Langsung ke konten utama

Postingan

Bila Saya Menteri Koperasi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Bila saya dipercaya Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Koperasi, saya akan membuat beberapa quick win. Quick win ini berupa langkah yang cepat, taktis dan bisa memiliki dampak besar. Sebabnya, orang-orang koperasi menunggu adanya perubahan. Acapkali koperasi dianalogikan gajah yang sedang tidur. Jadi, butuh gebrakan agar bangun! Pertama, melihat demografi kependudukan, generasi milenial mencapai 34,35 persen di Indonesia. Saat ini mereka terbukti antusias dalam geliat startup . Dalam Startuprangking.com jumlah startup di Indonesia mencapai 2110 perusahaan. Itu baru yang masuk radar dan pasti lebih banyak lagi jumlahnya. Hal itu membuat Indonesia menempati nomor lima di dunia. Karenanya, saya akan mendorong regulasi yang bagus bagi pengembangan koperasi startup atawa startup coop.   Dengan cara demikian, milenial akan menemukan koperasi dalam wajah baru, wajah yang kekinian. Di sisi lain, itu merupakan langkah agar para jenius kreatif terliba...

Konglomerasi Usaha Rakyat dengan Koperasi Venture Builder

Oleh: Firdaus Putra, HC. Usaha mikro dan kecil di Indonesia jumlahnya mencapai 98,7% dan 1,2%. Keduanya menyerap tenaga kerja sampai 97 juta orang.Puluhan tahun mereka berada level itu dan sulit sekali untuk naik kelas. Bank Dunia menyebut fenomena itu sebagai the missing middle. Di mana usaha kelas menengah mengalami stagnasi di angka 0,11%, karena yang mikro dan kecil tak pernah bisa naik level. UU 20/ 2008 membagi, yang termasuk usaha mikro bila omset tahunan sampai 300 juta. Usaha kecil omsetnya dari 300 juta sampai 2,5 milyar rupiah. Dan usaha menengah bila omset tahunannya di atas 2,5 sampai 50 milyar rupiah. Hal itu sebabnya banyak. Pertama karena mindset , pelaku usaha mikro dan kecil itu berusaha lebih disebabkan kebutuhan (by necessity) daripada peluang pasar (by oportunity). Ini erat kaitannya dengan penciptaan nilai tambah suatu usaha. Kedua karena kapasitas manajerial. Mulai dari manajemen produksi, keuangan, legalitas sampai pemasaran yang dilakukan secara ma...

Universal Basic Income ala Koperasi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Saat ini wacana Universal Basic Income (UBI) makin santer gaungnya. Sejauh ini beberapa negera maju masih dalam tahap uji coba implementasi unconditional universal basic income dalam skala terbatas. Konsepnya sederhana, yakni transfer sosial yang diberikan negara kepada seluruh warganya tanpa syarat (unconditional) tertentu. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan kesejahteraan warga, terbebas dari jerat kebutuhan dasar dan alhasil meningkatnya kualitas hidup mereka. Tahun 2017 Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyatakan sedang mengkaji kemungkinan uji coba UBI di Indonesia. Bila dirata-rata kebutuhan paling dasar saban orang mencapai 2-2,5 juta rupiah per bulan, kalikan dengan total penduduk. Hasilnya sekian ratus trilyun dana APBN dibutuhkan untuk menyangga semuanya. Amerika masih berhitung untuk menguji cobanya, mereka bilang sangat costly . Finlandia, Jerman, India, Namibia dan negara lain mulai mencari modelnya. Menariknya, gravitasi isu UBI s...

Menyegarkan Koperasi dengan Inovasi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Spektrum isu dan diskursus koperasi satu dekade terakhir lebih banyak bicara soal aspek kelembagaan, legal, permodalan, organisasi gerakan serta kebijakan perkoperasian. Seolah tidak ada perspektif baru melihat aktivitas perkoperasian. Banyak diskusi dan seminar biasanya berujung pada kesimpulan klise, “peran pemerintah perlu ditingkatkan”, “kemandirian koperasi harus dibangun”, “koperasi butuh modal”, “gerakan koperasi lemah” dan seterusnya. Barulah dua-tiga tahun terakhir mulai muncul spektrum warna lain seperti adopsi teknologi digital oleh koperasi. Itupun dengan tingkat resonansi terbatas. Kita perlu mencari perspektif baru untuk melihat geliat perkoperasian di Indonesia dewasa ini. Tentu saja tujuannya agar praktik berkoperasi di tanah air lebih segar dan menyegarkan.     Relevansi Saya sedang membaca 21 Lessons for the 21 st Century karya Yuval Noah Harari. Ada satu alenia yang mengusik dan saya ingin mengutipnya utuh. “Miliaran...

