Langsung ke konten utama

Menyoal Kapitalisme: Sebuah Pandangan Sementara

Oleh: Firdaus Putra A.

Seringkali aku harus memeras otak ketika kawan-kawan di kampus mengajak diskusi tentang kapitalisme. Meskipun aku pernah menulis secara panjang lebar tentang kapitalisme (silahkan baca beberapa tulisan di blog ini), aku belum menemukan jawaban yang final. Pandanganku terhadap kapitalisme masih mendua. Meskipun di hati kecil, aku selalu berkata “tidak” kepada sistem yang menindas dan mengeksploitasi ini.

Aku tidak pungkiri bahwa kerusakan alam, turunnya kualitas kehidupan manusia, kesenjangan antara si miskin dan si kaya, ketidakadilan ekonomi, dan sebagainya merupakan ekses negatif dari sistem produksi kapitalis. Sebuah sistem yang memusatkan pada akumulasi modal dari hasil produksi yang akan diumpanbalikkan kepada kegiatan produksi lagi.

Sedangkan di sisi lain, sisi hidup kita yang mana yang tidak diisi oleh produk-produk dari sistem produksi kapitalis tersebut. Mulai dari pakaian yang kita kenakan. Di sana ada sejumlah nilai lebih buruh yang tidak dibayarkan, yang diambil oleh si empunya perusahaan atau pabrik (menurut analisis Marxis ortodoks). Pasta gigi, sabun mandi, rokok yang kita hisap sehari-hari. Bahkan, kalau kita ingat, konglomerat terkaya nomor satu di Indonesia adalah the big boss of Sampoerna Tbk disusul beberapa bos besar merk rokok yang lain, seperti Djarum dan Gudang Garam (Kompas). Atau dari teknologi yang kita pakai; komputer yang dikuasai oleh Microsoft (si bos besar Bill Gate), handphone, televisi, motor dari para kapitalis Jepang dan Cina, mobil, dan sebagainya. Aku yakin sebagian besar yang kita konsumsi hari ini merupakan produk dari logika produksi a la kapitalisme.

Nah, persoalan berawal dari hal di atas. Kebanyakan kawan-kawan aktivis ketika berbicara kapitalisme akan dengan serta-merta mengatakan, “harus kita tolak, karena sistem itu menindas dan mengeksploitasi manusia sebagai pekerjanya”. Hanya saja yang belum selesai aku pikirkan, sisi mana yang kita tolak atau kita haramkan? Toh, bagi kebanyakan yang menolak, entah itu per orang atau lembaga, masih mengkonsumsi produk-produk kapitalis. Tidak perlu jauh-jauh, kawan-kawan mahasiswa di kampus saja masih banyak yang menikmati tembakau Sampoerna, Djarum, dan brand mark yang lain. Apakah bisa kita halalkan produknya, tetapi sistem produksinya kita haramkan? Bukankah hal semacam ini belum konsisten dalam kerangka berpikir dan bertindak sebagai bentuk praksis pembebasan?

Menurutku pertanyaan di atas adalah pertanyaan mendasar, apa yang sebenarnya kita tolak dari kapitalisme? Dan bagaimana kita tetap konsisten dalam kerangkan penolakan tersebut?
Pandanganku sementara dari pertanyaan di atas, hari ini kita memang mengkonsumsi produk-produk kapitalis, tetapi pada sisi lain kita tidak bisa memaafkan proses produksi yang dehumanis tersebut. Aku ingin menyatakan—secara sementara—bahwa ada sisi dari kapitalisme yang sifatnya konstruktif bagi kehidupan, yakni produk-produk yang dihasilkannya. Dan pada sisi lain, kapitalisme destruktif dalam kerangka produksinya. Menurutku, pada sisi destruktif itu kapitalisme harus kita tolak atau lawan.

Namun, menolak atau melawan sebenarnya seperti apa juga belum selesai bagiku. Apakah dengan memperjuangkan sistem produksi sosialis bahkan komunis seperti yang diidealkan oleh Marx? Atau dengan cara lain?

