Langsung ke konten utama

Postingan

Ilusi Negara Islam

Sebuah Resensi Oleh: Firdaus Putra A. Judul lengkap buku itu adalah “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini merupakan hasil riset se-Indonesia pada 24 kota/ daerah di 17 propinsi di Indonesia. Secara umum buku ini mengupas persoalan infiltrasi, perkembangan dan sepak terjang Islam transnasional di Indonesia, seperti PKS, HTI dan seterusnya. Buku ini bisa didownload secara cuma-cuma pada www.bhinnekatunggalika.org . Apa yang menarik dari buku ini bahwa seluruhnya berangkat dari observasi lapangan dan wawancara yang mendalam. Sehingga kita sebagai pembaca bisa menemukan kasus-kasus yang dideskripsikan sangat detail. Seperti pada hal. 29, kasus pengambilalihan masjid Nu yang dilakukan kelompok PKS dan HTI. “Awalnya, sekelompok anak muda datang membersihkan masjid secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, takmir memberinya kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai anggota takmir masjid. Setelah posisin...

Menulis dengan Ekonomis

Oleh: Firdaus Putra A. Seminggu lalu seorang teman dari Jakarta, kebetulan wartawan singgah di kos. Kami ngobrol sampai larut soal tulis-menulis. Ada satu konsep yang sampai sekarang masih aku ingat “ekonomi kata”. Maksudnya bagaimana menggunakan kata secara ekonomis (hemat) saat menulis. Menurutnya saya termasuk orang yang boros kata. Kalimat panjang-panjang. Ya seperti sekarang ini. Tentu saja, saya menulis tanpa beban. Tidak ada batasan jumlah kata atau halaman. Semaunya, secapainya dan serampungnya. Tapi, katanya lagi, pembaca mudah bosan dengan gaya tulisan seperti itu. Cobalah perpendek, ringkas dan berhemat dengan kata. Carilah diksi atau frasa yang padat namun kaya makna. Sebenarnya saya mulai menyadari kekurangan itu. Apalagi saat bertemu dengan kawan Jajang Januar yang tulisannya padat. Dia menulis dengan serius. Setiap kata, frasa dan irama, benar-benar diperhatikan. Beda dengan saya, asal nulis. Jujur saya iri pada Jajang. Ia benar-benar penulis. Selain soal “ekono...

Hidup dalam Detail

Oleh: Firdaus Putra A. I Kita, manusia, cenderung berpikir dalam generalisasi. Padahal, kita hidup dalam setiap detail yang kecil, unik dan tersebar. Detail-detail mulai bangun tidur sampai tidur lagi itulah yang menyusun pola hidup kita. Dalam detail-detail itu pula ratusan bahkan ribuan tindakan kecil tersusun dan akhirnya membentuk suatu pola. Inilah kemudian yang bisa kita sebut sebagai gaya hidup, dalam maknanya yang paling luas. Nah, dalam konteks seperti itu saya termasuk orang yang percaya bahwa tindakan-tindakan kecil itu sangat mempengaruhi perubahan dunia, sekurang-kurangnya kehidupan kita. Tindakan-tindakan kecil itu ibarat pasir yang menyusun istana di tepian pantai. Ia begitu riil dengan dampak yang riil pula. II Saya akan menyuguhkan beberapa ilustrasi dari detail hidup yang seringkali lewat begitu saja. Sebutlah kebersihan tempat hunian bersama dalam rupa kos atau kontrakan. Seberapa sering kita membersihkan kamar atau ruang pribadi? Lalu, seberapa sering kita m...

Kata Kunci Porno

Oleh: Firdaus Putra A. Setiap kali saya online dan melihat blog ini, pasti di “Live Traffic Feed” terekam jejak pengunjung dengan kata kunci “Video Porno Lokal”. Bahkan pernah suatu kali, jejak itu muncul berurutan empat sampai lima pengunjung. Saya menyangka pengunjung itu “terjebak” dari kata kunci yang mereka gunakan untuk meng-googling . Pasalnya, saat saya cek dengan memasukan kata kunci “Video Porno Lokal” blog ini muncul pada halaman pertama di urutan tiga teratas pada mesin pencari Google. Sebenarnya saya merasa senang, dengan “keterjebakan” itu blog traffic saya senantiasa ramai. Namun, saya merasa iba juga dengan para pengunjung yang merasa “terjebak”. Memang dalam blog ini ada satu dua judul yang mengupas tentang “Video Porno Lokal”. Tulisan itu berisi tentang analisis kasar saya terhadap menjamurnya video porno yang diproduksi oleh anak negeri ini. Tentu saja tulisan para pengunjung tak akan mendapati ihwal erotisme atau sensualitas apalagi link video porno. Beberap...

