Langsung ke konten utama

Postingan

Membongkar Laptop dengan Lezat

Oleh: Firdaus Putra Apa yang paling menegangkan dan menyenangkan beberapa waktu kemarin adalah saat saya membongkar eMachines D720. Mungkin istilah “membongkar” terlalu umum untuk menggambarkan pengalaman itu. Lebih tepatnya “mempreteli” tiap bagian atau jeroan laptop itu. Mulai dari melepas bagian cover depan, melepas monitor, keyboard , kemudian melepas baut-baut di bawah keyboard dan melepas kabel-kabel flexy yang terhubung dengan motherboard . Saya, sekali lagi “mempreteli” tiap bagian itu laksana mengurai satu per satu bagian kepala ikan pindang. Begitu gurih rasanya melihat isi kepala ikan itu. Mulai dari insang, berbagai “hal” di dalam kepala, sampai tulang-tulang kecil itu. Tak ketinggalan juga, matanya. Hampir sama rasanya ketika menjelajahi kepiting untuk mengais daging putihnya yang tertutup kalsium keras di sana-sini. Menegangkan dan mengasyikan, bagaimana saat saya melepas hardisk, dvdrom, ram, dan wireless card yang ternyata kabelnya terhubung dengan monitor. Sa...

Menggagas Media Bersama:

Meningkatkan Efisiensi, Skala Ekonomi dan Modal Sosial pada Persma Oleh: Firdaus Putra,S.Sos. Pengantar Asumsikan budaya membaca di mahasiswa rendah. Di sisi lain, perputaran media oleh persma pada level buletin atau majalah mengalami inflasi. Dimana stok berlimpah namun anemo mahasiswa (baca: pasar) rendah. Akhirnya, beberapa buletin/ majalah persma kurang diminati meski dengan desain yang dinamis dan khas mahasiswa. Pada titik lain, beberapa persma mengalami kesulitan pendanaan. Namun hal ini bisa ditutup oleh variabel dana kegiatan mahasiswa yang diperoleh melalui proposal kegiatan ke fakultas/ universitas. Karena persoalaan pendanaan inilah volume/ oplah terbitan biasanya bergantung pada kemampuan pendanaan sponsor. Masalah yang lain, dalam konteks itu media persma seringkali tak habis terjual karena kurangnya anemo pasar. Memang “tidak ada” resiko rugi karena dana untuk mencetak berasal dari fakultas/ universitas. Hanya saja, perusahaan persma tak pernah dapat mengelola ca...

Hantu Puncak Datang Bulan

Soal Andi Soraya Telanjang Oleh: Firdaus Putra A. “Jangan diliat porno atau tidaknya, tapi kualitas akting pemainnya”, ujar Andi Soraya salah satu pemeran film “Hantu Puncak Datang Bulan”, seperti dikutip oleh Astaga!com Lifestyle on the Net . Film dengan judul aneh itu hanyalah satu dari sekian banyak film hantu-hantuan atau horor komedi di Indonesia. Isi film terkadang asal. Tidak terlalu serius dan hanya mengejar sensasi dengan tempelan judul yang aneh. Coba perhatikan beberapa judul film berikut: Jeritan Kuntilanak, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Toilet 105, Hantu Aborsi, Susuk Pocong, Darah Janda Kolong Wewe, Eee… Hantu, Hantu Mupeng, Suster Keramas dan seterusnya. Garis besar cerita berbagai film hantu itu seringkali sama. Maklum, mungkin stok hantu di Indonesia terbatas: pocong, kuntilanak, wewe, dan sejenisnya. Tak ada elaborasi baru yang lebih kreatif. Berbagai penampakan hantu dalam film itu ditampilkan secara vulgar. Bandingkan dengan misalnya film horor Final Destin...

Mediokrat-mediokrat Baru

Membedakan Istilah Pegiat dan Aktivis Kampus Oleh: Firdaus Putra A. Setiap zaman melahirkan anak zamannya masing-masing. Setiap kampus, melahirkan aktivisnya masing-masing. Seleksi alam dengan berbagai lika-likunya, melahirkan aktivis yang tahan banting-tahan uji. Dalam konteks kampus, tempaan serta ujian itu terlihat bagaimana seorang aktivis beradaptasi, bertahan dan berproses dalam kegiatan kampus: bakat-minat, respon terhadap kebijakan universitas dan juga respon terhadap kebijakan negara. Dua belas semester saya hidup menjadi mahasiswa. Berada di tengah-tengah bersama para pegiat dan aktivis lainnya. Mengawali coretan ini, saya akan membedakan dua term yang menurut saya berbeda meski bisa digunakan secara tumpang tindih: pegiat kampus dan aktivis kampus. Pegiat kampus merupakan mahasiswa yang menyemarakkan kehidupan kampus dengan berbagai kegiatan, baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Menurut saya, nalar yang ada di pegiat kampus ada...

