Langsung ke konten utama

Postingan

I “Lost” My Friend

Oleh: Firdaus Putra A. Temanku, Imam namanya sekarang menjadi seorang donwline MLM merek dagang tertentu. Sebelumnya saat aku masih di Purwokerto, dia mengirim pesan singkat dengan nada provokatif. Kurang-lebih gabunglah dengannya untuk memperoleh penghasilan sampai dua juta. Beberapa hari kemudian dia mengirim pesan singkat yang lain, dia bilang akan membimbingku agar bisa menjadi agen yang baik. Beberapa pesan singkat itu belum membuatku muak, hanya sedikit tersenyum miris. Hari ini, saat aku berada di Pekalongan aku memberi kabar kepulangan dan keinginan untuk bertemu. Ya bertemu teman lama, teman SMP dan juga SMA, semacam nostalgia atau silaturrahmi. Aku kirim pesan menanyakan apakah dia sedang di rumah. Dia bilang sedang dinas malam. Kemudian dia katakan lagi, nanti ke Hotel Syariah Pekalongan saja sembari ikut pertemuan MLM itu. Oh, sudah sebegitunyakah dia, sampai-sampai tak ada alokasi waktu khusus untuk menemui seorang teman lama? Tadi pagi dia kembali mengirim pesan, in...

Laptop, Hotspot dan Reproduksi Kelas

Oleh: Firdaus Putra A. Malam ini saya sampai pada titik permenungan soal relasi antara laptop, hotspot dan reproduksi kelas sosial. Konteks renungan ini tentu saja bukan pada seluruh pemilik laptop dan pengakses hotspot dimanapun berada, melainkan pada konteks mahasiswa dan fasilitas kampus khususnya di Unsoed. Meski demikian, sampai batas tertentu saya kira tidak menutup kemungkinan untuk menarik ruang generalisasi pada kampus-kampus lainnya. Sekitar satu tahun belakangan mahasiswa Unsoed yang memiliki laptop meningkat tajam paralel dengan tersedianya fasilitas publik berupa hotspot area. Sekarang ini, sebagian besar fakultas di Unsoed sudah menyediakan hotspot area yang bisa diakses secara bebas oleh mahasiswa. Frekuensi akses semakin banyak dan sering paralel dengan kebijakan hotspot area 24 jam nonstop dan ditambah beberapa kafe di sekitar Unsoed menyediakan fasilitas serupa. Saya belum mempunyai data yang pasti terkait tingkat pembelian laptop oleh mahasiswa Unsoed. Namun, sal...

No Free Lunch

Oleh: Firdaus Putra A. Tepatlah ungkapan “Tak ada makan siang gratis” pada kasus yang menimpaku beberapa hari lalu. Pada tanggal 27 Juni yang lalu saya memperoleh peringatan mendadak kalau domain dotcodotcc (.co.cc) blog saya expired. Saya sebut ini mendadak, karena sepengetahuan saya dan mungkin juga blogger lain, domain dotcodotcc diberikan cuma-cuma. Silahkan cek saja di situs penyedianya terpampang banner kecil di pojok kiri-bawah, katanya “Free Domain”. Dulu, mungkin satu tahun yang lalu, saya gunakan domain ini juga berkat rekomendasi seorang teman. Cara kerjanya sangat mudah. Pertama kali masuklah ke situs www.co.cc, pada halaman muka akan kita temukan kolom memanjang untuk mencoba nama domain yang kita kehendaki. Coba saja, masukan pilihan domain Anda. Kemudian klik dan secara otomatis akan dijawab apakah domain tersebut tersedia secara cuma-cuma atau berbayar. Pengalaman saya, nama domain yang pendek (hanya susunan beberapa huruf) biasanya berbayar. Sedang nama domain ya...

