Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang Pernikahan

Oleh: Firdaus Putra Ku terbangun saat kamu cium keningku dengan lembut. Udara dingin masuk melalui jendela yang kamu buka lebar-lebar. Senang sekali kamu menggodaku. Membawa beribu hawa dingin menggelitik tubuhku. Senang sekali kamu saat melihatku semakin menarik selimut. Kamu tertawa riang dan bilang “Honey … ayo bangunnnn. Si Mo saja sudah bangun dari tadi”. Ledekmu sembari mengangkat anjing putih itu. Dengan malas-malasan kubangun juga. Langsung kupeluk tubuhmu dan ciumi lehermu. Kamu meronta-ronta menolak. “Hiii… bauuuuu”, kamu teriak dengan mengibas-ngibaskan tangan. Aku hanya terkekeh melihat ulahmu. Kuminum air putih yang telah kamu siapkan untukku. Dan kulalui hari itu habis bersamamu. Dalam ruang-waktu, sebuah episode pernikahan kita. Suasana di atas terasa begitu hangat. Bahkan pernikahan yang asli bisa jadi lebih hangat daripada imajinasi itu. Tentang perpaduan dua pasang manusia: laki-laki dan perempuan yang berkomitmen untuk membangun keluarga bersama. Mereka ber...

Cinta August

Oleh: Firdaus Putra Kuingat momen itu saat August bercengkerama dengan angin dan tetumbuhan gandum. Ia lambai-lambaikan tangan, penjamkan mata dan hirup kuat-kuat bebau di sekitarnya. Ia rasakan kehadiran perempuan itu, Lyla Novacek. Kehadiran dalam rasa, bukan dalam wujud. Tentang sosok yang ia tanya dan cari terus menerus. August terus meyakini tentang keberadaannya. Melalui desir angin, langit yang gelap dan gemericik air, bocah itu kirimkan pesan, “Mama …”. Kasih sayang itu melintasi dimensi ruang. Lyla merasakannya. Pesan itu, entah dengan cara apa merasuk dalam kalbunya. Agust Rush adalah kisah tentang anak yang menemukan ibunya melalui musik. Aku ingat masa dimana kamu berbicara tentang doa. Tentang bagaimana kamu selalu mendoakanku. Seperti August, ia yakini Lyla tanpa wujud. Sedang kamu meyakini aku tanpa pernah bertemu. Nada adalah medium bagi August, sedang doa adalah medium bagimu. Doa itu melintasi ruang. Tentang beribu kilometer jarak yang membentang. Dan aku, mera...

Menunggu Waktu

Oleh: Firdaus Putra Kuhisap sebatang rokok kuat-kuat. Hisapan demi hisapan sembari menunggu kabar. Waktu nampaknya berjalan demikian lambat. Tentang destinasi perjumpaan. Di sebuah lipatan ruang-waktu, Kemang Pratama, 8 Desember 2010. Ingin kuyakini dan terus meyakini, kamu akan datang. Bertemu denganku, walau hanya sekejap. Berjabat tangan dengan hormat. Menatap mata dengan lekat. Dan memeluk dengan erat. “Hi, akhirnya kita bertemu”, seruku dan kamu bersamaan. Ingin kuharap dan terus berharap, kamu lekas sehat. Menyongsong kisah tentang hari esok. Tentang hidup yang saling melintasi. Melintasimu dan kamu melintasiku. Tentang lintasan yang tak pasti dimana ujungnya. Tapi, let it flow. Biarkan saja itu mengalir. Jika benar, alam raya akan memberi jalan. Tanpa kita duga, tanpa kita sangka. Ya, seperti keacakan alam yang mempertemukan kita di episode kehidupan. Tapi, jangan-jangan alam tidak mengacak. Alam sedang menjawab keinginanku-keinginanmu. Alam mempertemukan kita dalam kemi...

