Langsung ke konten utama

Postingan

Koperasi, Negara dan Politik

Beberapa Kenaifan dan Keanehan Gerakan Koperasi Indonesia Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Avant Propos Gerakan koperasi selalu mengumandangkan kemandirian internal dalam rangka membangun organisasi sekaligus usaha agar mengakar dan besar. Dilatari oleh semangat self help, maju-mundur, mati-tidaknya koperasi bergantung pada kemauan kolektif memperjuangkan nasibnya. Artinya, berkembang-tidaknya koperasi adalah murni tanggungjawab anggota koperasi. Bukan yang lain! Dengan perspektif tersebut, gerakan koperasi meletakkan negara pada lingkaran luar anasir. Bahkan mengesampingkan begitu saja ada-tidaknya peran-serta negara (kebijakan pemerintah) mendukung atau tidak gerakan koperasi. Kebijakan negara, dalam konteks yang lebih khusus misalnya kebijakan ekonomi, pun serta-merta diabaikan. Dalam klaim heroisme, kemandirian dan semangat self help nampak begitu memukau. Hanya saja masalahnya, adakah perspektif semacam itu berbasis pada realitas? Atau justru sebuah perspektif yang naïf? Atau a...

Entrepreneurship sebagai Inti Koperasi?

Oleh: Firdaus Putra A. Di beberapa forum koperasi, isu kewirausahaan atau entrepreneurship menjadi menu utama. Semakin dahsyat ditambah dengan klaim bahwa berwirausaha “lebih mulia” dibanding dengan bursa CPNS atau menjadi karyawan swasta. Ada beberapa klaim yang perlu kita uji terkait hal ini. Pertama, hubungan antara kewirausahaan dengan koperasi. Kedua, klaim “lebih mulia” berwirausaha dibanding bekerja pada sektor lainnya. Klaim yang kedua merupakan turunan dari klaim pertama, bahwa wirausaha merupakan core (inti) dari koperasi. Saya akan mencoba menjawab dua klaim itu secara terbalik. Mengapa berwirausaha—jika merupakan inti berkoperasi—adalah “lebih mulia” dan seakan pantas bagi kita (insan koperasi) mencibir yang lain? Cibiran kepada yang lain seakan pantas dengan menyebut diri kita sebagai “gerakan”. Ada kesan sakral di istilah itu. Namun, mengapa kita tidak bisa menyebut mereka dengan “gerakan abdi negara” dan/atau “gerakan profesional ahli”? Mengapa istilah “gerakan” han...

Membongkar Laptop dengan Lezat

Oleh: Firdaus Putra Apa yang paling menegangkan dan menyenangkan beberapa waktu kemarin adalah saat saya membongkar eMachines D720. Mungkin istilah “membongkar” terlalu umum untuk menggambarkan pengalaman itu. Lebih tepatnya “mempreteli” tiap bagian atau jeroan laptop itu. Mulai dari melepas bagian cover depan, melepas monitor, keyboard , kemudian melepas baut-baut di bawah keyboard dan melepas kabel-kabel flexy yang terhubung dengan motherboard . Saya, sekali lagi “mempreteli” tiap bagian itu laksana mengurai satu per satu bagian kepala ikan pindang. Begitu gurih rasanya melihat isi kepala ikan itu. Mulai dari insang, berbagai “hal” di dalam kepala, sampai tulang-tulang kecil itu. Tak ketinggalan juga, matanya. Hampir sama rasanya ketika menjelajahi kepiting untuk mengais daging putihnya yang tertutup kalsium keras di sana-sini. Menegangkan dan mengasyikan, bagaimana saat saya melepas hardisk, dvdrom, ram, dan wireless card yang ternyata kabelnya terhubung dengan monitor. Sa...

Menggagas Media Bersama:

Meningkatkan Efisiensi, Skala Ekonomi dan Modal Sosial pada Persma Oleh: Firdaus Putra,S.Sos. Pengantar Asumsikan budaya membaca di mahasiswa rendah. Di sisi lain, perputaran media oleh persma pada level buletin atau majalah mengalami inflasi. Dimana stok berlimpah namun anemo mahasiswa (baca: pasar) rendah. Akhirnya, beberapa buletin/ majalah persma kurang diminati meski dengan desain yang dinamis dan khas mahasiswa. Pada titik lain, beberapa persma mengalami kesulitan pendanaan. Namun hal ini bisa ditutup oleh variabel dana kegiatan mahasiswa yang diperoleh melalui proposal kegiatan ke fakultas/ universitas. Karena persoalaan pendanaan inilah volume/ oplah terbitan biasanya bergantung pada kemampuan pendanaan sponsor. Masalah yang lain, dalam konteks itu media persma seringkali tak habis terjual karena kurangnya anemo pasar. Memang “tidak ada” resiko rugi karena dana untuk mencetak berasal dari fakultas/ universitas. Hanya saja, perusahaan persma tak pernah dapat mengelola ca...

