Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa Saya Menulis?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya seorang blogger karenanya saya sering menulis. Lebih mendasar dari itu, saya memang suka menulis. Buat saya pada momen tertentu menulis merupakan mekanisme penyembuhan diri (self healing). Saat menuliskan sesuatu, terutama yang terkait dengan hal yang telah lampau, mau tak mau saya harus berani untuk memeriksa ulang diri saya. Memeriksa dalam konteks ini adalah mengingat kembali, meneguhkan, merefleksikan dan tentu saja memaknainya kembali. Dengan cara seperti itu, menulis memberikan sebuah cermin besar dan saya akan berdiri di depannya. Kadang pada momen dimana saya mengalami suasana hati yang buruk, saya akan menulis untuk menumpahkan begitu saja apa yang saya rasakan atau hayati. Penghayatan atas situasi ini yang kadang sulit untuk digambarkan, namun dengan menuliskannya, saya menjadi tahu bagaimana situasi itu terjadi. Penghayatan situasi membuat saya menjadi bagian dari situasi (part in). Dengan menuliskannya, saya akan berposisi se...

Insentif dan Payback

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya pernah bilang ke seseorang, “Kedirian kita yang sesungguhnya baru akan terlihat bila berbagai insentif itu tak ada. Di sisi lain, saat kemudian kita menerima disinsentif yang tentu saja tak menyenangkan”. Namun itulah ujian terbesar dari apa yang kita sebut sebagai idealisme. Secara psikologis orang akan mudah melakukan sesuatu bila menerima insentif tertentu. Dalam Sosiologi ini diterangkan dalam Teori Pertukaran Sosial. Insentif ini bisa apapun bentuknya: pujian, fasilitas, honor dan berbagai hal bisa material atau immaterial. Dalam konteks dunia kerja profesional, insentif adalah mekanisme yang biasa dilakukan. Sebaliknya, bila melakukan suatu kesalahan maka ia akan menerima disinsetif atau sanksi. Namun dalam konteks perjuangan-kaderisasi-pergerakan sosial, insentif dan disinsentif relevansinya menjadi rendah. Karena dalam konteks seperti itu yang menjadi hakim sebenarnya diri kita sendiri. Kita sebut sebagai kecenderungan untuk bersika...

Attitude Harga Mati

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya punya kisah yang menarik bagaimana attitude itu benar-benar penting. Attitude atau terjemahnya adalah sikap mental atau pendirian merupakan ekspresi dari apa yang ada di hatinya. Attitude tak bisa dimanipulasi dan muncul dalam tingkah laku, bahasa tubuh dan lainnya. Ia benar-benar sesuatu yang menubuh dan mendarah daging. Saya punya kolega yang “dijauhi” oleh teman-temannya. Saat itu saya bersimpati dan merasa kasihan atas kondisi itu. Saya pikir kenapa komunitas ini begitu “kejam” sehingga tak memberikan “maaf” baginya. Sampai kemudian suatu ketika saya benar-benar memahami mengapa ia “dikucilkan”. Momen itu adalah ketika dia melakukan perbuatan tak etis pada saya. Sehingga dalam hati saya bilang, “Owww bener kata teman-teman, memang ular ne orang”. Cara main dia memang berbeda sekali dengan kolega saya lainnya. Ia cenderung bermain jangka pendek (short term) yang berorientasi keuntungan secepat mungkin. Seringkali, di banyak kasus, dia...

Praktika yang Imanen

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saya punya seorang teman yang gemar berbuat baik. Dia sering support berbagai komunitas/ kelompok sosial dalam isu apapun: perdesaan, pertanian, IT, koperasi, komunitas kreatif dan terakhir, korupsi. Suatu tempo yang bersangkutan mengajak saya untuk ikut Kopi Darat komunitas pertanian. Ia bilang, “Jangan cuma ngurusi koperasi, harus yang lain juga dong”, sindirnya. Saya jawab pesan WA dia saat itu, “Praktik yang saya lakukan itu kan imanen ”. Saya tak bisa asal grudug sana grudug sini hanya dengan jargon berbuat baik, karya sosial, membantu sesama dan seterusnya. Untuk sampai saya pada isu atau masalah tertentu, saya harus mengalaminya sebagai bagian keberadaan (karya-pekerjaan-aktivitas) saya saat ini. Sehingga saya tak bisa tiba-tiba bicara isu pendidikan, meskipun, itu hal yang baik. Itulah yang saya sebut sebagai kesadaran dan praktika yang imanen. Yakni sebuah kesadaran dan praktika yang menjejak pada kedirian kita dengan derajat proksimit...

