Langsung ke konten utama

Postingan

Savner di Valentine Day

Oleh: Firdaus Putra Pada awalnya adalah frekuensi. Frekuensi adalah ke-kerap-an, tentang seringnya berkomunikasi. Lama kelamaan menjadi intensif dengan kualitas isi komunikasi. Mulailah—dalam bahasa Norwegia—muncul savner . Atau perder dalam lanskap Portugis. Adalah kecondongan untuk merasakan sensasi peristiwa itu lagi, peristiwa komunikasi. Rasa itu muncul justru saat peristiwa itu terhenti. Semacam adiksi yang menuntut untuk dipenuhi. Itulah rasa rindu. Rasa itu harus dipenuhi. Entah bertemu langsung, by phone, by net atau lewat merpati pos. Sedangkan cara terakhir adalah dengan asosiasi. “Memanggil” peristiwa itu dengan obyek pengganti; foto, musik, cendramata atau sekedar imajinasi. Inilah usaha untuk menjawab laju hormon oxytocin hasil sekresi otak. Ya, nampak seperti laku fetitisme pada benda tertentu untuk memperoleh sensasi tertentu. Di hari ini, Valentine, banyak orang membuat harapan. Salah satunya mengharap yang dirindukannya hadir. Hadir dalam makna sebenarnya atau...

Pernikahan Multikultural dan Gagap Budaya

Oleh: Firdaus Putra “Langit dan bumi bertemu pada tapal batas horizon di laut nun jauh” Saya akan menyebutnya pernikahan multikultural. Misalnya, seorang Indonesia bersuku bangsa Jawa menikah dengan orang Hongkong bersuku bangsa China. Yang satu beragama Islam dan yang lain beragama Kristen. Yang satu berasal dari keluarga menengah-bawah dan yang kedua berasal dari kelas atas. Yang Indonesia hidup di kota kecil dan yang Hongkong hidup di pusat metropolitan Asia, Singapura. Ya, demikianlah saya akan menyebutnya untuk mendeskripsikan tentang pernikahan yang latar belakang pasangannya multi background. Perbedaan itu begitu beragam. Membentang hingga menjadi “different list” yang bisa disusun dari angka satu dan seterusnya. Dan pada ketertarikan emosionallah mereka bertemu dan memadu kasih. Inilah dunia kehidupan yang sangat alamiah. Dimana perasaan cinta yang merupakan manifestasi dari rasa kemanusiaan melampaui tapal batas apapun. Pertanyaannya, bagaimana semua perbedaan itu da...

Pentingnya Menggembleng Mahasiswa-Penulis Unsoed

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. “Achievement is lingua franca to socialize in this era” (Grendeng, 31 Januari 2011) “Scripta manent, verba volent” , begitu kata pepatah Latin. Apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Di sinilah peran seorang penulis, mengabadikan dinamika masyarakat dalam beragam mozaik. Proses kreatif itu paduan dari kepiawaian meramu kata dan kedalaman mencerap fakta-data. Dan tidak boleh dilupakan, kemampuan menganalisis persoalan. Dengan pra-syarat seperti itu, banyak penulis lahir dari ruang pembiakan peradaban; universitas. Dan mahasiswa-penulis adalah salah satu bukti dari dinamika ruang peradaban itu. Meski dinamika mahasiswa-penulis di Unsoed-Purwokerto tak sepanas Yogyakarta, namun keberadaan mereka perlu diperhatikan. Misalnya, pada tahun 2009 ada 200 lebih mahasiswa Yogyakarta yang mengikuti Kompetisi Esai tingkat Nasional (Tempo Institute – Jakarta), sedangkan hanya 14 peserta dari Purwokerto. 10 orang di antaranya adalah mahasis...

Tour de Purwokerto

Oleh: Firdaus Putra Di pagi hari, jika kau susuri Jl. HR. Boenyamin dan berjalan ke arah utara, tengoklah ke atas, kau akan lihat Slamet yang gagah. Ia sungguh berwibawa dengan syal awan tipis. Tengoklah senyum simpulnya yang mengembang mempersilahkan kita menyapa. Ia memang tak banyak bicara. Ia memang begitu, tapi kau jangan takut, ia selalu berdiam dengan tenang dan hikmat. Sembari lari pagi, kau akan takjub memandanginya. Hingga pangeran tampanmu akan kalah dibuatnya. Slamet akan berdiri di antara langit biru. Ya, jika hari begitu cerah, Slamet akan mudah kau tatap. Tataplah dengan lekat-lekat. Tapi ingat, jangan sampai membuat kau terlena dan berlari ke tengah jalan. Itu berbahaya, sayang. Susurilah Jl. HR. Boenyamin di pagi hari. Akan kau temukan di bahu jalan, ibu-ibu lanjut menjual kue srabi. Dengan perapian kecil dari arang atau kayu. Kau akan cium aroma lezat srabi hangat. Ada yang merah, ada juga yang putih. Kau bisa pilih rasa sesukamu, manis atau gurih. Tapi cukuplah...

