Langsung ke konten utama

Postingan

Praktika yang Imanen

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya punya seorang teman yang gemar berbuat baik. Dia sering support berbagai komunitas/ kelompok sosial dalam isu apapun: perdesaan, pertanian, IT, koperasi, komunitas kreatif dan terakhir, korupsi. Suatu tempo yang bersangkutan mengajak saya untuk ikut Kopi Darat komunitas pertanian. Ia bilang, “Jangan cuma ngurusi koperasi, harus yang lain juga dong”, sindirnya. Saya jawab pesan WA dia saat itu, “Praktik yang saya lakukan itu kan imanen ”. Saya tak bisa asal grudug sana grudug sini hanya dengan jargon berbuat baik, karya sosial, membantu sesama dan seterusnya. Untuk sampai saya pada isu atau masalah tertentu, saya harus mengalaminya sebagai bagian keberadaan (karya-pekerjaan-aktivitas) saya saat ini. Sehingga saya tak bisa tiba-tiba bicara isu pendidikan, meskipun, itu hal yang baik. Itulah yang saya sebut sebagai kesadaran dan praktika yang imanen. Yakni sebuah kesadaran dan praktika yang menjejak pada kedirian kita dengan derajat proksimit...

Teologi Pembebasan

Oleh: Firdaus Putra, HC. Suatu tempo saya diundang Bappeda Banyumas menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bersama kelompok perajin gula. Lalu Pak Jaka menyilahkan saya. “Saya kembali ingat sekira satu tahun lalu ketika masuk ke Ketanda, Sumpiuh ….”. Tiba-tiba tenggorokan saya tercekat dan saya menangis. Saya berusaha melanjutkan, namun tak juga suara keluar. Lalu saya minta Mas Edy yang mengisahkan. Hal serupa terjadi sekitar dua tahun lalu sepulang dari Ketanda untuk kali pertamanya. Pasca melakukan Analisis Sosial-Ekonomi bersama sekira 20  penderes  di sana, saya tak bisa tidur sampai pagi hari. Pagi itu saya begitu marah dan menangis di kamar kos. Saya begitu sulit menerima kenyataan bahwa ada pekerjaan dengan resiko yang begitu besar: patah tulang atau mati ketika jatuh dari pohon kelapa. Belum lagi, penghisapan yang begitu sistematis dari para tengkulak yang terjadi puluhan tahun lamanya. Pagi hari itu saya menulis status di Facebook mengisahkan bagaim...

No Pain No Gain

Oleh: Firdaus Putra, HC. Awalnya saya begitu tak percaya, “Saya itu kadang sama sekali tidak megang uang lho. Dan itu sudah biasa saja. Jadi kadang saya geli bila ada orang ngeluh”, kata salah satu mentor saya. “Serius?”, tanyaku. “Serius. Demi Allah”. Apa yang membuat saya takjub adalah bagaimana ia melalui hari tiap hari dengan tenang. Dulu saya bayangkan paling tidak seluruh biaya-biaya untuk dirinya dan rumah tangganya sudah tercukupi dari kerjaan tetapnya. Belum lagi ditambah aktivitas lain yang secara langsung atau tidak, mendatangkan pemasukan. Namun ternyata persepsi saya keliru selama ini. Bagaimana tidak, dengan kapasitasnya dan jabatan top management di perusahaannya, hal itu harusnya tidak terjadi. Lantas ia kembali mengingatkan, “Dulu saya pernah cerita kan bagaimana tiap bulan saya harus menutup hutang puluhan rupiah gegara bisnis saya hancur. Dan mengangsur itu masih saya lakukan sampai sekarang. Jadi sudah biasa saja kadang saya tak megang uang sama sek...

Tempe Mentega Pak Yitno

Oleh: Firdaus Putra Dulu di masa SMA saya punya teman akrab. Suyitno namanya. Biasanya disapa Yitno. Meski saya hanya setahun di SMA itu, namun pertemananku dengannya berkesan dalam. Ya, ketika di tahun ini seorang teman invite saya ke Grup BBM SMA, saya tanya apakah ada yang bisa invite Yitno ke grup. Hasilnya, nihil. Sampai kemudian beberapa minggu lalu di bulan ini, Juli 2016, Nadian minta nomor saya untuk diberikan ke Yitno. Selisih seminggu kemudian Yitno hubungi saya. Itulah kali pertama saya bisa ngobrol dengannya setelah 13 tahun sejak lulus SMA dulu kala. Ia kisahkan bagaimana ia kangen ingin ketemu saya. Sayangnya, saya hanya dua hari di rumah Pekalongan saat Idul Fitri kemarin. Ia bilang, “Aku itu selalu cari kabar kamu dari teman-teman. Pada bilang Firdaus hidup di Purwokerto sekarang”. Dan saya pun sampaikan, saya juga tanyakan kabar dia ke teman-teman. Via telpon kami ngobrol panjang-lebar sekira 30 menit. Dia kisahkan bagaimana ia bisa sampai hidup dan membang...

Kerja atau Makaryo?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Marx, filosof besar itu, begitu menaruh perhatian pada yang namanya "kerja". Baginya kerja merupakan realisasi kemanusiaan yang paling ultim. Kerja adalah perwujudan diri yang mana manusia meng-ada melaluinya. Sayangnya, kerja kontemporer tak senikmat dan semenarik apa kata Marx. Kerja kontemporer lebih nampak sebagai kewajiban berangkat dan pulang pada jam yang ditentukan. Kerja lebih nampak sebagai paksaan yang diperlukan untuk bertahan hidup. Kerja jadilah suatu momen yang alienatif: mengasingkan manusia dari keberadaannya. Kerja yang demikian itu adalah kerja pasca kapitalisme tumbuh subur di muka bumi. Dalam analisisnya Marx mengungkapkan bahwa kerja yang alienatif itu terjadi karena pekerja dipisahkan dari hasil pekerjaannya. Pekerja yang telah dibeli tenaganya menjadi buruh yang tak punya hak atas hasil kerjanya. Bayangkan lah Anda seorang buruh pabrik NIKE, Adidas atau perusahaan ternama lainnya. Anda ciptakan ratusan bahkan ribuan pas...

Dekopin sebagai Lembaga Negara Bantu

Oleh: Firdaus Putra, HC. Pengantar Masalah Sejarah Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) sangat panjang yang dimulai sejak 1947 dengan nama Sentral Organisasi Koperasi Republik Indonesia (SOKRI). Lantas berubah menjadi Dewan Koperasi Indonesia (DKI), Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI) dan terakhir Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Wadah gerakan koperasi ini tersebar di seluruh Indonesia dari tingkat provinsi (Dekopin Wilayah) sampai tingkat kabupaten (Dekopin Daerah). Keanggotaannya meliputi Dekopin Wilayah, Dekopin Daerah, Induk Koperasi dan organisasi penunjang gerakan koperasi lainnya. Sebagai organisasi wadah gerakan koperasi (apex organization) fungsi Dekopin adalah: 1). Wadah perjuangan cita-cita, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi; 2). Wakil gerakan koperasi Indonesia baik di dalam maupun luar negeri; dan 3). Mitra pemerintah dalam pembangunan koperasi untuk mewujudkan tata ekonomi yang berkeadilan. Tiga fungsi tersebut kemudian diterj...

Coop Viral Pict #4

Silahkan gunakan meme ini sebagai viral dan pakai tagar #koperasiitukita