Langsung ke konten utama

Postingan

Apa Aku Mengenalnya?

Sebuah Catatan Kecil Oleh: Firdaus Putra A. * Pagi sampai siang hari tadi (28 Januari 2008) seluruh stasiun televisi secara langsung menyiarkan proses pemakaman almarhum Soeharto, mantan Presiden RI ke-2. Turut serta meramaikan, media cetak seolah tidak mau ketinggalan menyajikan informasi terkait almarhum. Seluruh lika-liku semasa hidupnya menjadi tulisan yang menguntai ribuan kata. Mulai dari karir militer, sampai masa saat almarhum menjabat menjadi Presiden RI. Mengikuti nalar cover both side , beberapa orang diminta testimoninya terhadap almarhum. Ada yang mencibir terkait keotoriterannya selama menjabat. Ada pula yang menyanjungnya. Para tokoh nasional pun angkat bicara. Tidak ketinggalan masyarakat biasa. Terlepas dari sisi kontroversialnya, pemakaman almarhum disaksikan oleh jutaan pasang mata. Pagi sampai siang tadi pun saya turut serta menyaksikan. Meskipun hanya melalui layar televisi. Prosesi “mengantar ke dunia lain” itu seakan menghipnotis masyarakat. Entah karena ...

Teknik Jurnalisme & Jurnalisme Teknis

Oleh: Firdaus Putra A. Ketika saya membaca majalah Solidaritas edisi Desember 2007 – Mei 2008, yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Solidaritas FISIP UNSOED, saya menemukan beberapa masalah yang mengganjal. Di halaman sampul tertulis “Mengintip Pilkada dari Celah Regulasi”, judul ini mengisyaratkan tema utama dari majalah tersebut. Mungkin 60 – 70% beberapa tulisan menyoal Pilkada Banyumas dari berbagai sisi. Sisanya mengangkat tema lain yang ada di Banyumas. Majalah Solidaritas memang diterbitkan dalam rangka memotret isu masyarkat (Banyumas), berbeda dengan buletin Belik yang lebih mengarusutamakan masalah kampus atau pendidikan. Dalam tulisan ini posisi saya jelas, yakni sebagai pembaca. Sebagai pembaca saya merasa cukup sulit untuk mencerna beberapa tulisan dalam rubrik Laporan Utama (dua buah judul), Laporan Khusus (dua buah judul) dan Wawancara (satu buah judul). Dan juga beberapa judul lain yang mengangkat masalah Banyumas atau kampus. Saya merasa bingung keti...

Pelatihan Shalat Khusyu?

Oleh: Firdaus Putra A. Sekitar satu bulan yang lalu saya memberi komentar tentang training ESQ dengan biaya kontribusi yang relatif mahal, Rp. 500.000. Dua hari yang lalu, saya lihat sebuah spanduk promo yang dipasang di pertigaan jalan Kampus FISIP. Isinya cukup mencengangkan, yakni “Pelatihan Shalat Khusyu’” dengan kontribusi Rp. 100.000 (baca juga tulisan, Menyoal Training ESQ) Saya tidak habis pikir, sebegitu komersilkah dakwah Islam hari ini? Untuk mengajarkan tentang fundamen agama, yakni shalat, peserta yang nota benenya adalah umat harus ditarik biaya. Tidak ada lagi term ikhlas dalam dakwah semacam itu. Apakah lantas para petani, penjual rames yang menggantungkan hidupnya di antara nilai selisih biaya produksi dan harga jual produk bisa mengikutinya? Lebih-lebih kita ketahui bersama, harga beberapa kebutuhan pokok masih saja merangkak naik. Melihat spanduk sebagai media promosi, saya menduga bahwa pelatihan itu tidak ditujukan kepada mereka. Jika kita mau jujur, strukt...

