Langsung ke konten utama

Postingan

Awarding

Oleh: Firdaus Putra Karena dia layak memperolehnya, seseorang diberi penghargaan. “Something awarded or granted, as for merit” seperti nukilan dari thefreedictionary.com mendeskripsikan kata “award”. “Merit” sendiri dapat bermakna “jasa”, “pantas”, “manfaat” atau lainnya. Jadi penghargaan selalu diberikan kepada seseorang yang pantas menerimanya lantaran jasa atau kiprahnya. Penghargaan semacam itu bukan basa-basi seremonial atau kuis televisi. Melainkan sikap kerendah-hatian dengan penuh hormat untuk mengakui prestasi seseorang dalam bidang tertentu. Dalam proses itu, tidak menarik membahas “apa” bentuk penghargaannya. Sebaliknya, lebih menarik untuk menyoal “mengapa” dia pantas menerimanya. Menyoal “apa” hanya akan melahirkan keangkuhan. Sedang menyoal “mengapa” akan membawa pada inspirational story yang dapat dicontoh orang lain. Dalam “merit” selalu terkandung makna “layak”. Layak merupakan imbas dari rentetan aktivitas yang dilakukan seseorang; Berpikir, membangun, men...

Homo Ludens

Oleh: Firdaus Putra Fitrah manusia yang satu ini jarang disinggung. Manusia sebagai Homo Ludens atau manusia yang bermain. Bermain adalah keluar dari kehidupan biasa. Dan bermain itu, keluar dari kategori benar/ salah. Artinya, setua apapun usia adalah pantas untuk bermain. Bermain merupakan satu dari sekian banyak kebutuhan kita di dunia fana ini. Jangan dilupakan, sekaliber Einstein pun senantiasa menyisihkan waktu untuk bermain. Untuk menjaga akal sehat. Dan tentu saja, merawat kualitas kehidupan. Bermain membuat manusia kembali segar, seperti suntikan adrenalin pada tubuh. Bermain menyuplai vitamin-vitamin yang tak ditemukan di berbagai zat. Bermain adalah sepenting bekerja. Bekerja membuat otot menegang untuk menyusun kehidupan. Bermain, merelaksasikan otot-otot itu agar tetap hidup. Selain itu, bermain erat kaitannya dengan laku kreatif. Permainan selalu mengakar pada kreativitas manusia. Dalam laku kreatif ada proses imajinasi. Imajinasi dapat mengadakan apa-apa yang ta...

Kere Aktif

Oleh: Firdaus Putra Kata di atas hasil “perkawinan silang” yang sering kita pakai dalam canda. Gen asalnya, “kere” dan “aktif”. Kere dalam bahasa Jawa artinya “miskin”. Aktif menunjuk suatu kondisi “berusaha”. Kondisi miskin setara dengan kondisi terbatas. Terbatas itu laksana terperangkap di sebuah kotak, di sebuah keadaan. Ia dibatasi sekat-sekat tertentu. Pola pikir kere-aktif setara dengan berpikir “out of the box”. Ia aktif keluar dari ke-kere-an. Artinya aktif keluar dari kondisi-kondisi yang membatasi. Sering orang bilang berawal dari ke-kere-an atau kondisi terbatas, kita menjadi kreatif. Tak ada rotan, akar pun jadi, kata pepatah. Karena keterbatasan, kita dituntut mendayagunakan apa-apa yang ada. Tentu saja, proses ini menyiratkan agar kita lebih fokus pada potensi daripada masalah. Potensi merupakan segala ihwal yang kita punya. Sedang masalah adalah jarak antara harapan dengan kenyataan. Orang kreatif fokus pada bagaimana mendayagunakan segala ihwal untuk mewujud...

Mari Bermain, Mari Tertawa

Oleh: Firdaus Putra “Di musim panas merupakan hari bermain gembira. Sang gajah terkena flu, pilek tiada henti-hentinya. Sang bruang tidur dan tak ada yang berani ganggu dia. Oh sibuknya, aku sibuk sekali”. Sinchan sibuk bermain seperti halnya dulu kala kita kanak-kanak. Hari ini, di saat kita mulai menua, nampaknya kita lupa untuk bermain. Lupa pada salah satu fitrah kita sebagai Homo Ludens atau Manusia yang Bermain. Pagi ini kita berkumpul di alam terbuka dan melepas sejenak hingar-bingar rutinitas hidup. Kita akan bermain! Bermain adalah keluar dari kehidupan biasa. Ya, keluar dari kehidupan yang sebenarnya. Mulai pagi ini, kita akan mendeklarasikan diri sebagai manusia-manusia yang bebas. La libertad de la voluntad, kata Viktor Emil Frankl. Adalah hasrat untuk bebas. Bebas untuk mengekspresikan perasaan gembira, suka cita, riang dan senang. Ya, bebas seperti anak kecil! Di pantai ini, terletak di Kampung Krakal Kelurahan Ngestirejo adalah arena bermain kita. Arena bagi kita u...