Suatu ketika aku membaca transkip diskusi antara Fadjroel Rachman (wakil dari sosialis demokrat) dengan Rizal Mallarangeng (wakil dari neo-liberal), saat itu Rizal sebagai ‘juru bicara resmi’ dari haluan ‘kanan jauh’ mengatakan bahwa tidak ada negara di dunia ini yang seratus persen menerapkan sistem kapitalisme atau sosialisme. Yang ada kecenderungan ke arah tertentu. Karena, masih menurutnya, tidak akan mungkin negara benar-benar lepas tangan terhadap kebutuhan warga negaranya, seperti yang dimaklumkan oleh sistem ekonomi pasar. Seliberal Amerika pun, masih ada jaminan sosial bagi warga negaranya.

Sedangkan pada sisi lain, Fadjroel Rachman menyatakan bahwa hanya satu ruang yang tidak ia sepakati dalam kebebasan, yakni kebebasan ekonomi. Kebebasan politik, baik Rizal maupun Fadjroel bersepakat. Agama, lebih-lebih. Budaya dan sebagainya, kecuali ekonomi kata Fadjroel.
Sedikit membaca transkip diskusi tersebut, meskipun sejatinya tidak sepesifik membahas peratanyaanku di atas, aku mulai berpikir bahwa apa yang mungkin hari ini kita lakukan sebenarnya bukanlah sekedar menolak atau melawan tanpa solusi konkret. Pada poin ini, nampaknya aku lebih sepakat dengan aliran Jalan Ketiga atau the third way-nya Antony Giddens. Dia lebih merumuskan bagaimana hari ini kita memanusiawikan kapitalisme tersebut. Karena tidak seluruhnya dari tubuh kapitalisme adalah haram atau kotor. Aku kira pada titik ini orang-orang dari kubu liberal (baik kiri maupun yang kanan) lebih jujur mengakuinya dari pada orang-orang dari kubu kiri ortodoks.

Persoalan di sini aku rasa bukan sekedar kita mengkonsumsi produk kapitalisme yang seakan-akan sifatnya ‘bebas nilai’. Melainkan sebuah posisi di mana sikap kita yang sejatinya semacam apa. Konsistensi sikap ini lebih aku temukan dalam landscape sosialis demokrat daripada ‘kanan jauh’ maupun ‘kiri jauh’.

Aku meraba alasan kenapa Fadjroel menolak adanya kebebasan ekonomi lebih pada prinsip free fight liberalism-nya, bukan pada sebuah rasionalitas yang secara kreatif memampukan manusia hingga hari ini masih tetap lestari dalam kehidupan. Pada titik ini, aku lebih sepakat dengan Fadjroel. Dan aku rasa orang seperti Fadjroel, entah beliau sepakat atau tidak sebenarnya adalah pengikut madzhab Jalan Ketiga. Aku rasa Fadjroel tidak punya masalah jika kapitalisme melahirkan keadilan. Dan sayangnya tidak! Tapi, sebenarnya yang melahirkan ketidakadilan apakah benar-benar kapitalisme atau justru ‘ruh’ yang berada di dalamnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Dunia Banyak Belajar dari "Chicken Soup":

dari DiaryBlog ke JournalBlog Oleh: Firdaus Putra A. Anda pasti pernah membaca buku Chicken Soup Series pada sekuel hidup tertentu, bukan? Saya membaca buku seperti itu saat duduk di bangku SMA. Cerita-cerita di dalamnya sungguh inspiratif dan membangkitkan semangat. Seringkali, cerita di dalamnya adalah true story , meski tidak harus succes story . Di Indonesia, tetralogi Laskar Pelangi yang dihelat Andrea Hirata bisa digolongkan dalam konteks serupa. Laskar Pelangi dengan kisah pilu dan heroiknya, merupakan teladan nan inspiratif bagaimana si Hirata kecil berusaha menggapai mimpinya ke Paris. Oleh komunitas penulis, buku itu dikategorikan sebagai literary non-fiction . Yakni sebuah karya sastra yang berbasis kisah nyata (non-fiksi). Di luar negeri, banyak buku kisah yang kaya inspirasi serupa Chicken Soup . Salah satu penulis yang termasyhur adalah Paulo Coelho dengan The Alchemist nya. Buku itu berkisah bagaimana seseorang (Santiago) yang ingin mencari dan membangun Per...