Warteg Depan FISIP

Oleh: Firdaus Putra A. Warung itu terletak tepat di depan kampus FISIP UNSOED. Dari tahun 1993 secara fisik tidak banyak mengalami perubahan. Masih sama, dinding penuh tempelan pamflet. Kayu yang lusuh. Atap bagian dalam yang juga tak putih terang. Untuk sebagian orang warung itu sekedar tempat makan, ngopi dan nongkrong. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai ruang publik nan mencerahkan. Warteg depan FISIP tercatat sebagai saksi hidup dinamika gerakan mahasiswa, aktivis LSM, pegiat komunitas indie, band indie, aktivis parpol, wartawan di Purwokerto. Dari sana juga berbagai gagasan dan aksi perubahan lahir. Di lain sisi, sudah tak terbilang puluhan aktivis, anggota dewan, wartawan dan seterusnya juga lahir dari sana. Warung itu bukan sekedar warung makan. Ia, warteg, sudah menjadi ruang publik, ruang milik bersama yang mempertemukan berbagai komunitas di Purwokerto. Ia, warteg, telah melibas batas-batas yang ada. Ia, warteg, juga telah melampaui generasi. Hari Jum’at malam ...

Melati Jaya Giri

Oleh: Firdaus Putra A. “Melati dari Jaya Giri …” bolak-balik aku putar tembang kenangan itu. Aku punya kesan yang dalam khusus pada “Jaya Giri”. Aku belum pernah ke sana. Tapi aku merasakan sesuatu yang begitu dalam dan seakan sudah mengenalnya. Setelah sekian lama mencarinya, aku peroleh lagu ini dari dosenku, Pak Rawuh. Katanya beliau punya banyak koleksi tembang-tembang kenangan. Dia sendiri putar lagu itu dengan piringan hitam. Wow … benar-benar klasik. Sedang laguku ini, sudah di MP3-kan. Tapi kesan klasik itu masih tersisa. Suara musik yang sangat sederhana dengan aransemen yang juga sederhana. Pada masalah lagu, aku mungkin tergolong orang yang konservatif. Meski banyak lagu-lagu berganti dalam genre pop, belum ada yang menandingi kesan tembang kenangan. Memang, aku anak zaman pop. Hanya saja aku dibesarkan di tengah bapak-ibu yang demen tembang kenangan. Aku masih ingat, dulu saban hari ibuku memutar “Gelas-gelas Kaca”, “Teluk Bayur”, “Hitam-Putih Potomu” dan lainnya. ...

Golongan Putih

Oleh: Firdaus Putra A. Beruntunglah klaim “Golongan Putih” (Golput). Ia tidak terkena logika oposisi biner. Justru, ia membalik logika itu. Putih menjadi tak sama dengan memilih. Hitam sama dengan tidak memilih. Namun, di tahap berikutnya, ia belum selamat. Oposisi biner masih saja beroperasi. Golput sama dengan tidak memilih-tidak mencontreng. Dan yang mencontreng, sama dengan memilih. Padahal, tidak memilih pun adalah pilihan. Itu semestinya. Ia juga belum selamat, Golput sama dengan pengecut, juga pecundang. Golput menjadi segolongan yang berpangku tangan. Ia tak turut menentukan. Lagi-lagi ia tak selamat, menyontreng sama dengan warga negara yang baik. Golput adalah warga negara yang tak baik. Itulah kontestasi wacana yang tengah diadu di ruang publik. Berbagai rasionalisasi mengalir deras, baik dari pro-Golput, lebih-lebih kontra-Golput. Tak kurang-kurang, otoritas agama bermain tangan dengan fatwa kontra-Golput. Golput menjadi segolongan yang “dihajar” dari sana-sini. Seca...