Esai yang Memikat seperti Lemon Tea

Oleh: Firdaus Putra A. “Hidup yang tak diperiksa, adalah hidup yang tak pantas didiami”. (Socrates) Mungkin benar apa kata Socrates di atas, “Hidup yang tak diperiksa-dipikirkan, adalah sebuah kehidupan yang tak pantas didiami”. Inilah tradisi yang dikembangkan kaum shopis Yunani dulu. Bagaimana realitas yang sempat mampir perlu, bahkan harus, diperiksa-dipikirkan agar tak sekedar lewat tanpa bekas. Apapun itu! Memeriksa-memikirkan kehidupan sejatinya adalah bagaimana mendayagunakan akal-budi manusia untuk memahami realitas/ peristiwa. Sedangkan seorang penulis bak “Sembari belanja, menyegarkan mata di mall”. Sembari berpikir, ia menuliskan buah pikirannya itu. Dua aktivitas terlampaui dalam sebuah aktivitas yang padat energi dan makna. Sepintas tentang Menulis Pada mulanya menulis esai itu adalah rasa gelisah. Gelisah terhadap apa yang dicerap si penulis. Entah realitas faktual atau imajiner. Realitas itu kemudian ditanya atau dipertanyakan, “Kok begitu se?”. Sederhananya, p...

Unlimited Power: Sebuah Revolusi Energi

Oleh: Firdaus Putra A. Dulu saya tak pernah membayangkan adanya sumber energi “abadi” semacam ini. Jikalau terbayang, hanyalah dalam dongeng Iron Man atau pesawat luar angkasa berbahan bakar nuklir. Itu dulu! Sebut saja Denny Prianto, lulusan STM di Purwokerto yang gemar berselancar dan belajar dari dunia internet menemukan fakta bahwa ada sumber energi abadi yang bersih dan murah. Tentu saja bersih dan murah dibanding dengan nuklir yang beresiko tinggi. Tiga hari yang lalu Denny mempresentasikan hasil penelitiannya itu di ruang Barak Kopkun . Mudahnya, kita sebut dengan generator listrik berbasis magnet. Memang gagasan Denny tidaklah baru. Ia peroleh dari situs perusahaan Lutec – Australia . Namun yang menarik adalah usaha dia untuk menelaah dan mencoba temuan Lutec tersebut bersama teman-temannya. Ia menjelaskan, “Cara kerja alat ini sangat sederhana, yakni berdasar prinsip bahwa kutub magnet sejenis akan tolak-menolak dan sebaliknya. Efek tolak-menolak itu yang jika kita kelo...

Jam Malam yang Menghambat

Oleh: Firdaus Putra A. Secara kultural sulit bagi mahasiswi (perempuan) menyetarai aktivitas/ pengalaman mahasiswa (laki-laki). Lihat saja, pada pukul sembilan malam, mereka sudah harus kembali ke kos/ pondokan/ asrama. Melebihi jam itu, pintu terkunci dan bersiaplah menanggung resiko. Tanggal 23 November yang lalu, saya menyelenggarakan diskusi hingga larut malam. Pukul 23.30 diskusi tentang “Koperasi dan Modal Sosial” itu selesai. Akhirnya, Wahyu, tidak memperoleh pintu masuk. Dia hubungi beberapa teman, hasilnya nihil. Dengan baik Kang Suroto mempersilahkan Wahyu tidur di tempatnya, Perumahan Teluk, bersama adiknya Lastri. Untuk sampai ke sana, Wahyu memesan satu taksi di depan Unsoed. Itulah sepenggal cerita jam malam bagi mahasiswi yang menurut saya menghambat mereka. Bandingkan dengan saya (laki-laki) yang pulang jam berapapun adalah sah. Entah untuk diskusi, ngobrol ngalor-ngidul, internetan di hotspot kampus, mengikuti pembekalan tertentu, dan seterusnya. Tidak ada hambat...