Waktu untuk Mengenang & Berdoa

Saya teringat masa dimana pagi-pagi buta kami melaju di atas bus jurusan Kajen – Kalibening. Bersamanya saya ikut jualan baju di pasar Kalibening (perbatasan Kab. Banjarnegara – Kab. Pekalongan). Yang saya ingat adalah energinya begitu luar biasa. Tengah hari badan saya sudah letih. Sedangkan ia, masih tetap terjaga. Sampai akhirnya kami pulang pukul lima sore, ia masih bertahan. Sedangkan malamnya, saya meriang karena kaget dengan hawa dingin dan panas. Saya ingat betul masa dimana dia selalu memanjakan saya. Mulai dari balita, sekolah dasar dan mungkin sampai beberapa waktu lalu. Saya juga ingat masa dimana kami tidur bersama. Ia kisahkan berulang-ulang tentang diri dan suaminya yang hidup di tanah rantau, Jakarta, Palembang dan Pekanbaru. Meski berulang kali, saya selalu mendengarkannya. Ada rasa haru-pilu-takjub. Saya kenang tanggal 2 Januari lalu di saat saya pamitan berangkat ke Purwokerto. Ia menangis. Saya ingat, hari-hari setelahnya saya selalu berdoa, semoga Tuhan be...

Tentang Pernikahan

Oleh: Firdaus Putra Ku terbangun saat kamu cium keningku dengan lembut. Udara dingin masuk melalui jendela yang kamu buka lebar-lebar. Senang sekali kamu menggodaku. Membawa beribu hawa dingin menggelitik tubuhku. Senang sekali kamu saat melihatku semakin menarik selimut. Kamu tertawa riang dan bilang “Honey … ayo bangunnnn. Si Mo saja sudah bangun dari tadi”. Ledekmu sembari mengangkat anjing putih itu. Dengan malas-malasan kubangun juga. Langsung kupeluk tubuhmu dan ciumi lehermu. Kamu meronta-ronta menolak. “Hiii… bauuuuu”, kamu teriak dengan mengibas-ngibaskan tangan. Aku hanya terkekeh melihat ulahmu. Kuminum air putih yang telah kamu siapkan untukku. Dan kulalui hari itu habis bersamamu. Dalam ruang-waktu, sebuah episode pernikahan kita. Suasana di atas terasa begitu hangat. Bahkan pernikahan yang asli bisa jadi lebih hangat daripada imajinasi itu. Tentang perpaduan dua pasang manusia: laki-laki dan perempuan yang berkomitmen untuk membangun keluarga bersama. Mereka ber...

Cinta August

Oleh: Firdaus Putra Kuingat momen itu saat August bercengkerama dengan angin dan tetumbuhan gandum. Ia lambai-lambaikan tangan, penjamkan mata dan hirup kuat-kuat bebau di sekitarnya. Ia rasakan kehadiran perempuan itu, Lyla Novacek. Kehadiran dalam rasa, bukan dalam wujud. Tentang sosok yang ia tanya dan cari terus menerus. August terus meyakini tentang keberadaannya. Melalui desir angin, langit yang gelap dan gemericik air, bocah itu kirimkan pesan, “Mama …”. Kasih sayang itu melintasi dimensi ruang. Lyla merasakannya. Pesan itu, entah dengan cara apa merasuk dalam kalbunya. Agust Rush adalah kisah tentang anak yang menemukan ibunya melalui musik. Aku ingat masa dimana kamu berbicara tentang doa. Tentang bagaimana kamu selalu mendoakanku. Seperti August, ia yakini Lyla tanpa wujud. Sedang kamu meyakini aku tanpa pernah bertemu. Nada adalah medium bagi August, sedang doa adalah medium bagimu. Doa itu melintasi ruang. Tentang beribu kilometer jarak yang membentang. Dan aku, mera...