Langsung ke konten utama

Postingan

Ketaksantunan

Oleh: Firdaus Putra A. “Ka fir, gmn kbr? Denger2 msh nimbrung aja sm urusan kmpus.. Hehe gak inget umur bang? Kalah dkandang sndr kok ngusik2 kndang orang.. Malu dong bang!:-P” , pengirim 085282294028. Pesan pendek itu dikirim oleh seorang kawan yang nota benenya aktivis kampus dan pernah menjabat sebagai ketua ormas Islam tertentu di Purwokerto. Ada yang janggal dari pesan pendek yang saya terima pada 12 November, pukul 09:48 lalu. Dalam perjumpaan keseharian, meskipun kami jarang berjumpa, kawan tersebut jarang menyapa saya dengan, “Kak, Mas, Bang” atau sejenisnya. Hal ini lumrah karena kami berada dalam satu level masa. Usia kami pun tak terpaut jauh. Dalam perjumpaan langsung atau pesan pendek, biasanya kawan tersebut hanya menyapa saya dengan, “Us”, kependekan dari “Firdaus atau Daus”. Nah, kalimat pesan pendek yang tidak seperti biasanya itu membuat saya khawatir. Pertama, kalau kata “Ka fir” (dengan spasi) dimaksudkan untuk mendekati kata “Kafir” (tanpa spasi). Karena deng...

Mengakui

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah berminggu-minggu kita ikuti jelang Pemilu Amerika Serikat. Klimaksnya, hari kemarin Barrack Obama dinyatakan menang atas McCain dengan mengantongi lebih dari 300 suara. Saya yakin bukan hanya masyarakat Amerika saja yang menerima kemenangan itu dengan segepok harapan. Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden kita juga menyempatkan membuka konferensi pers untuk memberi ucapan dan mengaspirasikan harapan. Pun, saya, mungkin juga Anda, punya kebahagiaan dan harapan serupa. Nah, di sinilah Amerika benar-benar negara adigdaya. Pemilu dalam negerinya sudah menyita publik banyak negara dunia lain. Jujur atau tidak, saya, mungkin juga Anda, dengan nalar itu mengakui kalau Amerika masih menjadi 001 di dunia. Dalam konteks itu, tak berlebihan kalau saya, mungkin juga Anda, memberi selamat dan sedikit berharap pada sosok Obama dengan visi perubahannya. Seringkali kita mencibir bahwa siapapun presidennya, Amerika tetaplah Amerika, sang imperialis. Namun, saya, mungki...

Untu Wojo

Oleh: Firdaus Putra A. Tubuh kita menjadi sedemikian estetik. Dengan berbagai piranti, keindahan itu diwujudkan. Ada rebonding, smoothing, atau sekedar catok rambut. Menjadi indah dengan cara yang berbeda saat rambut menjadi “rambut jagung”. Itu hanya soal rambut, belum yang lain-lainnya. Tapi masih dalam anatomi yang sama, kepala, rezim keindahan bekerja secara massif dalam mulut kita. Gigi, jajaran putih bak serdadu itu harus senantiasa putih. Bila perlu mengkilap, itu kata iklan pasta gigi. Bagi yang bergelombang, kecanggihan teknologi bisa merapihkan. Entah dikikir, diamplas, atau bahkan didempul. Namun, bagi yang sukar ditaklukan, teknologi juga mempunyai jurus lain. Dokter gigi akan memberi saran untuk memasang behel (be: toilet, hel: buah apel). Seorang Bapak menyebutnya, untu wojo. Untu, bahasa Jawa untuk gigi. Sedang wojo, bisa kita terjemahkan sebagai baja, besi atau logam. Maksud si Bapak desa, kawat behel. Nah, teknologi ini benar-benar tahu hasrat keindahan manusi...

