Langsung ke konten utama

Postingan

Waktu Maghrib

Oleh: Firdaus Putra A. Saya mulai bertanya-tanya, mengapa ketika waktu Maghrib tiba, keadaan berubah menjadi “sakral atau magis”. Berbeda ketika misal waktu Isya—yang sama-sama gelap, atau waktu Subuh. Tengoklah, sedikit orang yang keluar di waktu Maghrib atau petang. Padahal, bila sekedar saat itu matahari terbenam dan situasi menjadi gelap, lampu-lampu dengan aneka cahanyanya sudah bisa menerangi jalanan.Amat berbeda misal ketika adzan Isya berkumandang, banyak orang melenggang dengan santainya di jalanan. Televisi nampaknya juga menangkap nuansa sakral atau magis waktu Maghrib. Lihatlah, hanya adzan Maghrib saja yang ditayangkan di televisi. Selain Subuh di waktu-waktu tertentu, misal bulan Puasa. Selebihnya, Dzuhur, Ashar dan Isya, jarang atau bahkan tidak pernah ditayangkan. Bukti lainnya, kita akan dinilai tidak sopan ketika bertamu saat Maghrib. Akan tetapi, penilaian yang sama tidak muncul di waktu Isya, Dzuhur atau Ashar. Bahkan yang lebih mensakralkan lagi, tidur dan ...

White Rabbit

Oleh: Firdaus Putra A. Kelinci putih. Bukan kelincinya Playboy lho... Foto di samping itu kelincinya teman-teman kosku. Si kelinci, entah siapa namanya, sudah lima hari terakhir tidur di salah satu kamar kos yang tidak terpakai. Namun bukan kelinci liar lho, ada salah satu teman yang membelinya. Ada kelinci di kos, rasa kangenku dengan kucing cukup terobati. Di Purwokerto aku jarang menemukan kucing yang mau dipelihara anak kos. Atau, anak kos—termasuk aku—akan berpikir seribu kali untuk melihara kucing. Bayangkan, makanan si empunya sekedar tempe-tahu, masak si kucing makan ikan. Nah, karena ada kelinci, akhirnya dialah yang jadi “obyek klangenan”ku. Sembari mengisi waktu luang, aku memberi makan kelinci dengan wortel, sawi putih, kubis, timun, kangkung, atau sayuran lainnya. Senang rasanya melihat cara dia makan. Mulutnya bergerak-gerak, memamah terus menerus. Sesekali aku dekatkan jariku dan dia menggigitnya. Seperti kucingku dulu yang suka menggigit lembut jari atau telapak ...

Ilmu & Ideologi

Oleh: Firdaus Putra A. Sejak 1970-an, Jurgen Habermas, seorang pemikir Madzhab Frankfurt sudah menyoal hubungan antara ilmu pengetahuan dan ideologi. Sampai di dalam bukunya, Pengetahuan dan Kepentingan, ia berkesimpulan bahwa hubungan antara keduanya sangat erat. Lebih jelas, Habermas, melalui penelusuran historis dan filosofis, menyimpulkan bahwa setiap pengetahuan selalu diselimuti bahkan didorong kepentingan tertentu. Ia mencotohkan ilmu pengetahuan alam atau positivistik yang berkepentingan melakukan manipulasi terhadap alam, mengontrol, dan mengarahkannya. Dalam kajian lain, Foucault juga menemukan hal yang sama, Power/Knowledge, yang artinya bahwa kekuasaan sebagai manifestasi dari kepentingan selalu membutuhkan basis pengetahuan (episteme) sebagai legitimator. Seturut dengan itu, jauh-jauh hari, Kuhn sudah membaca bahwa pengetahuan erat hubungannya dengan kekuasaan-kepentingan. Ia secara lugas menyatakan bahwa, sebuah paradigma dalam disiplin keilmuan tertentu nampak hebat...

