Langsung ke konten utama

Postingan

Romansa Cyber

Oleh: Firdaus Putra A. Kembali lagi saya posting soal buku. Berbeda dengan dua buku yang lalu, buku ini relatif lebih tipis dan renyah. Judul panjangnya “Romansa Cyber, Lika-liku Hubungan Romantis di Internet”. Buku yang ditulis oleh Yayan Sopyan ini saya kira berangkat dari observasi langsung. Isinya secara umum seperti judulnya, lika-liku romansa atau kisah cinta di internet. Penulis mengawali dengan sebuah dialog (dengan pembacanya), “Namaku Sadasa Bara. Panggil aku dasabara”. Gaya penulisannya laiknya sebuah novel yang mengalir, mungkin seperti Dunia Shopie, namun lebih renyah buku ini. Secara bulat buku ini dibagi menjadi 18 bagian. Setiap bagian penulis eksplor secara runtut-tuntas-bernas. Menariknya, pada setiap ulasan penulis langsung memberikan contoh atau ilustrasi situasi yang mungkin terjadi. Hingga pantas saja kalau kita klaim buku ini sebagai guid saat beromansa di dunia lain, dunia maya. Pada bagian awal ia menulis soal “Dunia yang Lain, Dunia yang (Agak) Berbeda”....

Hidup Tanpa Ijazah

Oleh: Firdaus Putra A. Buku ini tebal, sangat tebal. Pada halaman akhir 1329-1330 Ajip Rosidi, penulis buku ini, menjelaskan kalau harga normal otobirografinya mencapai Rp. 300.000. “Karena harga itu terlalu mahal buat kebanyakan pembeli”, katanya, “maka kami mengikuti saran Saudara Parakitri T. Simbolon agar mengusakan subsidi silang dengan menawarkan kepada sejumlah orang yang bersedia membeli edisi khusus dengan harga khusus (yang lebih mahal) sehingga cetakan pertama buku ini dapat dijual dengan harga Rp. 95.000 per eksemplar”. Sebenarnya saya tak berpikir untuk membeli buku tebal ini. Awalnya tujuan saya ingin mengambil “Bentara” yang merupakan kumpulan esai-esai kolumnis-esais nasional pada harian Kompas. Sesampai di Jogja Agency Purwokerto (JAP), salah satu toko buku di lingkungan kampus UNSOED, saya justru tertarik dengan judul “Hidup Tanpa Ijazah”. Beberapa menit saya menimbang-nimbang di antara tangan kanan-kiri, di antara “Bentara” atau “Hidup Tanpa Ijazah”. Sayangnya,...

Ilusi Negara Islam

Sebuah Resensi Oleh: Firdaus Putra A. Judul lengkap buku itu adalah “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini merupakan hasil riset se-Indonesia pada 24 kota/ daerah di 17 propinsi di Indonesia. Secara umum buku ini mengupas persoalan infiltrasi, perkembangan dan sepak terjang Islam transnasional di Indonesia, seperti PKS, HTI dan seterusnya. Buku ini bisa didownload secara cuma-cuma pada www.bhinnekatunggalika.org . Apa yang menarik dari buku ini bahwa seluruhnya berangkat dari observasi lapangan dan wawancara yang mendalam. Sehingga kita sebagai pembaca bisa menemukan kasus-kasus yang dideskripsikan sangat detail. Seperti pada hal. 29, kasus pengambilalihan masjid Nu yang dilakukan kelompok PKS dan HTI. “Awalnya, sekelompok anak muda datang membersihkan masjid secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, takmir memberinya kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai anggota takmir masjid. Setelah posisin...

Menulis dengan Ekonomis

Oleh: Firdaus Putra A. Seminggu lalu seorang teman dari Jakarta, kebetulan wartawan singgah di kos. Kami ngobrol sampai larut soal tulis-menulis. Ada satu konsep yang sampai sekarang masih aku ingat “ekonomi kata”. Maksudnya bagaimana menggunakan kata secara ekonomis (hemat) saat menulis. Menurutnya saya termasuk orang yang boros kata. Kalimat panjang-panjang. Ya seperti sekarang ini. Tentu saja, saya menulis tanpa beban. Tidak ada batasan jumlah kata atau halaman. Semaunya, secapainya dan serampungnya. Tapi, katanya lagi, pembaca mudah bosan dengan gaya tulisan seperti itu. Cobalah perpendek, ringkas dan berhemat dengan kata. Carilah diksi atau frasa yang padat namun kaya makna. Sebenarnya saya mulai menyadari kekurangan itu. Apalagi saat bertemu dengan kawan Jajang Januar yang tulisannya padat. Dia menulis dengan serius. Setiap kata, frasa dan irama, benar-benar diperhatikan. Beda dengan saya, asal nulis. Jujur saya iri pada Jajang. Ia benar-benar penulis. Selain soal “ekono...