Writing by Facebooking

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. MENULIS status fesbuk adalah aktivitas yang ringan. Sadar atau tidak, ketika menulis status seseorang sedang melakukan dua aktivitas; berpikir dan menuliskannya. Berpikir dalam arti bagaimana ide itu digali yang biasanya “mencoba tampil beda”. Menuliskannya dalam arti secara teknis menyusun kata sampai meramu tanda baca dan pilihan kata yang tepat. Makanya tak sedikit fesbuker perlu waktu lama untuk sekedar “menulis status”. ERA fesbuk memberikan ruang kreativitas bagi saban orang. Perlombaan “tampil beda” terjadi. Dalam makna positif adalah bagaimana saban orang mencoba menawarkan ide-ide yang unik. Seringkali kita baca ada status yang begitu menggelitik. Dan jika kita jujur, “Iya ya, kok bisa dia berpikir seperti itu?” Beberapa orang bisa memikirkan ide yang tak pernah kita pikirkan. Inilah cikal-bakal penulis yang dijamin tak akan pernah kehabisan ide. NAMUN, apakah hal seperti itu sebuah bakat? Atau justru bertumpu pada minat yang besar? Bakat dala...

Bayang-Bayang Nuklir

Oleh: Firdaus Putra Aku tak pernah sangka kalau krisis nuklir Jepang membuatku cemas. Pukul lima tadi kau terbang ke Jepang menjemput papamu. Dua hari lalu sudah kukatakan, minta seluruh familimu menjauh dari Fukushima. Bila perlu, pulanglah ke Singapura atau Taiwan. Papamu tetap ngotot. Kakak lelakimu menemani. Hanya mama dan kakak perempuanmu yang pulang agar kau tak cemas. Tapi, kini kau malah menyusul ke sana bersama mereka. Dan itu, membuatku demikian cemas. Kau tahu, ihwal Jepang adalah tentang “sudah jatuh tertimpa tangga”. Tsunami itu demikian dahsyat. Gempa sembilan sekian skala richter membuat sebagian negeri itu porak poranda. Ada sekitar 13.000 orang yang dikabarkan meninggal dan atau hilang. Dan kini, “tangga” itu menimpa. Krisis nuklir mengintai jam demi jam, hari demi hari. Sepertimu, kucermati terus perkembangan berita. Krisis itu terjadi lantaran pendingin inti nuklir rusak akibat tsunami. Jika inti yang panasnya di atas ratusan derajat celcius itu melumer, rad...

Savner di Valentine Day

Oleh: Firdaus Putra Pada awalnya adalah frekuensi. Frekuensi adalah ke-kerap-an, tentang seringnya berkomunikasi. Lama kelamaan menjadi intensif dengan kualitas isi komunikasi. Mulailah—dalam bahasa Norwegia—muncul savner . Atau perder dalam lanskap Portugis. Adalah kecondongan untuk merasakan sensasi peristiwa itu lagi, peristiwa komunikasi. Rasa itu muncul justru saat peristiwa itu terhenti. Semacam adiksi yang menuntut untuk dipenuhi. Itulah rasa rindu. Rasa itu harus dipenuhi. Entah bertemu langsung, by phone, by net atau lewat merpati pos. Sedangkan cara terakhir adalah dengan asosiasi. “Memanggil” peristiwa itu dengan obyek pengganti; foto, musik, cendramata atau sekedar imajinasi. Inilah usaha untuk menjawab laju hormon oxytocin hasil sekresi otak. Ya, nampak seperti laku fetitisme pada benda tertentu untuk memperoleh sensasi tertentu. Di hari ini, Valentine, banyak orang membuat harapan. Salah satunya mengharap yang dirindukannya hadir. Hadir dalam makna sebenarnya atau...