Kapan dan Bagaimana Saya Menyukai Buku?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Kisahnya tak serius-serius amat. Dulu ketika masih mondok, masing-masing santri dapat jatah lemari ukuran 40x60 cm. Itu untuk menampung semua baju dan semua hal lainnya. Termasuk kitab-kitab kuning yang tipis sampai tebal. Tentu saja kitab kuning saya semuanya tipis. Kalau tebal, artinya sudah tingkat lanjut. Lalu saya lihat salah satu lemari teman berisi warna-warni buku. Ada yang tebal, ada yang tipis. Kok bagus, batinku. Saya ingin lemariku nampak seperti itu. Mulailah saya membeli dan mengoleksi buku. Tipis-tipis. Maklum uang bulanan juga tipis. Buku apa saja yang dibeli? Itu pun tak punya preferensi khusus. Apapun yang penting murah. Dulu seharga Rp. 3.800 untuk terbitan Gema Insani Press (GIP). Itu saya punya beberapa. Apakah serius dibaca? Tidak. Atau belum. Hanya untuk mengoleksinya saja dan mempercantik lemari. Rasanya menyenangkan lihat lemari itu tak cuma tumpukan baju dan alat mandi plus beberapa kitab kuning. Saat itu saya kelas ...

Bagaimana Saya Membaca Buku?

Oleh: Firdaus Putra, HC. Dalam satu hari saya bisa membaca beberapa buku berbeda. Lalu bagaimana hal itu bisa dilakukan? Apakah tidak membuat otak overload? Atau harus mengalokasikan waktu berapa jam sendiri? Tidak. Bayangkan bagaimana bila kita menempelkan aktivitas membaca buku pada aktivitas yang lain? Misalnya ketika sarapan, ketika di toilet atau ketika merokok. Nah saya melakukannya seperti itu. Lepas sarapan, sambil merokok saya membaca buku A. Lalu di toilet saya membaca buku B. Malamnya sebelum tidur saya membaca C. Sambil rehat di kantor saya membaca buku D. Dengan cara begitu saya bisa membaca beberapa buku dalam satu waktu. Tentu saja kuncinya kita harus memberi pembatas yang jelas pada halaman terakhir yang sudah dibaca. Dalam aktivitas sela seperti itu, biasanya saya bisa membaca sekira 5-10 halaman. Kecuali malam hari sebelum tidur, saya bisa membaca sampai 50 hingga 100 halaman. Lebih enak bila buku yang dibaca sama sekali berbeda tema sehingga otak ti...

Membangun Ekosistem Inovasi pada Koperasi

Oleh: Firdaus Putra, HC. Meski belum ada data yang cukup, secara kasat mata kita bisa lihat inovasi di koperasi itu rendah. Sebutlah beberapa hal mulai dari pola pelayanan, teknologi yang digunakan, jenis layanan atau produk, branding dan berbagai detail lainnya. Sayangnya, hal itu sudah berjalan menahun, bahkan puluhan tahun lalu. Hasilnya, jumlah koperasi berikut anggotanya banyak, mencapai 26 juta orang, namun kontribusinya rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yakni di angka 4,48% (Kementerian Koperasi, 2018). Di sisi lain secara kualitatif bisa kita lihat model lembaga dan bisnis koperasi yang melulu itu-itu saja. Sampai-sampai seolah tak ada imajinasi lain, ketika komunitas ingin bikin koperasi, itu sama dengan membuat koperasi simpan pinjam. Nyatanya model itulah yang massif di tengah masyarakat. Ironisnya, kejumudan inovasi itu tak hanya terjadi di koperasi masyarakat, namun juga di kalangan koperasi pemuda atau mahasiswa. Seolah tak ada model bisnis lain kecua...