Hidup dalam Detail

Oleh: Firdaus Putra A. I Kita, manusia, cenderung berpikir dalam generalisasi. Padahal, kita hidup dalam setiap detail yang kecil, unik dan tersebar. Detail-detail mulai bangun tidur sampai tidur lagi itulah yang menyusun pola hidup kita. Dalam detail-detail itu pula ratusan bahkan ribuan tindakan kecil tersusun dan akhirnya membentuk suatu pola. Inilah kemudian yang bisa kita sebut sebagai gaya hidup, dalam maknanya yang paling luas. Nah, dalam konteks seperti itu saya termasuk orang yang percaya bahwa tindakan-tindakan kecil itu sangat mempengaruhi perubahan dunia, sekurang-kurangnya kehidupan kita. Tindakan-tindakan kecil itu ibarat pasir yang menyusun istana di tepian pantai. Ia begitu riil dengan dampak yang riil pula. II Saya akan menyuguhkan beberapa ilustrasi dari detail hidup yang seringkali lewat begitu saja. Sebutlah kebersihan tempat hunian bersama dalam rupa kos atau kontrakan. Seberapa sering kita membersihkan kamar atau ruang pribadi? Lalu, seberapa sering kita m...

Kata Kunci Porno

Oleh: Firdaus Putra A. Setiap kali saya online dan melihat blog ini, pasti di “Live Traffic Feed” terekam jejak pengunjung dengan kata kunci “Video Porno Lokal”. Bahkan pernah suatu kali, jejak itu muncul berurutan empat sampai lima pengunjung. Saya menyangka pengunjung itu “terjebak” dari kata kunci yang mereka gunakan untuk meng-googling . Pasalnya, saat saya cek dengan memasukan kata kunci “Video Porno Lokal” blog ini muncul pada halaman pertama di urutan tiga teratas pada mesin pencari Google. Sebenarnya saya merasa senang, dengan “keterjebakan” itu blog traffic saya senantiasa ramai. Namun, saya merasa iba juga dengan para pengunjung yang merasa “terjebak”. Memang dalam blog ini ada satu dua judul yang mengupas tentang “Video Porno Lokal”. Tulisan itu berisi tentang analisis kasar saya terhadap menjamurnya video porno yang diproduksi oleh anak negeri ini. Tentu saja tulisan para pengunjung tak akan mendapati ihwal erotisme atau sensualitas apalagi link video porno. Beberap...

Warteg Depan FISIP

Oleh: Firdaus Putra A. Warung itu terletak tepat di depan kampus FISIP UNSOED. Dari tahun 1993 secara fisik tidak banyak mengalami perubahan. Masih sama, dinding penuh tempelan pamflet. Kayu yang lusuh. Atap bagian dalam yang juga tak putih terang. Untuk sebagian orang warung itu sekedar tempat makan, ngopi dan nongkrong. Sebagian yang lain menganggapnya sebagai ruang publik nan mencerahkan. Warteg depan FISIP tercatat sebagai saksi hidup dinamika gerakan mahasiswa, aktivis LSM, pegiat komunitas indie, band indie, aktivis parpol, wartawan di Purwokerto. Dari sana juga berbagai gagasan dan aksi perubahan lahir. Di lain sisi, sudah tak terbilang puluhan aktivis, anggota dewan, wartawan dan seterusnya juga lahir dari sana. Warung itu bukan sekedar warung makan. Ia, warteg, sudah menjadi ruang publik, ruang milik bersama yang mempertemukan berbagai komunitas di Purwokerto. Ia, warteg, telah melibas batas-batas yang ada. Ia, warteg, juga telah melampaui generasi. Hari Jum’at malam ...