Langsung ke konten utama

Postingan

Yes, We Can Change!

Oleh: Firdaus Putra Adalah Obama yang pernah buktikan mantra itu, “Yes, We Can Change!”. Perubahan selalu saja merupakan kata sarat makna. Menyiratkan keadaan yang berbeda, masa kini dan masa lampau. Dan hukumnya, perubahan itu adalah keniscayaan. Masalahnya, kadang sebagian dari kita tak terlalu suka dengan perubahan. Perubahan selalu mambawa goncangan. Entah kecil atau besar. Level permukaan atau bangunan dasar. Goncangan itulah yang membuat sebagian kita kurang nyaman. Meskipun, dalam slogan atau jargon, kita selalu bersepakat dengan mantra itu. Begitupun dengan koperasi. Harus ada perubahan, contoh sederhana berapa banyak koperasi yang gunakan logo melulu itu-itu saja. Ya, logo pohon beringin yang dilingkari roda gerigi, padi dan kapas. Logo itu nempel sudah berpuluh tahun lalu tanpa pernah ditanya, “Adakah itu menarik yang buat orang selalu teringat?”. Tentu saja itu contoh sederhana dari sebuah perubahan. Yakni perubahan lapisan “kulit”. Namun, jangan salah, tan...

Comfort Zone

Oleh: Firdaus Putra Eddington terus menanya efek gravitasi matahari pada alam semesta. Pada 1919 ia naik ke bukit di Afrika Selatan memotret gerhana matahari. Sebelumnya, ilmuwan Inggris ini intensif bersahabat pena dengan Einstein. Hasilnya, temuan Newton dulu kala terbantah oleh teori Einstein. Dan Eddington lah yang membuktikan secara empiris teori ilmuwan Jerman itu. Itu terjadi karena dia berani keluar dari zona nyaman. Zona nyaman itu sejenis keadaan tanpa rasa cemas. Keluar dari zona nyaman sama halnya siap menghadapi masalah, resiko, beban dan sebagainya yang berujung pada berlipatnya rasa cemas. Namun, kesiapan menghadapi rasa cemas itulah titik pangkal perubahan. Perubahan, kata ahli manajemen Peter Drucker, selalu munculkan turbulensi/ goncangan. Orang tak suka dengan goncangan. Ada shock di sana-sini. Mulai dari pola, aturan sampai budaya kerja, misalnya. Alergi pada goncangan ini buat orang lebih memilih nempel terus pada pola lama. Pantikan perubahan se...

Menghayati Ruang dan Waktu

Oleh: Firdaus Putra Bus melintas persis beberapa sentimeter di sebelah kanan saya. Dan di kiri, mobil dengan kecepatan yang hampir sama seolah mengimbangi lajunya. Dan saya berada di antara dua makhluk besar itu. Dalam kecepatan tinggi, saya sempat berpikir bagaimana kacaunya kita menghayati ruang dan waktu. Seharusnya saya menghayati sebuah ruang-waktu. Namun, dalam kecepatan tinggi itu, saya hanya sempat menghayati waktu minus ruang. Ruang berganti sepersekian detik di depan mata. Sehingga sulit mengatakan saya berada “dimana”. Pada detik ke lima, saya sudah berada di depan mobil dan bus tadi. Saya tak lagi berada di antara ruang yang dihimpit mobil dan bus. Pada detik kesekian saya sudah berada di ruang yang nyaris lengang. Tak ada yang menghimpit lagi, yang ada adalah jalan raya sebagaimana mestinya. Dalam sebuah perjalanan ruang menjadi kabur. Ruang menjadi serupa slide show yang diputar dengan kecepatan tinggi. Tak ada jeda atau spasi. Melainkan pergantian susul-menyusul ...

Tujuh Belasan

Pinang itu dipanjat beramai. Ada beberapa hadiah menggantung di ujungnya. Tapi, sekali-kali ini bukan soal hadiah. Tujuh belasan, dengan berbagai renik kegiatan adalah soal waktu publik. Waktu publik itu mempertemukan segenap warga. 17 Agustus memberikan ruang-waktu bagi warga berkumpul dan bersosialisasi. Dan kumpulan itu mengambil tema “Indonesia Merdeka”. Namun bukan tema itu intinya. Melainkan bagaimana tujuh belasan jadi bagian dari masyarakat dan mampu sejenak mengerem laju aktivitas regular. Pada tanggal itu, setiap orang serasa keluar dari kebiasaan. Secara “resmi” orang boleh bermain. Boleh tertawa dan bersuka cita tanpa malu-segan. Bahkan, di beberapa desa/ kota, kegiatan didesain sedemikian rupa sehingga menggoyang pakem; sepakbola bapak-bapak memakai daster, lomba masak bapak-bapak dan sebagainya. Tujuh belasan muncul sebagai lem sosial. Berkumpul antara tua, muda bahkan anak-anak dalam spirit yang sama: merayakan dengan penuh suka cita Indonesia Merdeka. Di sini o...

