Langsung ke konten utama

Postingan

Ihwal Romantis

Oleh: Firdaus Putra Akan kukisahkan padamu seperti apa itu romantis. Kucatat manuskrip ini di bawah pengaruh Ode To Joy dan Fur Elise -nya Beethoven. Kuputar keras-keras pada earphone hingga penuhi gendang telinga dan seluruh memoriku. Dan sayangnya, aku tetap gagal rangkai metafor untuk sebuah puisi. Aku lebih bisa berpanjang-lebar dalam kata. Kuakui saat mencatat ini aku betul-betul mabuk kepayang. Ya … sebuah momen ekstase tentang perasaan yang tak terpermanai itu. Rasa yang begitu membahagiakan, hingga aku bisa lupakan segala ihwal. Rasa yang membuncah begitu saja. Dan tangan ini, hanya ikuti aliran rasa itu. Aku bisa rasakan sesyahdu apa Beethoven saat pimpin orkestra mainkan Ode To Joy . Kusaksikan, dalam film itu, dikawal Anna Holtz (Diane Kruger), matanya memejam-membuka ikuti gerak Holtz. Dan tangan itu, begitu lincah menjulur-julurkan tongkat konduktor. Di panggung itu, di depan ribuan mata, ia begitu agung. Aku lebih suka memadukan ihwal romantis pada ...

Joyeux Anniversarie: 900 Words For You

Oleh: Firdaus Putra Saya mulai sadar tentang hari ulang tahun ketika SMP dulu kala. Sebelumnya tak pernah ada ucapan atau perayaan khusus. Tentu berbeda dengan yang sedari kecil ulang tahunnya senantiasa dirayakan keluarga. Dan semuanya mengarah pada makna bahwa perayaan ulang tahun merupakan momen sosial, bukan individual. Adanya perayaan mengandaikan adanya orang lain. Saya jadi ingat film Into The Wild. Film berdasar kisah nyata ini berakhir tragis. Kisah ini tentang seorang pemuda broken home . Ia tinggalkan keluarganya, melakukan petualangan, bermukim dari satu ke komunitas yang lain. Sampai akhirnya ia merasa perlu hidup di Alaska untuk mencari makna hidup. Di Alaska, hutan itu, ia hidup sendirian di dalam mobil karavan yang lama ditinggal pemiliknya. Berbekal peralatan survival ia bertahan. Hari-harinya ia isi dengan membaca buku dan menulis diary. Dan suatu ketika ia sakit. Sendirian di tengah hutan ia cari tumbuhan yang bisa ia makan. Naasnya, ia salah mem...

Koperasi, Kumpulan Uang atau Uwong?

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Koperasi Kampus Unsoed (Kopkun) pernah buat poling sederhana. Apakah koperasi kumpulan orang atau modal? Hasilnya, 63% responden dari 200an orang menjawab kumpulan modal. Bisa jadi pemahaman inilah yang membuat organisasi koperasi banyak disalahgunakan. Tiga tahun lalu, di Purwokerto pernah muncul kasus KSP Bahteramas. Kerugian atas kasus itu mencapai 8 milyar dari kurang lebih 23.000 nasabahnya (calon anggota). Ditambah 927 orang karyawannya kena tipu. Kasus itu sempat ramai dan buat masyarakat jadi was-was. Khawatir kalau simpanan mereka dibawa kabur juga oleh pengelola atau pengurus koperasinya. Kemudian, tiga minggu lalu (28/ 2) , di Wonosobo ada koperasi di demo anggotanya. Media mengabarkan bahwa para nasabah KSP Surya Sejatera kecewa dengan tindakan debt collector yang memaksa mereka melunasi hutang. Padahal, menurut mereka, semua hutang sudah lunas. Ironisnya, kasus-kasus seperti itu juga pernah terjadi di beberapa kota lain. L...

