Langsung ke konten utama

Postingan

Sengkarut Israel – Palestina

Tali Kelindan Berbagai Faktor Oleh: Firdaus Putra A. Keuntungan dalam Konflik Membela Israel tentu saja sangat tidak masuk akal untuk kita lakukan. Mengapa? Pasalnya Israel tidak hanya menyerang pihak militer Palestina, tapi juga penduduk sipil, mulai dari anak sampai manula. Tentu saja tindakan ini tak bisa dibenarkan dalam etika perang. Selain itu, Israel juga menggunakan senjata illegal, artinya tanpa diberitahukan jenisnya kepada publik, seperti Dense Inert Metal Explosive (DIME). Dr Mads Gilbert, anggota tim relawan medis Norwegia yang bekerja di Gaza, mengungkapkan kemungkinan itu dengan melihat korban-korban ledakan dari pihak Palestina (Republika, 14 Januari 2009). Lantas mengapa Amerika Serikat begitu getol membela Israel? Bahkan menurut Marjorie Cohn, Direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas San Francisco, Amerika melanggar hukumnya sendiri. AS memberi bantuan US$3 miliar per tahun kepada Israel. Dana pajak rakyat AS inilah yang digunakan Israel untuk membeli jet ...

S y u k u r a n

Oleh: Firdaus Putra A. Syukuran merupakan kata benda (noun) dari kata kerja “syukur” dengan akhiran “an”. Secara eksplisit makna syukuran bisa dipahami dengan mudah, bersyukur. Tindakan yang paling mudah dengan berucap syukur, alhamdulillah atau puji Tuhan. Tentunya ekspresi ini merupakan eskpresi orang yang percaya akan kehadiran Tuhan. Sebagai kata benda, syukuran merujuk pada sebuah peristiwa atau keadaan dimana rasa syukur dipanjatkan bersama-sama. Seperti di desa, dan kebetulan saya dan Wahyu adalah orang desa, syukuran senantiasa berdimensi sosial. Akhiran “an” nampaknya telah mentransformasi keberterimaan anugerah individu, menjadi keberterimaan secara sosial – kolektif. Nah, dalam hal demikian kami berdua menggelar syukuran. Bagi saya, syukuran kali ini merupakan proses “money laundry” Rp. 5.000.000 dari situs informasi/ berita Kapan Lagi (www.kapanlagi.com). Aktivitas blogging yang sejak akhir tahun 2007 saya tekuni, secara langsung, ternyata berbuah rupiah. Meski tak p...

eMachines D720

Oleh: Firdaus Putra A. Hadiah lima juta dari Kapan Lagi akhirnya berubah bentuk menjadi eMachines D720. laptop ini produksi Acer. Karena merek ini masih asing, saya browsing via google, saya temukan ulasan panjang laptop jenis ini. Sebagai berikut, “E-machines merupakan sebuah perusahaan komputer yang baerbasis di California, USA. Pada tahun 2004 perusahaan ini diakuisisi oleh Gateway dengan kucuran dana tidak kurang dari $262 Milyar. Lucunya, pada tahun 2007 Gateway akhirnya dibeli oleh Acer. Kondisi ini membuat Gateway dan emachines berada dibawah manajemen Acer. E-machines sendiri menjadi sebuah divisi low cost PC" [ lihat di sini ]. Di beberapa blogger banyak juga yang sudah membeli produk ini. Mengapa? Harga yang ditawarkan sangat kompetitif, berkisar 5,5 juta rupiah. Dan menariknya, spesifikasi yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung; Processor : Mobile DualCore Intel Pentium T3400 2,16 Ghz | Chipset : Mobile Intel Cantiga GL40 Express | VGA : Intel GMA 4500M - 64 MB De...

PBB yang Mandul

Oleh: Firdaus Putra A. Tercatat lebih dari 430 nyawa manusia melayang pada sepekan agresi militer Israel ke Palestina (Kompas, 5 Januari 2009). Ironisnya, tragika kemanusiaan itu berlangsung di abad ini. Abad dimana suara kemanusiaan serta nilai-nilai virtus lainnya begitu rupa dijunjung tinggi. Abad dimana organisasi supranasional, Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), mewujud dalam hubungan antarbangsa. Dan celakanya, organisasi seotoritatif PBB justru mandul dalam menyelesaikan sengketa panjang itu. PBB merupakan organisasi yang beranggotakan negara-negara di dunia. Ia dibentuk sebagai konsekuensi kehidupan modern, dimana hubungan antarbangsang atau antarnegara tak terelakan lagi. Dalam konteks konflik antarbangsa/ negara, PBB bisa memainkan fungsi arbitrase atau wasit. Lebih jauh, ia juga bisa memediasi kedua belah pihak atau lebih yang berseteru. Lantas, mengapa fungsi-fungsi seperti itu selama ini tidak berjalan efektif? Pada konflik Israel – Palestina, Dewan Keamanan PBB sudah m...

