Langsung ke konten utama

Postingan

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...

“Menjadi Indonesia” Bersama Masyarakat*

Oleh: Firdaus Putra A. I Tesis bahwa mahasiswa berada pada menara gading perguruan tinggi sudah lama kita dengar. Meskipun ia berada di tengah masyarakat, namun sedikit sekali mahasiswa yang mampu hidup bersama masyarakat. Terlebih lagi bagi mahasiswa pendatang yang kos di wilayah tertentu. Pola relasi lebih terlihat semata ekonomis daripada kemanusiaan yang murni. Ilustrasi berikut ini akan menggenapkan tesis menara gading tersebut. Suatu ketika seorang teman membutuhkan palu dan tang untuk membenahi kamar kosnya. Alih-alih meminjam perlengkapan itu di tetangga sekitar, yang bersangkutan lebih memilih menggunakan batu terinspirasi manusia purba dulu kala. Ironisnya, selisih satu rumah ada tetangga yang bekerja sebagai tukang kayu. Ia enggan meminjam palu dan tang bukan lantaran khawatir mengganggu, melainkan malu karena tidak mengenal beliau. Ilustrasi semacam ini pernah terjadi di Gang Kutilang, Grendeng , Purwokerto[1]. Lain waktu, beberapa tahun sebelumnya ada seorang mahasi...

Menculik “Si Bintang Porno” Miyabi

Oleh: Firdaus Putra A. Saya bayangkan beberapa bulan setelah film “Menculik Miyabi” dirilis, teman-teman kecil saya yang duduk di SD, teman-teman remaja yang duduk di SMP dan SMA dengan girang akan saling bertanya “Sudah nonton Miyabi?”. Ada dua kemungkinan yang mereka maksud dengan pertanyaan itu, pertama sudahkah menonton film “Menculik Miyabi” atau sudahkah menonton film porno Miyabi. Kemanapun pertanyaan itu berlabuh, nama Miyabi akan lebih santer diucapkan dibanding sebelumnya yang hanya ditemukan di pojok kamar gelap, bilik warnet atau disela cekikikan penikmat film porno. Sungguh saya penasaran mengapa Maxima Picture —rumah produksi yang akan menghelat film itu—mendatangkan Miyabi meski dengan ongkos yang besar. Secara ekonomis, mungkin mereka sudah menghitung Miyabi akan menaikan tingkat penjualan film sampai derajat tertentu. Ini sebanding dengan prinsip ekonomi, bahwa keuntungan harus lebih besar daripada ongkos produksi. Besarnya keuntungan dalam industri film tentu saja...

My Next Dream and the Omens

Oleh: Firdaus Putra A. Kadang sesuatu yang remeh membuat hidup atau pandangan kita berubah. Beberapa bulan yang lalu saya habiskan buku antologi cerpen Jumpha Lahiri yang berjudul “Interpreter of Maladise” atau Penerjemah Luka. Salah satu daya tarik cerpen itu terletak pada kekuatan narasi yang detail, dan sederhana. Cerpen itu tak menyuguhkan narasi yang jauh dan muluk, tapi realitas yang dekat dan terjamah. Sehingga meski seting seluru cerita berada di Amerika, Inggris dan negara Eropa lainnya, saya sebagai pembaca di Indonesia bisa mengimajinasikan bagaimana detail peristiwanya. Menurut saya, cerpen ini ditulis dari sudut pandang seorang imigran yang mengalami keterasingan hidup di rimba modernitas. Sebagian kisahnya berakhir dengan pilu dan pesimistik. Lantas apa hubungannya dengan “mimpi saya selanjutnya” seperti pada judul di atas? Selama mendekati masa lulus, saya tak pernah bermimpi untuk melanjutkan studi S2. Tentu saja alasan klise, masalah biaya. Rencana yang sudah saya ...

Melacak Pengunjung Blog

Oleh: Firdaus Putra A. “Ya ampun, Des! Aku disini dah jerit-jerit sambil ngacak-ngacak rambut kayak orang gila. Aku sih ga butuh cara ngelabui, toh aku GA BAKAL baca-baca blognya lagi. Tapi aku butuh cara biar dia ga tahu aku selama ini pembaca setia blognya. Adooh, blo’on banget sumpah, Des. Aku dari kemarin-kemarin pingin tanya ini ke kamu, tapi lupa terus. Aku pikir blog ga ada fitur aneh kayak gitu. Des, what should i do?” received 23-Sept-2009 12:41. Lalu kubalas pesan panjang itu, “Hahaha. Tahu ga, aku ketawa bayangin kamu jerit-jerit dan ngacak-ngacak rambut. Tenang aja, live traffic feed paling enak dibaca pas hari itu-today. Kalo sudah akumulasi, hanya berisi rating judul yang sering dibaca orang. Artinya jejak kamu akan tertutup oleh jejak-jejak pengunjung lainnya. Tenang aja Nad, jatuh cinta ga dilarang kok!”. Jadi begini ceritanya, temanku sebut saja Miss Donad tertarik dengan seseorang. Nah si Donad ini setiap kali mengunjungi facebook “si pangeran kodok”, ia juga me...

ESQ Training dan Spirit Neoliberalisme

Oleh: Firdaus Putra A. Seperti kalian, saya pernah mengikuti training ESQ. Saya angkatan ke-14. Bedanya, kalau tak salah, kalian membayar Rp. 320.000 sedang saya Rp. 1000.000 untuk kelas dosen dan guru. Syukurnya, saya digratiskan oleh pihak ESQ Purwokerto. Saat itu, hanya saya sendiri peserta training yang berstatus mahasiswa. Saya pikir tak ada perbedaan materi yang saya peroleh dengan materi training kalian. Tekniknya pun sama. Kalian masih ingat, LCD layar lebar, ruang yang dingin dan temaram, juga sound system yang menggelegar itu, masih ingat kan? Suasana seperti itu juga yang ditangkap oleh Daromir Rudnyckyj, antropolog dari University of Victoria. Dalam artikelnya dia melukiskan, “The sound in the hall was sometimes elevated to ear-splitting volume and the lights in the room were manipulated to maximize the dramatic effects of the points made. Further, the air conditioning was turned to its lowest setting”. Saya rasa kalian juga masih ingat dengan “Selamat Pagi!”, atau “B...

Ramadhan dan Pramusaji

Oleh: Firdaus Putra A. Hari ini Ramadhan kedua (23/8). Sebenarnya tak ada cerita spesial. Tapi saya akan share saja kisah pramusaji (pelayan) rumah makan/ warung/ restoran. Kisah ini terinspirasi dari cerita Wahyu yang hampir dua bulan ini kerja di restoran cepat saji tertentu di Purwokerto. Bagi yang merantau, saat buka puasa biasanya mencari makanan di warung/ rumah makan atau restoran cepat saji. Nah, kadang sebagai pembeli ego kita muncul layaknya seorang raja. Ingin cepat dilayani, dapat makanan dan menyantapnya. Persoalannya bukan hanya kita saja (saya atau Anda) yang menginginkan seperti itu, namun sebagian besar pembeli berpedoman demikian. Alasannya, "Pembeli adalah raja" dan "Pembeli sedang beribadah puasa". Ego secepatnya dilayani dan menyantap makanan itu menjadi berlipat ganda. Sebagai pembeli, saat itu nampaknya kita lupa bahwa pramusaji (pelayan) juga seorang manusia yang kemungkinan juga seorang Muslim/Muslimah yang sedang berpuasa. Seringkali ...