Think Across

Oleh: Firdaus Putra Salah satu resep Singapura berjaya, kata Profesor Neo dan Chen, adalah karena mereka berpikir melintasi batas/ sekat. Mereka tak ragu untuk meminjam khazanah dari negeri lain. Juga tak malu untuk mencobanya di negeri sendiri. Berpikir melintas atau think across adalah bagaimana kita terbuka terhadap khazanah yang lain. Khazanah bisa berasalah dari praktik/ pengalaman yang pernah dilakukan pihak lain. Juga bisa dari berbagai media yang kita baca: buku, koran, majalah, film, teve dan seterusnya. Berbagai khazanah itu memuat pengetahuan tertentu. Syarat agar bisa berpikir melintas tentu kita tak boleh jumawa. Dalam artian merasa diri paling hebat atau paling benar. Berpikir melintas menyaratkan orang jadi pembelajar. Menempatkan diri bukan sebagai pusat di tengah lingkaran. Melainkan sebagai satu titik di antara ribuan titik pembentuk lingkaran itu. Pepatah me...

Mulya Sesarengan Koperasi

Oleh: Firdaus Putra Melaui resolusi Nomor A/Res/64/136, PBB menetapkan tahun 2012 ini sebagai Tahun Koperasi Internasional. Resolusi itu merupakan pengakuan terhadap gerakan koperasi di dunia. Tak kecuali di Indonesia, yang dulu punya kooperator sejati, Bung Hatta. Bagi gerakan koperasi, tahun ini merupakan momen untuk kembali menyegarkan visi: mulya sesarengan atau mulia-sejahtera bersama. Pertanyaannya, bagaimana cara koperasi mencapainya? Kredit sudah membudaya di masyarakat. Namun boleh jadi orang lupa makna kredit yang berasal dari Bahasa Latin, credere yang berarti saling percaya. Ada teladan bagus, di Purwokerto credere itu dirawat baik oleh Credit Union (CU) Cikal Mas. Berbeda dari bank, nasabah CU harus jadi anggota. Mereka peroleh pendidikan dasar perkoperasian. Melalui pendidikan itulah credere ditanamkan. Sebelum meminjam, CU melatih anggotanya untuk menabung. Hukumnya, siapa yang menanam dialah yang memanen. Itu saja belum cukup. Anggota akan dilatih pinj...

Tragedi Individualisme

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Semua orang ingin menikmati perayaan pergantian tahun. Tempat-tempat jadi sesak-ramai. Alhasil, ada beberapa titik macet tak terurai. Mundur tak bisa, maju juga tidak. Diam sejenak menunggu yang di depannya. Masing-masing diri ingin menikmati, mencari kepuasan atas perayaan. Tanpa koordinasi pun komunikasi, tiap diri punya pikiran itu. Memang betul, ini bukan soal pikiran, tapi soal hasrat. Pada prinsipnya tiap diri punya hak untuk meraih kesenangan apapun. Perayaan tahun baru, contohnya. Atau mengendarai motor-mobil di jalanan. Atau memperoleh jatah lebih dulu dalam antrian. Itu hak dasar soal kebebasan manusia untuk bertindak. Klimaksnya, saat semua hasrat diri itu bertemu, macet! Kacau! Itulah tragedi individualisme. Sampai batasnya daya dukung ruang-waktu sosial kita tak muat mewadahi semuanya. Akhirnya, dead lock. Dead lock , sistem terkunci. Semua berhenti dan tentu saja menjadi tak nyaman. Keinginan unt...

The Logical Fallacy of “How Islamic are Islamic Countries?”

Sebuah Tanggapan atas Tanggapan Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Pada 5 November lalu, Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah mengulas artikel “How Islamic are Islamic Countries?” Artikel itu merupakan hasil penelitian Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University. Selang beberapa hari kemudian, di media berbeda, Bachtiar Effendy, Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah melempar tulisan senada. Komarudin dan Bachtiar sama-sama menguatkan temuan Rehman dan Askari itu. Temuan Rehman dan Askari memang mengejutkan. Selandia Baru merupakan negara paling islami, berbanding terbalik misalnya dengan Republik Islam Iran pada rangking 163, Republik Mesir 153, pun Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam, rangking 140. Artikel 37 halaman itu menjelaskan bagaimana nilai-nilai islami yang diajarkan dalam masyarakat Islam seharusnya berpengaruh pada aspek kehidupan: sosial, ekonomi, dan politik suatu negara. Nilai yang dibuat sebagai indikator penelitian itu ...