Hantu Puncak Datang Bulan

Soal Andi Soraya Telanjang Oleh: Firdaus Putra A. “Jangan diliat porno atau tidaknya, tapi kualitas akting pemainnya”, ujar Andi Soraya salah satu pemeran film “Hantu Puncak Datang Bulan”, seperti dikutip oleh Astaga!com Lifestyle on the Net . Film dengan judul aneh itu hanyalah satu dari sekian banyak film hantu-hantuan atau horor komedi di Indonesia. Isi film terkadang asal. Tidak terlalu serius dan hanya mengejar sensasi dengan tempelan judul yang aneh. Coba perhatikan beberapa judul film berikut: Jeritan Kuntilanak, Hantu Binal Jembatan Semanggi, Toilet 105, Hantu Aborsi, Susuk Pocong, Darah Janda Kolong Wewe, Eee… Hantu, Hantu Mupeng, Suster Keramas dan seterusnya. Garis besar cerita berbagai film hantu itu seringkali sama. Maklum, mungkin stok hantu di Indonesia terbatas: pocong, kuntilanak, wewe, dan sejenisnya. Tak ada elaborasi baru yang lebih kreatif. Berbagai penampakan hantu dalam film itu ditampilkan secara vulgar. Bandingkan dengan misalnya film horor Final Destin...

Mediokrat-mediokrat Baru

Membedakan Istilah Pegiat dan Aktivis Kampus Oleh: Firdaus Putra A. Setiap zaman melahirkan anak zamannya masing-masing. Setiap kampus, melahirkan aktivisnya masing-masing. Seleksi alam dengan berbagai lika-likunya, melahirkan aktivis yang tahan banting-tahan uji. Dalam konteks kampus, tempaan serta ujian itu terlihat bagaimana seorang aktivis beradaptasi, bertahan dan berproses dalam kegiatan kampus: bakat-minat, respon terhadap kebijakan universitas dan juga respon terhadap kebijakan negara. Dua belas semester saya hidup menjadi mahasiswa. Berada di tengah-tengah bersama para pegiat dan aktivis lainnya. Mengawali coretan ini, saya akan membedakan dua term yang menurut saya berbeda meski bisa digunakan secara tumpang tindih: pegiat kampus dan aktivis kampus. Pegiat kampus merupakan mahasiswa yang menyemarakkan kehidupan kampus dengan berbagai kegiatan, baik di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) atau Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Menurut saya, nalar yang ada di pegiat kampus ada...

Esai yang Memikat seperti Lemon Tea

Oleh: Firdaus Putra A. “Hidup yang tak diperiksa, adalah hidup yang tak pantas didiami”. (Socrates) Mungkin benar apa kata Socrates di atas, “Hidup yang tak diperiksa-dipikirkan, adalah sebuah kehidupan yang tak pantas didiami”. Inilah tradisi yang dikembangkan kaum shopis Yunani dulu. Bagaimana realitas yang sempat mampir perlu, bahkan harus, diperiksa-dipikirkan agar tak sekedar lewat tanpa bekas. Apapun itu! Memeriksa-memikirkan kehidupan sejatinya adalah bagaimana mendayagunakan akal-budi manusia untuk memahami realitas/ peristiwa. Sedangkan seorang penulis bak “Sembari belanja, menyegarkan mata di mall”. Sembari berpikir, ia menuliskan buah pikirannya itu. Dua aktivitas terlampaui dalam sebuah aktivitas yang padat energi dan makna. Sepintas tentang Menulis Pada mulanya menulis esai itu adalah rasa gelisah. Gelisah terhadap apa yang dicerap si penulis. Entah realitas faktual atau imajiner. Realitas itu kemudian ditanya atau dipertanyakan, “Kok begitu se?”. Sederhananya, p...