HP Hilang

Oleh: Firdaus Putra A. Singkat cerita, HP saya hilang. Lebih tepatnya, dicuri orang. Kejadiannya hari Selasa kemarin (5/08), kurang lebih pukul 11.30 siang. Siapa sangka, ketika saya mandi, barang 15-20 menit, dua orang laki-laki tak dikenal masuk ke kos. Selepas mandi, saya curiga, kok di atas kasur tidak ada HP. Saya cari di lipatan selimut, bawah bantal, dan samping kasur juga tidak ada. Langsung saya meminjam HP teman kos lain untuk me-mis call. Sayangnya, mereka tidak punya pulsa. Bergegas saya ke wartel. Saya dial nomor 085647788xxx, dan diangkat oleh seseorang. Sempat dua menit saya berbicara dengan lelaki itu. Dan akhirnya, dia putus sambungan. Sesampai kos, saya tanya ke teman-teman, apakah barusan ada yang mengangkat HP saya? Tidak ada. Saya tambah yakin kalau HP sudah berpindah tangan secara tak legal. Mendengar HP saya dicuri, seorang teman yang sedang tidur-tiduran di kamar langsung keluar dan menawarkan HP-nya untuk memanggil. Kedua kalinya saya dial nomor itu. Dia...

Ideologi & Agama

Oleh: Firdaus Putra A. Suatu ketika terjadi perdebatan antara kalangan Islam dengan Kristiani terkait sejarah kapal Nabi Nuh. Kalangan Islam mengklaim bahwa kapal tersebut berlabuh di bukit Judi. Klaim ini bersumber dari teks suci, Quran. Sedangkan kalangan Kristiani, menyatakan bahwa kapal tersebut terdampar di pegunungan Ararat. Masing-masing mengklaim paling benar berdasar Kitab Sucinya. Kalimatun shawa atau titik temu tidak terjadi. Sampai akhirnya, kalangan ilmuwan/intelektual melakukan penelitian sejarah melalui pendekatan arkeologi. Dibantu teknologi foto satelit, tersingkap bahwa di bawah tanah negeri Mesir ada bangunan/struktur kota tua. Dan akhirnya, perdebatan tentang kapal Nabi Nuh bisa terselesaikan. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa kapal itu berlabuh di bukit Judi. Namun yang harus dicatat, bahwa bukit Judi terletak di pegunungan Ararat. Ternyata klaim kalangan Islam dan Kristiani sama-sama benarnya. Klaim-klaim itu mampu ditemukan melalui pendekatan ilmiah, bukan sek...

Penjara Bahasa

Oleh: Firdaus Putra A. Lambat laun saya mulai menyadari mengapa kalangan eksistensialis-fenomenologis dan aliran pemikiran seframe lainnya, tidak terlalu suka dengan struktur. Bahkan, sampai titik tertentu membencinya. Struktur merupakan manifestasi dari segala tata aturan yang muncul di masyarakat. Awalnya memang sekedar pola (pattern), namun setelah terpolakan, semuanya berubah menjadi kerangkeng yang tak membebaskan. Jujur, saya kadang iri menengok beberapa blog yang ditampilkan sesepontan mungkin oleh pengelolanya. Dengan bahasa keseharian yang benar-benar mengekspresikan situasi psikologis yang melingkupinya. Dengan candaan, cacian, atau perkataan yang ringan, nyentak, atau bahkan memerahkan telinga. Namun, merekalah para blogger yang menemukan kebebasan itu. Tidak perlu capai untuk berkaidah baku, ber-EYD, dan turut langkah dengan bahasa baku lainnya. Memang, saya sering menulis narasi kecil tentang kehidupan atau lingkungan yang saya alami. Bedanya, tulisan saya tidak seb...

Praxis - Praksis?

Oleh: Firdaus Putra A. Praxis, kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “praksis.” Kata ini sangat familiran di kalangan pergerakan mahasiswa. Bahkan, kata ini mempunyai makna yang sangat dalam. Secara sederhana “praksis” dapat kita terjemahkan sebagai “berbuat” atau “bertindak.” Sebagian gerakan mahasiswa jutru menghadap-hadapkan antara praksis dengan diskursus (wacana). Tulisan ini ingin menyingkap dua term, praksis dan wacana, yang senantiasa dimaknai secara deterministik oleh pergerakan mahasiswa. Satu minggu yang lalu saya memperoleh SMS dari seorang teman, Khoirurrizqo, “Selamat, semoga ini menjadi titik perlawanan yang masuk di wilayah praksis. Tidak terus bergelut di wilayah ide.” SMS ini cukup menyentak saya. Sekurang-kurangnya, Khoirurrizqo berangkat dari asumsi bahwa apa-apa yang saya lakukan selama ini menurutnya bukan termasuk praksis. Sedari awal kuliah memang saya tidak mengafiliasikan diri pada ormas mahasiswa mana pun. Pada tahun 2004, bersama beberapa...