Langsung ke konten utama

Postingan

Misterium

Oleh: Firdaus Putra A. Akhir Ramadhan tiba. Menyusul kemudian, ritus kebudayaan masyarakat Indonesia, mudik. Ritus ini bak kulminasi dari Ramadhan itu sendiri. Dimana setiap orang yang berkeluarga akan merapatkan diri pada yang lain. Meski jarak membentang antara keduanya. Ada daya magnet yang menarik antara satu sanak dengan famili lainnya. Bagi yang berpunya, pesawat, kereta api, kapal laut kelas VIP dipesan. Bagi yang biasa saja, kelas bisnis sudah cukup untuk menyamankan perjalanan. Sedang bagi yang pas-pasan, jasa angkutan bertaraf ekonomi menjadi pilihan yang tepat. Setiap orang dengan berbagai latar memilih sarana yang menurut mereka nyaman. Untuk sementara waktu kenyamanan menjadi perhatian. Namun, prinsip kerja kenyamanan, di Indonesia, tidak selalu berbanding lurus dengan keamanan. Pesawat terbang bisa tiba-tiba mendarat darurat, landing dengan agak ceroboh, atau take off dengan mengkhawatirkan. Kereta api, baru-baru ini sebuah Argo Bromo Anggrek keluar dari rel. Kapal...

Jalur Cepat & Lambat

Surat Terbuka untuk Taqiyyudin Oleh: Firdaus Putra A. I Sekurang-kurangnya ada dua jalur perubahan sosial, pertama menggunakan jalur cepat. Terakhir menggunakan jalur lambat. Yang pertama, muncul pada apa yang namanya revolusi sosial. Yang terakhir, mewujud pada reformasi atau juga evolusi sosial. Dua jalur itu bisa sekedar masalah pilihan cara. Atau pilihan cara itu sebenarnya tergantung pada masalah apa yang dihadapi. Sebagian aktivis sosial mengklaim cara advokasi adalah cara yang paling mungkin untuk menang dalam struktur kelas yang timpang. Berbeda dengan itu, cara pendidikan (pemberdayaan) merupakan cara pembangunan gerakan secara sistematis dan mengakar. Jalur cepat ini sangat membutuhkan loyalitas kolektif. Sedang jalur lambat, lebih memfokuskan pada individu-individu sebagai penyusun kolektif itu. Jalur cepat membutuhkan kolektif, yakni massa, karena cara-cara yang digunakan bersifat agresif dan menekan. Mereka membutuhkan kekuatan dalam pengertian senyatanya untuk me...

Hari Geblak

Oleh: Firdaus Putra A. Anda percaya adanya hari sial? Di Jawa, sekurang-kurangnya kota saya, Pekalongan, mengenal yang namanya “dino balungan enem”. Entah apa maknanya, intinya kata kakek-nenek, hari itu cukup mendatangkan kesialan. Di desa saya ada juga kepercayaan kalau di hari tertentu, misal Selasa dan Sabtu, kita tidak boleh melakukan perjalanan jauh (mudik atau balik). Dalam terminologi Jawa masalah hari baik atau buruk kita sebut dengan adat “pitungan” (bahasa Indonesia, penghitungan). Segala sesuatunya harus dihitung; membangun rumah, pernikahan, membuka usaha, mulai menanam sawah dan sebagainya. Adat ini mirip dengan tradisi Feng Shui dalam kepercayaan Cina. Dalam kajian budaya, tradisi ini kita sebut sebagai kearifan lokal. Sebuah kearifan masyarakat lokal atau daerah yang mempunyai logikanya sendiri dan sering kali secara permukaan berbeda dengan logika rasionalisme ilmu pengetahuan. Meski kalau kita selami, sebenarnya kearifan lokal, yang sekarang kita sebut dengan mit...

