Langsung ke konten utama

Tragedi Individualisme

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos.

Semua orang ingin menikmati perayaan pergantian tahun. Tempat-tempat jadi sesak-ramai. Alhasil, ada beberapa titik macet tak terurai. Mundur tak bisa, maju juga tidak. Diam sejenak menunggu yang di depannya.
Masing-masing diri ingin menikmati, mencari kepuasan atas perayaan. Tanpa koordinasi pun komunikasi, tiap diri punya pikiran itu. Memang betul, ini bukan soal pikiran, tapi soal hasrat.
Pada prinsipnya tiap diri punya hak untuk meraih kesenangan apapun. Perayaan tahun baru, contohnya. Atau mengendarai motor-mobil di jalanan. Atau memperoleh jatah lebih dulu dalam antrian. Itu hak dasar soal kebebasan manusia untuk bertindak.
Klimaksnya, saat semua hasrat diri itu bertemu, macet! Kacau! Itulah tragedi individualisme. Sampai batasnya daya dukung ruang-waktu sosial kita tak muat mewadahi semuanya. Akhirnya, dead lock.
Dead lock, sistem terkunci. Semua berhenti dan tentu saja menjadi tak nyaman. Keinginan untuk mencapai kepuasan justru berada di titik balik, lahirlah ketidakpuasan, ketidaknyamanan dan kerugian.
Logika ini muncul tak hanya di perayaan tahun baru saja. Tapi juga muncul di ruang ekonomi. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi 2001, bilang adalah aneh bila para pengusaha minta agar pasar dibebaskan. Persaingan bebas akan buat konsumen senang karena harga makin murah, kata mereka. Klimaksnya, saat daya dukung tak lagi muat, keseimbangan pasar justru hancur. Akhirnya, bukan untung, tapi buntung. Lantas bagaimana? Ada dua kemungkinan, pertama mengajari individu untuk mengelola egonya. Agar ruang-waktu sosial muat untuk semuanya. Cara ini bisa melalui pendidikan, dalam segala bentuknya. Intinya, memberi tahu banyak orang!
Cara kedua diselesaikan oleh supra-individu; Negara lah yang melampaui dan di atas individu. Dengan regulasi tertentu, negara bisa mengatur semuanya!
Selamat tahun baru dan jangan buat macet, ya?
Telah dimuat di Buletin Kopkun Corner Edisi 7 [klik di sini]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Evolusi Ide itu Bermula dari Vacuum Cleaner

Dikisahkan secara subyektif oleh: Firdaus Putra, HC.  Beli Vacuum cleaner Pagi ini saya dapat pesan WA dari Pak Hadi, tukang gorengan yang mangkal di pinggir kampus FISIP, Unsoed. Ia mengirim, “Halo, Mas. Mohon maaf mengganggu waktunya, saya mau balikin vacuum cleaner punya PEDI, harus ketemu siapa?”. Lalu vacuum cleaner itu tiba di Kopkun. Dan pertama kalinya saya lihat dan menyobanya sejak pertama kali dibeli. Jadilah saya ingat memori yang menempel pada  vacuum cleaner itu. Tak ada yang spesial dari bentuk vacuum cleaner di atas. Dibeli sekitar tahun 2017 sebagai inventaris Kopkun Institute. Sebabnya, saat itu Kopkun Institute punya ruang pelatihan beralaskan karpet. Jadilah butuh vacuum cleaner agar bersih dari debu. Lalu Kopkun beli gedung di depan Unsoed, yang sekarang menjadi Kantor Pusat. Aktivitas direlokasi semua ke Kantor Pusat dari sebelumnya di Kopkun 3, Teluk, Purwokerto Selatan. Ruang pelatihan itu jadi tak terpakai, begitu juga si vacuum cleaner . Lahir Ped...

Omnibus Law Koperasi, Pendirian Cukup Tiga Orang

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pemerintah sedang menyiapkan undang-undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja. Tujuannya ciptakan lapangan kerja baru dengan membangun regulasi yang memudahkan masyarakat berbisnis. Pasal pada undang-undang yang dinilai menghambat akan dihapus. Diprediksi omnibus law akan menyelaraskan 82 undang-undang lainnya. Ini terobosan yang luar biasa. Saat ini bila masyarakat ingin mendirikan koperasi, maka harus mengumpulkan sedikitnya 20 orang. Itu mengacu UU 25/ 1992 tentang Perkoperasian. Artinya 20 orang itu harus sepemikiran untuk membangun perusahaan bersama. Tentu tidak mudah, bukan? Bandingkan dengan Perseroan Terbatas (PT) yang cukup dua orang. Menurut saya pasal tentang 20 orang ini perlu dimasukkan dalam omnibus law mendatang.   Mengapa 20 Orang Penjelasan pasal 6 UU 25/ 1992 menyebutkan alasannya karena masalah kelayakan usaha. Mari kita rekonstruksi kondisi pada saat undang-undang itu lahir. Tahun 1990an kondisi ekonomi Indonesia sangat ...

Pak Bi, Orang yang Mau Tahu Detail

Beberapa bulan sebelumnya, sekira empat tahun lalu, tiba-tiba saya menerima panggilan dari nomor asing. Itu lah momen pertama kali kami berkenalan. Beliau menyampaikan perlu dukungan dalam pengembangan suatu koperasi konsumsi tingkat sekunder.   Saya menyapanya dengan “Pak Bi”. Beliau orang yang mau tahu detail. Bila sedang diskusi, akan mencecar habis sampai ke akar. Itu lah yang terjadi bila kami sedang rapat di kantornya, Jakarta.   Presentasi akan dimulai saya dengan uraian konsep makronya. Lalu akan didetailkan oleh tim yang lain. Saat itu, Pak Bi dan Pak Firdaus, serta yang lain, menyimak dengan khidmat. Di tengah-tengah diskusi, beliau bisa langsung interupsi untuk bertanya atau memperjelas.   Beliau sangat teliti menyimak, sehingga kadang saya dan teman-teman merasa grogi. Tambah, secara intelektual beliau terus berpikir. Seperti suatu tempo beliau hubungi saya untuk diskusikan soal bukunya “Sistem Ekonomi Pancasila”. Saya sampaikan secara obyektif, “Konstruksi ne...