Power/Knowledge/Corrupt;

Telisik Sosiologis Hubungan Kekuasan dan Agama Oleh: Firdaus Putra A. Serpihan Tragika Dua orang ilmuwan di abad 16-an harus menanggung hukuman karena berbeda pendapat dengan gereja, Copernicus dan Galileo. Yang pertama dihukum mati sebagai pencetus teori Heliosentris yang menggugat Geosentris versi gereja[1]. Sedang yang kedua, Galileo, pada tahun 1616 diperintahkan gereja untuk tidak melanjutkan kampanye Heliosentris dan mencabut kembali pendapatnya. Di usia 69 tahun, ia terpaksa melaksanakannya di hadapan pengadilan terbuka. Ia menunduk dan berbisik pelan, “Tengoklah ia (bumi ini) masih terus bergerak. Galileo meninggal tahun 1642[2]. Pada tahun 1792 di Spanyol seorang pelukis kenamaan, Fransisco Goya juga harus merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari gereja. Lukisan a la realisme sosial membuat pihak gereja kebakaran jenggot. Disusunlah sekenario untuk mematikan karir pelukis besar itu. Melalui lukisannya, Goya mengabadikan kekejaman gereja dalam pratik penjara “The Ques...

Surprise

Oleh: Firdaus Putra A. Sudah berapa minggu saya tidak menulis untuk blog. Akhir-akhir ini agenda padat. Selain juga keteteran menyiapkan proposal penelitian untuk skripsi. Otomatis, saya juga jarang ke warnet untuk up load tulisan atau sekedar cek e-mail. Dan malam itu, malam tahun baru, sepulang dari kafe Loja saya bersama Wahyu ke Leon Net. Saya cek e-mail dan tentu saja, cek blog siapa tahu ada komentar baru pada beberapa tulisan. Saat halaman blog tampil, kali pertama yang saya cek adalah “Buku Tamu”. Wah ternyata banyak sekali komentar yang masuk. Dan saya mulai penasaran, karena beberapa komentar isinya ucapan selamat. “Selamat ya … memang Kapan Lagi”. Saya mulai ingat, jangan-jangan memang benar saya memenangkan kontes pemasangan banner iklan www.kapanlagi.com . Cepat-cepat saya klik in-box email. Dan benar, ada surat masuk dari pihak KapanLagi.Com. Saya baca dan begitu senangnya, di sana nama saya tercatat sebagai salah satu pemenang dari 10 pemenang lainnya [klik di sin...

Kimpoi

Oleh: Firdaus Putra A. Malam tahun baru 2009 saya mengalami banyak kejadian menarik. Salah satunya ini, kimpoi. Kejadian ini berawal ketika saya membeli sebungkus rokok di warung tak jauh dari kafe Loja, tempat saya dan Wahyu nongkrong malam itu. Di sana saya bertemu dua teman mahasiswa. Ia menanyakan mau beli apa? Saya jawab rokok. Lalu saya tanyakan, kalian beli apa? Ia tidak menjawab, karena selang beberapa detik kemudian si empunya toko menyajikan barang pesanannya, bir dan anggur merah. Saya sentil, “Rame-rame neh, banyak banget”. Di sela-sela obrolan pendek ia bertanya, “Kimpoi gak malam ini (tahun baru)?” Saya jawab, “Ya … biasanya kalo lagi sehat iya. Cuma sekarang aku lagi flu, jadi enggak”. Terus dia melanjutkan, “Aku juga biasanya ma cewekku”. Sontak saya kaget, saya mulai khawatir kalau telah terjadi salah tafsir. Dengan ragu saya tanyakan, “Eh, kimpoi itu ML (making love)?” Ia mengangguk. Langsung saya bilang, “Oh maaf, aku salah tafsir. Kirain kimpoi itu minum. M...