Blog and Meaningless

Oleh: Firdaus Putra A. Menurut data, saban hari ada 13.000 blog baru dibangun di dunia maya. Artinya ada 13.000 orang yang akan mulai nyerocos tentang berbagai hal. Mulai dari kamar tidurnya, rumahnya, pasangan hidupnya, pekerjaannya, hobinya, masyarakatnya, negaranya dan berbagai tetek bengek kehidupan manusia. Al hasil, ada sekian juta informasi yang lalu lalang, beredar, berputar dan mengelilingi kita setiap saat. Masing-masing blog menawarkan sesuatu yang berbeda. Lebih tepatnya khas individu. Satu orang berlainan gaya, kepedulian, penghayatan dengan yang lain. Dalam dunia maya itulah kita temukan warna-warni dunia yang melebihi perjumpaan di dunia nyata. Inilah epos tentang revolusi teknologi informasi yang membuat semuanya menjadi mungkin. Memasuki taman bunga penuh warna tanpa harus menjejak kaki ke negara asalnya. Efisiensi dan efektivitas bekerja sebagaimana mestinya. Sedikit uang, sedikit tenaga, namun banyak informasi yang bisa diserap. Didukung oleh kemurahan, kemu...

Menangis

Oleh: Firdaus Putra A. Tak ada manusia yang tak pernah menangis. Di hari awal ia lahir ke dunia, tangis merupakan pertanda nan membahagiakan semua orang. Awal kehidupan bermula dengan tangis. Tak kecuali akhir kehidupan. Berbeda di awal, akhir kehidupan sanak famililah yang menangis. Menangis merupakan aktivitas yang alamiah. Mungkin tanpa tangis, manusia kurang lengkap kemanusiaannya. Tanpa tangis, akan ada ekspresi perasaan yang hilang. Tangis merupakan kulminasi dari perasaan manusia. Terlalu bahagia ia akan menangis. Terlalu sedih juga akan menangis. Tangis tidak memandang jenis kelamin. Laki, perempuan, transkelamin, semuanya bisa menangis. Tangis adalah kodrat. Ia ditakdirkan lekat dengan manusia yang dhaif ini. Kedhaifan kitalah yang membuat kita lebih banyak menangis karena sedih daripada bahagia. Tangis merupakan sebentuk tanda kelemahan. Sedang tanda merupakan hasil konstruksi manusia. Saya sering menangis. Artinya saya tak malu atau tak segan untuk menangis. Saat se...

Bookholic

Oleh: Firdaus Putra A. Melekatkan “holic” pada kata “book” akan terbayang sosok manusia dengan kacamata tebal, potongan rambut cupu dan model baju yang a la kadarnya. Mungkin inilah makna “bookholic” yang pertama, kutu buku. Entah dari mana asal muasal peribahasa “kutu buku” untuk melukiskan orang yang gemar membaca buku. Aktivitas membaca menjadi cukup peyoratif dengan peribahasa itu. Jadilah orang tidak mau menjadi “kutu buku” khawatir lama-lama ia akan menjadi “kutu busuk”. Atau ada makna lain dari “bookholic” ini, yakni kegemaran membeli buku. Modusnya hampir sama dengan “shopaholic”, merujuk pada orang yang gemar berbelanja. Hingga muncul juga sebuah tempat di Yogyakarta, “shoping center”, pusat perbelanjaan buku. Pada makna yang kedua ini, bisa jadi aktivitas membeli buku sedikit bergeser dari tujuan semula, dalam rangka mengkoleksi untuk kemudian membacanya. Maksudnya, dengan membeli atau belanja buku orang memperoleh kepuasan tersendiri. Mirip dengan aktivitas belanja ket...

Savoir/Pavoir a la Foucault

Oleh: Firdaus Putra A. Diskursus (discourse) merupakan satu konsep yang dibahas secara panjang lebar oleh Foucault. Konsep ini mengacu pada cara menghasilkan pengetahuan, beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk subyektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan yang ada di balik pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua aspek tersebut.[1] Konsep tersebut merujuk pada kondisi-kondisi dimana suatu pengetahuan, peraturan, norma, nilai, dan sebagainya terbentuk. Foucault melihat bahwa proses produksi itu semua bersifat tidak bebas nilai (not value free). Penelusurannya yang cukup fenomenal adalah praktik (perbincangan) seksualitas ditabukan oleh masyarakat. Dalam bukunya, Seks dan Kekuasaan: Sejarah Seksualitas, Foucault menelusuri praktik pentabuan seks mulai zaman Victoria. Menurutnya, pada awal abad ke-17 seksualitas tidak ditutup-tutupi. Kata-kata bernada sesk dilontarkan tanpa keraguan, dan berbagai hal menyangkut seks tidak di...