Kearifan Tanaman Liar

Oleh: Firdaus Putra A. You know, I love green movement because it make our life’s sustainable. Can you imagine that our sphere haven’t trees to reduce carbon? Pasti udara akan semakin panas dan kotor. Nah saya kira tindakan sekecil apapun dalam rangka mengurangi atau menetralisir karbon yang kita keluarkan: saat merokok, bernafas, repirasi kulit dan sebagainya, akan sangat membantu. Anda tahu tanaman Suplir (Adiantum Sp.) dengan daunnya yang tipis-kecil atau Sotong-sotongan (Jawa) yang hijau menjalar? Tanaman seperti itu tumbuh liar di belakang kamar saya ditemani rumput liar lainnya. Sekitar dua meter depan kamar ada juga tanaman liar yang tak terdefinisikan. Nah, dulu saya sering membabat habis mereka atas nama kerapihan lingkungan. Namun sekarang saya punya pandangan lain. Alih-alih saya “membunuh” mereka, sekarang saya justru membiarkan mereka hidup bebas. Mengapa? Sebenarnya sederhana, saya belum mampu menanam pohon sendiri guna menyerap karbon yang saya dan teman-teman ko...

Romansa Cyber

Oleh: Firdaus Putra A. Kembali lagi saya posting soal buku. Berbeda dengan dua buku yang lalu, buku ini relatif lebih tipis dan renyah. Judul panjangnya “Romansa Cyber, Lika-liku Hubungan Romantis di Internet”. Buku yang ditulis oleh Yayan Sopyan ini saya kira berangkat dari observasi langsung. Isinya secara umum seperti judulnya, lika-liku romansa atau kisah cinta di internet. Penulis mengawali dengan sebuah dialog (dengan pembacanya), “Namaku Sadasa Bara. Panggil aku dasabara”. Gaya penulisannya laiknya sebuah novel yang mengalir, mungkin seperti Dunia Shopie, namun lebih renyah buku ini. Secara bulat buku ini dibagi menjadi 18 bagian. Setiap bagian penulis eksplor secara runtut-tuntas-bernas. Menariknya, pada setiap ulasan penulis langsung memberikan contoh atau ilustrasi situasi yang mungkin terjadi. Hingga pantas saja kalau kita klaim buku ini sebagai guid saat beromansa di dunia lain, dunia maya. Pada bagian awal ia menulis soal “Dunia yang Lain, Dunia yang (Agak) Berbeda”....

Hidup Tanpa Ijazah

Oleh: Firdaus Putra A. Buku ini tebal, sangat tebal. Pada halaman akhir 1329-1330 Ajip Rosidi, penulis buku ini, menjelaskan kalau harga normal otobirografinya mencapai Rp. 300.000. “Karena harga itu terlalu mahal buat kebanyakan pembeli”, katanya, “maka kami mengikuti saran Saudara Parakitri T. Simbolon agar mengusakan subsidi silang dengan menawarkan kepada sejumlah orang yang bersedia membeli edisi khusus dengan harga khusus (yang lebih mahal) sehingga cetakan pertama buku ini dapat dijual dengan harga Rp. 95.000 per eksemplar”. Sebenarnya saya tak berpikir untuk membeli buku tebal ini. Awalnya tujuan saya ingin mengambil “Bentara” yang merupakan kumpulan esai-esai kolumnis-esais nasional pada harian Kompas. Sesampai di Jogja Agency Purwokerto (JAP), salah satu toko buku di lingkungan kampus UNSOED, saya justru tertarik dengan judul “Hidup Tanpa Ijazah”. Beberapa menit saya menimbang-nimbang di antara tangan kanan-kiri, di antara “Bentara” atau “Hidup Tanpa Ijazah”. Sayangnya,...

Ilusi Negara Islam

Sebuah Resensi Oleh: Firdaus Putra A. Judul lengkap buku itu adalah “Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini merupakan hasil riset se-Indonesia pada 24 kota/ daerah di 17 propinsi di Indonesia. Secara umum buku ini mengupas persoalan infiltrasi, perkembangan dan sepak terjang Islam transnasional di Indonesia, seperti PKS, HTI dan seterusnya. Buku ini bisa didownload secara cuma-cuma pada www.bhinnekatunggalika.org . Apa yang menarik dari buku ini bahwa seluruhnya berangkat dari observasi lapangan dan wawancara yang mendalam. Sehingga kita sebagai pembaca bisa menemukan kasus-kasus yang dideskripsikan sangat detail. Seperti pada hal. 29, kasus pengambilalihan masjid Nu yang dilakukan kelompok PKS dan HTI. “Awalnya, sekelompok anak muda datang membersihkan masjid secara sukarela, demikian berulang-ulang. Tertarik dengan kesungguhan mereka, takmir memberinya kesempatan beradzan, lalu melibatkannya sebagai anggota takmir masjid. Setelah posisin...