Tentang Keputusan

Oleh: Firdaus Putra “Yang lalu biarlah berlalu. Tengoklah hari esok. Hari esok masih panjang”, begitu katanya. Ia masih muda. Selisih satu tahun denganku. Namun soal pengalaman, saya rasa dia sudah makan asam garam kehidupan. Dan saat ia memberi nasehat seperti itu, saya pikir dia pernah mengalaminya. Dimana keadaan menuntut untuk membuat keputusan, yang bisa jadi tidak enak. Karenanya saya ingin meyakini perkataan itu. Membuat keputusan seringkali menyangkut masalah tertentu. Ya, kita sebut masalah yang lebih sering berkonotasi negatif (complicated) atau dengan eskalasi konflik yang tinggi. Padahal setiap hari kita senantiasa membuat keputusan. Misalnya, saat di meja makan, apa yang ingin kita makan-minum? Adakah kita memilih nasi goreng atau bakmi. Memilih minum teh atau jus dan sebagainya. Atau saat kita akan pergi, baju apakah yang ingin kita kenakan? Warna hitam, biru, hijau atau lainnya. Baju dengan motif apa? Sepatu atau sandal? Asesoris apa? Dan seterus dan seterusnya. Da...

Tentang Kekuatan Pikiran-Imajinasi

Oleh: Firdaus Putra Pikiran kita seperti magnet. Saat berpikir otak kita memancarkan frekuensi tertentu. Ia memancar ke semesta alam. Bagaikan magnet, ia menarik hal itu mendekat ke kita. Dan akhirnya mewujud di hadapan kita. Kurang-lebih begitulah apa yang tertulis dalam “The Secret”. Tentang kekuatan pikiran atau imajinasi manusia. Pernah saya baca novel dengan spirit yang sama. Paulo Coelho menulis dengan indah dalam “The Alchemist” dimana alam akan merespon atau membantu mewujudkan keinginan seseorang. Bedanya, dalam “The Secret” proses itu dijelaskan rinci dengan kesaksian para ahli. Termasuk dari pakar fisika kuantum yang mengatakan hal itu adalah benar. Pada dasarnya adalah hukum tarik-menarik. Setiap apa yang kita pikirkan (baik atau buruk) akan menarik kemiripan-kemiripan yang ada di alam mendekat ke kita. Semakin fokus atau bersungguh-sungguh memikirkannya, maka semakin besar peluang hal itu terwujud. Namun kata seorang dalam “The Secret”, kenapa jika rahasia itu sederh...

Lunis, Melampaui Geng Nero

Oleh: Firdaus Putra Siapa tak kenal Geng Nero yang kondang dua tahun lalu itu? Berita tentang tindakan kekerasan oleh geng cewek SMA di Pati itu menjadi buah bibir di masyarakat kita. Mulailah kelompok-kelompok atau geng-geng anak sekolah dicibir di sana-sini. Berbahaya! Megamendung, nampaknya mempunyai cerita lain. Epri alias Eri mengatakan “Iya, kami anak geng. Tapi gak seperti Nero”. Epri bersama tiga teman perempuannya adalah siswa dari SMK At-Thohirin jurusan Administrasi Kantor. Seperti ketiga temannya yang lain, Epri berusia 17 tahun. ”Tapi kami belum punya KTP”, kata Elis menyambung. Di penghujung tahun 2009, Epri, Elis, Eka dan Yuli membentuk geng. ”Lunis, namanya”, seru Yuli dengan berbinar. Secara bersama-sama mereka jawab ”Artinya, Lucu dan Manis”. Geng ini merupakan jalinan pertemanan dekat empat perempuan itu. Dalam geng mereka saling curhat tentang masalah satu sama lain. Sering juga ngerumpi, maen dan nongkrong. Tempat favorit mereka nongkrong adalah Danau Rainbo...

Koperasi, Negara dan Politik

Beberapa Kenaifan dan Keanehan Gerakan Koperasi Indonesia Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. Avant Propos Gerakan koperasi selalu mengumandangkan kemandirian internal dalam rangka membangun organisasi sekaligus usaha agar mengakar dan besar. Dilatari oleh semangat self help, maju-mundur, mati-tidaknya koperasi bergantung pada kemauan kolektif memperjuangkan nasibnya. Artinya, berkembang-tidaknya koperasi adalah murni tanggungjawab anggota koperasi. Bukan yang lain! Dengan perspektif tersebut, gerakan koperasi meletakkan negara pada lingkaran luar anasir. Bahkan mengesampingkan begitu saja ada-tidaknya peran-serta negara (kebijakan pemerintah) mendukung atau tidak gerakan koperasi. Kebijakan negara, dalam konteks yang lebih khusus misalnya kebijakan ekonomi, pun serta-merta diabaikan. Dalam klaim heroisme, kemandirian dan semangat self help nampak begitu memukau. Hanya saja masalahnya, adakah perspektif semacam itu berbasis pada realitas? Atau justru sebuah perspektif yang naïf? Atau a...