tarik cerpen itu terletak pada kekuatan narasi yang detail, dan sederhana. Cerpen itu tak menyuguhkan narasi yang jauh dan muluk, tapi realitas yang dekat dan terjamah. Sehingga meski seting seluru cerita berada di Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya, saya sebagai pembaca di Indonesia bisa mengimajinasikan bagaimana detail peristiwanya. Menurut saya, cerpen ini ditulis dari sudut pandang seorang imigran yang mengalami keterasingan hidup di rimba modernitas. Sebagian kisahnya berakhir dengan pilu dan pesimistik. Lantas apa hubungannya dengan “mimpi saya selanjutnya” seperti pada judul di atas? Selama mendekati masa lulus, saya tak pernah bermimpi untuk melanjutkan studi S2. Tentu saja alasan klise, masalah biaya. Rencana yang sudah saya ...

Melacak Pengunjung Blog

Oleh: Firdaus Putra A. “Ya ampun, Des! Aku disini dah jerit-jerit sambil ngacak-ngacak rambut kayak orang gila. Aku sih ga butuh cara ngelabui, toh aku GA BAKAL baca-baca blognya lagi. Tapi aku butuh cara biar dia ga tahu aku selama ini pembaca setia blognya. Adooh, blo’on banget sumpah, Des. Aku dari kemarin-kemarin pingin tanya ini ke kamu, tapi lupa terus. Aku pikir blog ga ada fitur aneh kayak gitu. Des, what should i do?” received 23-Sept-2009 12:41. Lalu kubalas pesan panjang itu, “Hahaha. Tahu ga, aku ketawa bayangin kamu jerit-jerit dan ngacak-ngacak rambut. Tenang aja, live traffic feed paling enak dibaca pas hari itu-today. Kalo sudah akumulasi, hanya berisi rating judul yang sering dibaca orang. Artinya jejak kamu akan tertutup oleh jejak-jejak pengunjung lainnya. Tenang aja Nad, jatuh cinta ga dilarang kok!”. Jadi begini ceritanya, temanku sebut saja Miss Donad tertarik dengan seseorang. Nah si Donad ini setiap kali mengunjungi facebook “si pangeran kodok”, ia juga me...

ESQ Training dan Spirit Neoliberalisme

Oleh: Firdaus Putra A. Seperti kalian, saya pernah mengikuti training ESQ. Saya angkatan ke-14. Bedanya, kalau tak salah, kalian membayar Rp. 320.000 sedang saya Rp. 1000.000 untuk kelas dosen dan guru. Syukurnya, saya digratiskan oleh pihak ESQ Purwokerto. Saat itu, hanya saya sendiri peserta training yang berstatus mahasiswa. Saya pikir tak ada perbedaan materi yang saya peroleh dengan materi training kalian. Tekniknya pun sama. Kalian masih ingat, LCD layar lebar, ruang yang dingin dan temaram, juga sound system yang menggelegar itu, masih ingat kan? Suasana seperti itu juga yang ditangkap oleh Daromir Rudnyckyj, antropolog dari University of Victoria. Dalam artikelnya dia melukiskan, “The sound in the hall was sometimes elevated to ear-splitting volume and the lights in the room were manipulated to maximize the dramatic effects of the points made. Further, the air conditioning was turned to its lowest setting”. Saya rasa kalian juga masih ingat dengan “Selamat Pagi!”, atau “B...

Ramadhan dan Pramusaji

Oleh: Firdaus Putra A. Hari ini Ramadhan kedua (23/8). Sebenarnya tak ada cerita spesial. Tapi saya akan share saja kisah pramusaji (pelayan) rumah makan/ warung/ restoran. Kisah ini terinspirasi dari cerita Wahyu yang hampir dua bulan ini kerja di restoran cepat saji tertentu di Purwokerto. Bagi yang merantau, saat buka puasa biasanya mencari makanan di warung/ rumah makan atau restoran cepat saji. Nah, kadang sebagai pembeli ego kita muncul layaknya seorang raja. Ingin cepat dilayani, dapat makanan dan menyantapnya. Persoalannya bukan hanya kita saja (saya atau Anda) yang menginginkan seperti itu, namun sebagian besar pembeli berpedoman demikian. Alasannya, "Pembeli adalah raja" dan "Pembeli sedang beribadah puasa". Ego secepatnya dilayani dan menyantap makanan itu menjadi berlipat ganda. Sebagai pembeli, saat itu nampaknya kita lupa bahwa pramusaji (pelayan) juga seorang manusia yang kemungkinan juga seorang Muslim/Muslimah yang sedang berpuasa. Seringkali ...

Internet, WAH!

Oleh: Firdaus Putra A. Kalau saja kemarin tidak mampir ke Detik.com untuk membaca berita terkini soal peledakan bom di Jakarta , aku tak akan ingat awal mula bagaimana mengenal internet. Tapi ada untungnya juga aku lupa awal mula mengenal internet, hikmahnya coretan ini belum pernah kubuat dan posting dan menjadi sah mengikuti lomba Blogdetik “My First Online Experience” . Begini ceritanya. Saat kelas tiga SMA, kakakku, sebut saja Azza sekolah di Jakarta Teknologi Cipta (JTC) Pekalongan. Itu sekolah D1 untuk Teknik Informatika dan jurusan lainnya. Nah, berhubung usiaku dan kakakku tak terpaut jauh, saat masih muda dulu kita sering main bersama. Kalau sekarang peluang itu kecil. Azza sudah berkeluarga. Suatu tempo Azza mengajakku ke kampusnya. Azza mengenalkanku dengan beberapa temannya. Ya sedikit SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat, aku nimbrung dengan mereka. Kami, maksudnya aku, kakakku dan teman-temannya ngobrol ngalor-ngidul sembari menunggu kelas malam usai. Selepas itulah kami...

Menyayur Bayam

Oleh: Firdaus Putra A. Siang tadi aku masak sayur bayam. Kalau orang Jawa biasanya bilang sayur bening. Mungkin Anda bertanya-tanya, iseng banget masak sayur bayam? Beli saja lebih pratis. Atau Anda menduga kalau saya kebanyakan nonton film Popeye. Begini ceritanya, kemarin siang saat perut lapar dan mau makan di warung sebelah ada ibu penjual sayur keliling. Mungkin karena sedang lapar, rasanya ingin sekali makan sayur-sayuran. Aku lihat dan tanya berapa harganya satu set bayam untuk disayur. Si ibu tertawa dengar pertanyaanku, “satu set”. Yang kumaksud itu bayam lengkap dengan bumbu-bumbunya untuk sekali masak. Harganya murah, Rp. 2000 sudah termasuk seikat bayam yang banyak sekali, satu wortel, bawang merah, bawang putih, daun bawang, kencur dan daun seladri. Nah sampai kos ternyata ada yang kelupaan, air PAM diblokir dari hari kemarin karena tiga bulan belum bayar. Maklum anak kos. Hehehe. Jadinya si bayam tidak kumasak langsung. Hari ini nampaknya waktu mendukung. Tidak ada ...