Sempati dan Garuda

Oleh: Firdaus Putra A. Bagus mana prestasi antara Sempati Air dengan Garuda? Serentak kita jawab Garuda. Namun, seorang teman berkata lain dengan alasan yang sangat masuk akal. Ketika ia mengikuti pelatihan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1995, rahasia sukses Sempati dan Garuda diungkap tuntas. Dan yang mengherankan, rahasia sukses itu bukan berangkat dari berbagai macam teori dan teknik manajemen pemasaran modern. Rahasia sukses itu justru berangkat dari kriteria penentuan pramugari masing-masing perusahaan. Pihak Garuda berasumsi kalau penumpang pesawat, sewaktu itu, adalah orang-orang kelas ekonomi menengah ke atas. Sehingga dibangunlah rumus, kelas atas harus dilayani oleh orang kelas atas. Asumsi ini kemudian diturunkan dalam tata cara rekrutmen pramugari. Dicarilah perempuan-perempuan dari keluarga berada (high class). Secara penampilan perempuan itu mengenakan rok satu kilan (kurang-lebih 10 cm) di atas lutut. Masalah face dan tubuh, tidak perlu ditanya lagi. Berbed...

Cooperativeness and Democracy

Oleh: Firdaus Putra A. I Saya berangkat dari satu asumsi, bahwa perdebatan keberadaan (ontological state) gerakan mahasiswa sudah dianggap selesai. Dalam artian, kita semua sepakat bahwa gerakan mahasiswa masih tetap dibutuhkan sebagai salah satu agen perubahan sosial. Berangkat dari asumsi di atas, tulisan singkat ini akan lebih mengeksplorasi bagaimana peran gerakan mahasiswa dalam rangka menghadapi sistem kapitalisme lanjut (spätcapitalismus) dewasa ini. Mengawali pembahasan, perlulah kita telisik secara sepintas pola kapitalisme lanjut yang telah mencerai-berai modal-modal sosial, ekonomi serta politik masyarakat. Meminjam analisis a la Adorno dan Horkheimer saya membaca, pertama, bahwa nalar produksi kapitalis bersifat instrumental. Nalar instrumental ini merupakan turunan dari zaman Pencerahan, rasionalisme. Karena sifatnya instrumental, proses alienasi (keterasingan) menjadi dampak yang niscaya. Kedua, nalar instrumental yang menggerakkan mesin produksi telah melepaskan ...

Lawang Sewu

Oleh: Firdaus Putra A. Saya sudah mendengar banyak cerita tentang Lawang Sewu. Dulu seorang teman pernah menceritakan tempat wisata ini. Beberapa bulan yang lalu, salah satu televisi swasta menyajikan liputan Lawang Sewu dengan tema “Wisata Mistik”. Seumur hidup (23 tahun), baru kemarin saya menyambangi tempat angker itu. Letaknya di pusat kota Semarang. Didampingi oleh guide, saya dan Kang Suroto, masuk dan melihat-lihat ke sisi-sisi gedung. Kami datang ke sana pukul 20.00. Dari hotel tempat menginap, Santika Hotel, kami menumpang becak. Sesampainya, aura mistik mulai terlihat, ya sekurang-kurangnya gedung itu temaran tanpa pencahayaan. Gedung tua peninggalan Belanda itu masih terlihat kokoh. Saya yakin akan berbeda dengan gedung peninggalan insinyur dalam negeri. Sebelum masuk, kami membayar administrasi Rp. 5000 per orang. Seorang guide mengantar kami berkeliling dengan penerangan sebuah senter. Tak lupa, Kang Suroto menjepret sana-sini sebagai kenang-kenangan. Memang banguna...

28 Oktober dan Generasi WC

Oleh: Firdaus Putra A. I “Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Kami, Poetera dan Poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.” Itulah maklumat pemuda-pemudi Indonesia pada 28 Oktober 1928, 80 tahun silam. Pada hari ini (28/10/2008), maklumat itu diperingati oleh segenap elemen bangsa. Tentu saja, ada nila historis yang coba dikontekstualisasikan ulang pada ruang-waktu kekinian, yakni nilai dan semangat keperjuangan. Dalam konteks keperjuangan itu, gerakan mahasiswa menjadi salah satu elemen penting. Sehingga tidak berlebihan ketika menyoal 28 Oktober sama dengan menyoal mahasiswa berikut gerakannya. Persoalannya kemudian, semangat zaman ( zetgeist ) pemuda-pemudi 28-an, 45-an, 66-an, bahkan 98-an cukup berbeda dengan 08-an. Tengoklah, mahasiswa-mahasiswi kekinian yang sangat akrab dengan hingar-bingar dunia fashion...