Nasionalisme Orang Muda

Mungkin untuk orang muda, 17 Agustus tak sesakral bagi kalangan tua apalagi para veteran. Hari Kemerdekaan itu boleh jadi dihayati secara berbeda; Peringatan hari besar nasional yang pada hari itu diliburkan dan dipenuhi berbagai perlombaan. Tidak lebih. Ini soal bagaimana orang muda memaknai keindonesiaannya. Memaknai dirinya bagian dari Indonesia, negeri yang kebanyakan orang mudanya menggunakan fesbuk, BB dan berbagai gadget canggih lainnya. Memaknai keindonesiaan sama halnya dengan menyoal nasionalisme. Lantas apakah orang muda itu tak lagi nasionalis? Atau justru mereka mempunyai makna lain nasionalisme? Bersama Dewan Ketahanan Nasional, Tempo Institute pernah menggelar sayembara esai bertajuk “Nasionalisme a la Gue” pada 2009 & 2010. Dan benarlah, pada orang muda, nasionalisme dimaknai secara kreatif dan menemukan bentuk yang lebih cair. Nasionalisme usang seperti; mengikuti upacara, mengerek bendera di depan rumah, berbaju batik dan sebagainya, nyaris mereka k...

Misteri

Pada mulanya adalah cinta dengan remah-remah hasrat. Bukan sesuatu yang serius. Tapi hal yang menyenangkan, penuh dengan kenikmatan. Itulah awal mula suami-istri bersatu tubuh. Memintal tubuh dengan tubuh. Persatuan ragawi penuh peluh. Mungkin lebih sering spontan daripada terencana. Beroleh nikmat dan kepuasan. Berbonus pertemuan sel spermatozoa dan ovum. Di sana, di persatuan ragawi penuh peluh itu, ada motif rekreasi dan prokreasi. Lebih sering rekreasi berbonus prokreasi, mungkin. Sampai hari tertentu, si istri girang. Ia mengandung. Sebuah proses rumit yang tak terpadani dengan kecanggihan komputer manapun. Sang suami bangga-bahagia. Ia bakal jadi Ayah. Dan kamu, bakal jadi anaknya. Kamu lahir di angka kurang-lebih sembilan bulan pasca asyik di rahim Ibu. Masuk ke dunia yang tak pasti, yang tak seperti rahim ibumu. Semuanya serba tak pasti hingga kamu sering menangis untuk memastikan semua keinginanmu terpenuhi. Praktis, kamu belum bisa bicara. Dan tangismu adalah suara un...

Sesal Itu

Hal itu terlewat begitu saja. Beberapa kali tersampaikan, tak jua terpahami. Ya, saat itu amarah dan rasa kecewa medominasi. Semua hal adalah kesalahannya. Bukan kesalahanku! Saat amarah mulai reda, kuperiksa kembali apa-apa yang terucap. Dan itu, begitu memalukan. Tak sepantasnya kukatakan kata-kata kasar semacam itu. Apalagi kepadanya. Seorang perempuan yang begitu halus tutur katanya dan lembut perasaannya. Pikiran jernih hadir. Dan kuingat kembali sekuel pertengkaran itu. Oh, my God! Aku keterlaluan. Kutimpakan semua kesalahan padanya. Itupun seandainya kesalahan. Atau sesuatu yang menurutku salah dan bisa jadi tidak. Aku pikir aku pengecut untuk menerima kenyataan. Aku menyalahkannya tanpa mau tahu situasi yang dia alami. Dan itu, saat aku tahu, membuatku malu dan begitu menyesal. Dalam kejernihan pikiran kubuka beberapa pesan-pendeknya satu bulan lalu. Dan jelaslah fakta di sana, ia mengalami situasi yang sulit. Ia tidak sedang memperumit keadaan. Melainkan ada kondisi ob...