Teologi Pembebasan

Oleh: Firdaus Putra, HC. Suatu tempo saya diundang Bappeda Banyumas menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bersama kelompok perajin gula. Lalu Pak Jaka menyilahkan saya. “Saya kembali ingat sekira satu tahun lalu ketika masuk ke Ketanda, Sumpiuh ….”. Tiba-tiba tenggorokan saya tercekat dan saya menangis. Saya berusaha melanjutkan, namun tak juga suara keluar. Lalu saya minta Mas Edy yang mengisahkan. Hal serupa terjadi sekitar dua tahun lalu sepulang dari Ketanda untuk kali pertamanya. Pasca melakukan Analisis Sosial-Ekonomi bersama sekira 20  penderes  di sana, saya tak bisa tidur sampai pagi hari. Pagi itu saya begitu marah dan menangis di kamar kos. Saya begitu sulit menerima kenyataan bahwa ada pekerjaan dengan resiko yang begitu besar: patah tulang atau mati ketika jatuh dari pohon kelapa. Belum lagi, penghisapan yang begitu sistematis dari para tengkulak yang terjadi puluhan tahun lamanya. Pagi hari itu saya menulis status di Facebook mengisahkan bagaim...

No Pain No Gain

Oleh: Firdaus Putra, HC. Awalnya saya begitu tak percaya, “Saya itu kadang sama sekali tidak megang uang lho. Dan itu sudah biasa saja. Jadi kadang saya geli bila ada orang ngeluh”, kata salah satu mentor saya. “Serius?”, tanyaku. “Serius. Demi Allah”. Apa yang membuat saya takjub adalah bagaimana ia melalui hari tiap hari dengan tenang. Dulu saya bayangkan paling tidak seluruh biaya-biaya untuk dirinya dan rumah tangganya sudah tercukupi dari kerjaan tetapnya. Belum lagi ditambah aktivitas lain yang secara langsung atau tidak, mendatangkan pemasukan. Namun ternyata persepsi saya keliru selama ini. Bagaimana tidak, dengan kapasitasnya dan jabatan top management di perusahaannya, hal itu harusnya tidak terjadi. Lantas ia kembali mengingatkan, “Dulu saya pernah cerita kan bagaimana tiap bulan saya harus menutup hutang puluhan rupiah gegara bisnis saya hancur. Dan mengangsur itu masih saya lakukan sampai sekarang. Jadi sudah biasa saja kadang saya tak megang uang sama sek...

Tempe Mentega Pak Yitno

Oleh: Firdaus Putra Dulu di masa SMA saya punya teman akrab. Suyitno namanya. Biasanya disapa Yitno. Meski saya hanya setahun di SMA itu, namun pertemananku dengannya berkesan dalam. Ya, ketika di tahun ini seorang teman invite saya ke Grup BBM SMA, saya tanya apakah ada yang bisa invite Yitno ke grup. Hasilnya, nihil. Sampai kemudian beberapa minggu lalu di bulan ini, Juli 2016, Nadian minta nomor saya untuk diberikan ke Yitno. Selisih seminggu kemudian Yitno hubungi saya. Itulah kali pertama saya bisa ngobrol dengannya setelah 13 tahun sejak lulus SMA dulu kala. Ia kisahkan bagaimana ia kangen ingin ketemu saya. Sayangnya, saya hanya dua hari di rumah Pekalongan saat Idul Fitri kemarin. Ia bilang, “Aku itu selalu cari kabar kamu dari teman-teman. Pada bilang Firdaus hidup di Purwokerto sekarang”. Dan saya pun sampaikan, saya juga tanyakan kabar dia ke teman-teman. Via telpon kami ngobrol panjang-lebar sekira 30 menit. Dia kisahkan bagaimana ia bisa sampai hidup dan membang...