Langsung ke konten utama

Postingan

Codex Alimentarius

Soal konsumen pepatah lama bilang, “Pembeli adalah raja”. Bisa jadi benar, boleh juga salah. Akan jadi benar bila kita sedang menawar barang/ jasa. Semua yang diminta akan mereka beri. Bak raja, bukan? Namun sebenarnya tak semuanya “diberi”. Kita kenal ada istilah “rahasia dapur”. Jadilah pembeli tak lagi seperti raja. Kadang ada saja yang disembunyikan dari “si raja”. Entah kualitas, bahan pembuatan, dampak jangka panjang dan sebagainya.                                     Ada novel sains fiksi berjudul “Codex, Konspirasi Jahat di Atas Meja Makan Kita” karangan Rizki Ridyasmara. Ceritanya tentang zat kimia yang sering dipakai dalam makanan olahan, misalnya mono sodium glutamate (MSG), aspartame dan lainnya. Dampak jangka panjang zat kimia itu bisa mematikan!         ...

The Day of Music

Oleh: Firdaus Putra Saya akan ajak Anda ke era 70an dimana Yesterday, Let it be jadi lagu favorit masa itu. Era itu kita kenal sebagai New Age. Era dimana individualisme akut dan masyarakat mengalami kegersangan secara sosial pun spiritual. Dan The Beatles, pelantun Yesterday itu, adalah anak zaman New Age.                                                          Lagu-lagunya bernuansa kebajikan, spiritualisme dan reflektif. Memang betul, mereka ingin mengembalikan kegairahan hidup pada kedalaman makna. Bukan sekedar lagu pop picisan.                                                                    Di Indonesia boleh jadi visi The Beat...

Tentang Pengabdian

Oleh: Firdaus Putra Saya lebih suka menyebutnya dengan “pengabdian” daripada “pemberdayaan”. Yang pertama mengisyaratkan bahwa pengabdi itu “lebih rendah” daripada yang diabdi. Yang diabdi tentu saja yang saya maksud adalah masyarakat. Oleh karenanya jadi benar, bahwa posisi masyarakat “lebih tinggi” daripada individu.                      Sedangkan “pemberdayaan” mengesankan bahwa masyarakat itu “tak berdaya”. Dan posisi pemberdaya tentu saja jadinya lebih tinggi. Kalau kita translasi ke bahasa Inggris, jadilah pemberdayaan itu dari “yang powerfull kepada yang powerless”.                                                     ...

Amor fati

Oleh: Firdaus Putra Berkata “ya” pada kehidupan, itulah terjemah bebas dari amor fati. Sebuah sikap penerimaan atas segala ihwal yang kita alami. Artinya menerima keadaan baik   suka-cita pun juga duka-cita.                                                 Amor fati mengajarkan hidup untuk senantiasa mencintai kehidupan berikut pernak-perniknya. Bukan sikap kekanak-kanakan yang “ya” pada suka-cita dan “tidak” pada duka-cita. Melainkan, keduanya.                       Namun, amor fati tak sama dengan menerima nasib begitu saja. Justru sebaliknya, di dalamnya terkandung makna proses “menjadi” yang terus-menerus (on being process). Karenanya, amor fati adalah sikap ketegaran di satu sisi dan optimisme di sisi lain.              ...

Guerin and Miss Lee

Oleh: Firdaus Putra Akar sejarah Hari Ibu di Indonesia lebih menarik dibanding di Eropa, misalnya. Di sebagian Eropa, Mother’s Day merupakan pengaruh dari tradisi Yunani pada pemujaan Dewi Rhea, ibu segala dewa.                            Sedang di Indonesia, sejarah hari ibu terkait erat dengan perjuangan perempuan dalam kemerdekaan republik ini. Sampai akhirnya pada 1959, Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden No. 316, bahwa 22 Desember sebagai Hari Ibu.                                                                   ...

Altruisme

Oleh: Firdaus Putra Soal altruisme sebenarnya saban waktu kita tonton. Misalnya melalui film-film genre Super Hero produksi Hollywood. Mulai dari Superman, Batman, Cat Woman, Iron Man dan tentu saja si Manusia Laba-laba. Semuanya berkisah ihwal pengorbanan untuk sesuatu yang dianggap mulia.                                                                                        Meski tren film Super Hero itu berkembang di Amerika sana, Robert N. Bellah dan Mac Intyre justru menemukan potret masyarakat moderen yang begitu individualis. Ada sekat sosial antara satu dengan individu yang lain. Sebagai anekdot, tak perlu berlelah teriak-teriak minta bantuan tetangga saat ada kejadian tertentu. Mereka cukup menekan 911 dan polisi akan datang.   ...

Siapa Kamu?

Oleh: Firdaus Putra Jika ditanya, “Siapa kamu?” banyak orang menjawab, “orang Jawa”, “orang Kristen”, “aktivis”, “mahasiswa” dan lainnya. Sedikit yang dengan spontan menjawab “orang Indonesia”.                                                                                 Pertanyaan itu memanggil ingatan tentang kedirian seseorang. Dan banyak orang tentu lebih ingat pada sesuatu “yang dekat” dengan dirinya. Ingatan tentang suku, agama, jenis kelamin atau kelas sosial tertentu. Dan “Indonesia”, nampaknya sesuatu “yang jauh”.            ...