Pelatihan Khotib Cerdas

Oleh: Firdaus Putra A. Khotbah Jum’at merupakan salah satu dari enam syarat sahnya shalat Jum’at. Jadi adalah niscaya di manapun dan apapun alirannya, khotbah selalu ada pada setiap pelaksanaan shalat Jum’at. Selain sebagai syarat sahnya shalat Jum’at, khotbah perlu kita baca juga dalam kerangka proses pendidikan kepada umat. Peran pentingnya menurut saya pada poin yang kedua. Mengaitkan khotbah dengan proses pendidikan umat kita harus tahu sampai sejauh mana content atau isi khotbah yang disampaikan oleh khotib. Jika kita pernah mencoba melaksanakan slahat Jum’at di tempat yang berbeda, kita akan tahu isi khotbah kebanyakan masjid. Satu dengan masjid yang lainnya tidak berbeda jauh. Hanya mengangkat topik masalah ibadah mahdloh atau seputar agama (dalam makna vertikalnya). Sedikit masjid (baca: khotib) yang menyampaikan khotbah seputar masalah sosial kemasyarakatan. Kesamaan masing-masing khotib dalam mengangkat isu atau tema pada setiap khotbahnya sebenarnya dapat kita lihat d...

Indonesia, Skulerisme dan Demokrasi

Oleh: Firdaus Putra A. Seperti kata ‘liberal’, skuler atau skulerisme juga cenderung dimaknai secara peyoratif. Padahal, jika kita mau jujur, semenjak dideklarasikan, Indonesia termasuk dalam negara skuler. Kedaulatan di tangan warganya, bukan Tuhan. Yang untuk menyelenggarakannya didelegasikan kepada para wakil rakyat—bila term ini masih mencukupi—melalui mekanisme pemerintahan presidensil. Anehnya, menggunakan term skuler atau skulerisme seakan-akan tabu. Ada juga yang mengartikan skulerisme merupakan paham yang memisahkan kehidupan dengan agama. Pernyataan itu tidak sepenuhnya, hanya saja yang perlu diperjelas adalah konteksnya. Pernyataan itu menjadi benar jika kita tempatkan dalam konteks hubungan antara negara dengan agama. Meskipun, sebenarnya tidak ada satu negara pun yang benar-benar skuler dalam artian mengasikan agama. Yang ada seringkali nilai-nilai universal agama ditransformasikan dalam sebuah kebijakan publik bagi seluruh warga negara tanpa membedakan asal usul agam...

Pak Slamet Warteg:

Semacam Testimoni Oleh: Firdaus Putra A. Saya mulai mengenal beliau awal tahun 2004. Raut mukanya dan tubuhnya masih sama, tidak terlalu berubah. Meskipun aslinya beliau sudah lanjut usia. Beliau lahir tahun 30-an. Saat ini mungkin sudah memasuki usia 70 tahunan. Meskipun sudah lanjut, tubuhnya masih sehat dan tidak layu. Tatap matanya masih tegas. Tutur katanya masih saja sama, menyentak. Aktivitas beliau sebagai seorang penjual nasi rames. Tempat berdagangnya di depan kampus FISIP UNSOED. Oleh kawan-kawan kampus tempat itu dikenal sebagai Warteg depan FISIP. Secara fisik tidak ada perbedaan antara warteg milik Pak Slamet dengan warung tegal yang lain. Hanya saja, warteg Pak Slamet sering dijadikan tempat kumpul kawan-kawan pegiat kampus, wartawan, dan sebagainya. Biasanya juga dijadikan posko ketika hendak melakukan aksi massa, atau mencari sumbangan untuk bencana alam. Dalam usianya yang sudah lanjut beliau tetap berorganisasi. Saat ini beliau dipercaya sebagai Ketua Paguyuga...

Mengapa Saya Menulis?

Oleh: Firdaus Putra A. Sebagian kawan saya pesimis terhadap apa yang saya lakukan. Mereka beranggapan bahwa pemikiran dan tentunya juga tulisan, tidak terlalu siginifikan dalam memberdayakan mahasiswa atau masyarakat. Pandangan semacam ini merupakan pandangan yang deterministik, bahwa pemberdayaan mengharuskan keterlibatan secara fisik. Keterlibatan fisik, pada titik tertentu saya sepakat. Tetapi memutlakkan pandangan semacam ini saya kira tidak tepat. Sampai hari ini saya masih meyakini bahwa pemikiran atau tulisan masih signifikan sebagai salah satu media perjuangan. Perjuangan di sini saya maksudkan dalam maknanya yang paling luas, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh mengupayakan kehidupan yang lebih baik dan beradab. Pemikiran dan tulisan, menurut saya merupakan semangat dari perjuangan itu sendiri. Sejatinya, tidak ada di dunia ini, dimana kita berjuang tanpa berpikir dengan serius. Saya memaknai pemikiran dan tulisan sebagai media perjuangan. Untuk itu, saya selalu berus...