Langsung ke konten utama

Postingan

Cola & Mentos

Percaya setelah Mencoba Oleh: Firdaus Putra A. Beberapa hari yang lalu saya menerima informasi dari millist yang menceritakan tentang bahaya Coca Cola dan Mentos. Saya kutipkan kalimat peringatan itu, “A little boy died in Brazil after eating Mentos and drinking Coca-Cola or Pepsi together. One year before the same accident happened with another boy in Brazil . Please check the experiment that has been done by mixing Coca-Cola (or Coca-Cola Light) with Mentos . So be careful with your self eating Mentos (Polo's) and drinking Coca-Cola or Pepsi together. Check this out...” Kalimat itu mengisahkan tentang tewasnya seorang anak di Brazil yang memakan permen Mentos sekaligus dengan minuman Coca Cola. Tidak ada cerita lengkapnya, selain beberapa foto percobaan ditampilkan. Dalam percobaan itu, ketika permen Mentos dimasukan ke dalam botol Coca Cola ukuran 1 liter, terlihat air Cola muncrat ke atas. Tingginya sampai 50 – 100 cm. Saat menerima peringatan berikut foto ilustrasinya...

Mom Never Dies

Oleh: Firdaus Putra A. Kalimat di atas merupakan salah satu judul film Korea. Film itu disadur dari cerita asli yang ditulis oleh Choi In-Ho. Dalam penggarapannya, Haa Myung-Joong menjadi sutradara, yang melalui film itu, terlihat sangat berbakat. Sekurang-kurangnya, berbakat dalam menaik-turunkan intensitas emosi pemirsa. Seperti judulnya, film ini berkisah tentang kasih sayang seorang ibu. Sebutlah ia Miss Lee. Ia mempunyai tiga orang anak; seorang perempuan yang meninggalkan rumah untuk yang pertama. Seorang putra, yang meninggalkan rumah lantaran menikah. Dan Choi In-Ho, putra bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya menitipkan Miss Lee pada penjagaan si bungsu. Si bungsu memiliki bakat menulis, sehingga Miss Lee suka memanggilnya dengan sebutan Tuan Penulis. Kapasitasnya dalam dunia menulis tak bisa diragukan, banyak penghargaan sudah ia terima. Hingga suatu tempo, ia berjumpa dengan seorang perempuan. Ia sangat menyukainya. Hanya saja, si perempuan tidak menyukai Miss Lee...

Surga & Neraka

Jika Keduanya tak Pernah Ada Oleh: Firdaus Putra A. Siang tadi (Jumat, 31 Mei 2008) saya dan seorang teman kelabakan mencari masjid untuk menunaikan salat Jumat. Bukan lantaran masjid yang kami maksud sudah penuh, melainkan karena kami telat. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 12.30 WIB, Masjid Darul Hikmah Grendeng sudah memulai salat Jumat. Akhirnya, kami berdua langsung memacu motor ke Masjid Nurul Ulum. Sesampai di sana, salat Jumat juga sudah dimulai. Awalnya kami ragu untuk masuk. Namun, setelah mengetahui teryata baru berlangsung satu rakaat, kami lantas ikut berjamaah. Lega rasanya! Singkatnya, kami menjadi makmum masbuk yang datang belakangan dan pulang duluan. Teman-teman satu kos yang lain sudah 15 menit yang lalu berangkat. Tentu saja status mereka aman. Dan sangat mungkin, mereka mengira kami tidak menunaikan salat Jumat. Tapi, saya tidak terlalu ambil pusing dengan prasangka mereka. Jumatan tadi siang menjadi menarik ketika sepulang ke kos, teman saya berujar...

Bangsa Inlander;

Kapan Menjadi Leader? Oleh: Firdaus Putra A. Akhir-akhir ini saya gerah menyaksikan tayangan televisi. Khususnya tayangan yang menyajikan bule-bule (orang asing berkulit putih) sebagai pusat hiburan. Ada tayangan Bule Gila, perjalanan bule, ada juga tayangan tentang bule yang ditantang untuk menari di atas panggung. Saya membayangkan, apakah di negara lain ada tayangan serupa? Yakni ketika orang asing menjadi pusat dari tontonan tersebut. Atau apakah orang Indonesia di negara lain, akan sebegitu istimewanya seperti bule Eropa ketika masuk ke negara kita? Dugaan saya tidak seperti itu! Fenomena seperti ini sebenarnya sangat berbahaya. Mengapa? Sekurang-kurangnya, para produser acara televisi memandang bahwa orang bule adalah istimewa. Sebaliknya, orang pribumi adalah biasa, atau justru rendah. Indikasi cara pandang ini terekam kuat dengan menjadikan bule sebagai pusat tayangan. Dalam kajian ilmu sosial, cara pandang seperti itu dapat kita analisis melalui pendekatan post-kolon...

B u k u

Oleh: Firdaus Putra A. “Teman-teman yang saya hormati, seperti biasa secara berkala saya melakukan recall pada semua buku yang keluar. Bisa dikembalikan mulai besok pagi. Saya tunggu. Firdaus. Terima kasih”. Kalimat itu merupakan pesan pendek yang saya kirim ke 15 orang peminjam buku. Di daftar peminjaman buku, terhitung sekurang-kurangnya sebanyak 28 buku koleksi saya keluar. Setelah saya cek, ada yang sudah meminjam selama empat, bahkan lima bulan. Recall, atau meminta buku saya untuk dikembalikan memang saya lakukan secara berkala. Biasanya satu atau dua bulan setelah masa peminjaman. Menurut saya, batas waktu peminjaman satu sampai dua bulan sudah cukup, lebih longgar daripada batas waktu peminjaman buku di perpustakaan fakultas atau universitas yang hanya satu minggu. Mengenai peminjaman buku, dulu saya pernah kecewa. Pasalnya, ada seorang teman, sudah lulus dua tahun yang lalu, yang meminjam sampai setengah tahun. Parahnya, ketika dikembalikan, sampul dan beberapa halama...

3.5% & 96.5%

Oleh: Firdaus Putra A. * Pernyataan "3.5% religius dan 96.5% religiusitas" saya pinjam dari Emha Ainun Najib (Cak Nun). Menurutnya, dari 6000 ayat Quran, hanya 3.5% saja yang berbicara tentang ibadah mahdloh atau ihwal religius. Selebihnya, berbicara masalah ibadah muamalah dalam kerangka religiusitas. Dengan bahasa lain, dari banyaknya ayat Quran, justru sebagian besar berbicara tentang kesalehan sosial yang berada pada landscape kemanusiaan-kemasyarakatan. Pada kuota yang pertama, 3.5%, seperti salat, puasa, zakat, dan seterusnya, sudah sepantasnya kita ikuti ketentuan agama. Prinsipnya, apa yang diperintahkan oleh Tuhan melalui Quran-Hadist, adalah yang boleh. Sedangkan kuota yang terakhir, 96.5%, menganut kaidah apa yang tidak dilarang oleh Tuhan, adalah sesuatu yang boleh dikerjakan. Tulisan ini lebih menyoroti masalah yang terakhir. Pokok permasalahannya adalah agama di ruang publik, bukan privat. Dalam trilogi keberislaman, kita kenal konsep; iman, islam, dan i...

For Smoker

Tentang Kadar Nikotin dan Tar Oleh: Firdaus Putra A. Data ini saya peroleh secara tak sengaja ketika mencari UU atau aturan tentang branding rokok. Sampai ke situs tertentu, saya menemukan PP No. 81 tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Seperti judulnya, PP itu banyak berbicara tentang larangan, pembatasan, sanksi dan seterusnya. Ada beberapa pasal yang membuat saya tertarik, saya kutipkan sebagai berikut, “Pasal 4 (1) Kadar kandungan nikotin dan tar pada setiap batang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1.5 mg dan kadar kandungan tar 20 mg”. Didorong rasa penasaran saya cari beberapa bungkus rokok di kamar. Saya lihat kolom yang menunjukan kadar nikotin dan tar. Ternyata, ada beberapa rokok, jenis, dan merk berbeda yang kadarnya di luar ketetapan. Misal, Gudang Garam Internasional kadar nikotinnya sampai 1.8 mg dengan tar mencapai 30 mg. Tidak berbeda jauh dengan GG Internasional, kadar tar Djarum Super melebihi ...