Langsung ke konten utama

Postingan

Writing by Facebooking

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. MENULIS status fesbuk adalah aktivitas yang ringan. Sadar atau tidak, ketika menulis status seseorang sedang melakukan dua aktivitas; berpikir dan menuliskannya. Berpikir dalam arti bagaimana ide itu digali yang biasanya “mencoba tampil beda”. Menuliskannya dalam arti secara teknis menyusun kata sampai meramu tanda baca dan pilihan kata yang tepat. Makanya tak sedikit fesbuker perlu waktu lama untuk sekedar “menulis status”. ERA fesbuk memberikan ruang kreativitas bagi saban orang. Perlombaan “tampil beda” terjadi. Dalam makna positif adalah bagaimana saban orang mencoba menawarkan ide-ide yang unik. Seringkali kita baca ada status yang begitu menggelitik. Dan jika kita jujur, “Iya ya, kok bisa dia berpikir seperti itu?” Beberapa orang bisa memikirkan ide yang tak pernah kita pikirkan. Inilah cikal-bakal penulis yang dijamin tak akan pernah kehabisan ide. NAMUN, apakah hal seperti itu sebuah bakat? Atau justru bertumpu pada minat yang besar? Bakat dala...

Bayang-Bayang Nuklir

Oleh: Firdaus Putra Aku tak pernah sangka kalau krisis nuklir Jepang membuatku cemas. Pukul lima tadi kau terbang ke Jepang menjemput papamu. Dua hari lalu sudah kukatakan, minta seluruh familimu menjauh dari Fukushima. Bila perlu, pulanglah ke Singapura atau Taiwan. Papamu tetap ngotot. Kakak lelakimu menemani. Hanya mama dan kakak perempuanmu yang pulang agar kau tak cemas. Tapi, kini kau malah menyusul ke sana bersama mereka. Dan itu, membuatku demikian cemas. Kau tahu, ihwal Jepang adalah tentang “sudah jatuh tertimpa tangga”. Tsunami itu demikian dahsyat. Gempa sembilan sekian skala richter membuat sebagian negeri itu porak poranda. Ada sekitar 13.000 orang yang dikabarkan meninggal dan atau hilang. Dan kini, “tangga” itu menimpa. Krisis nuklir mengintai jam demi jam, hari demi hari. Sepertimu, kucermati terus perkembangan berita. Krisis itu terjadi lantaran pendingin inti nuklir rusak akibat tsunami. Jika inti yang panasnya di atas ratusan derajat celcius itu melumer, rad...

Savner di Valentine Day

Oleh: Firdaus Putra Pada awalnya adalah frekuensi. Frekuensi adalah ke-kerap-an, tentang seringnya berkomunikasi. Lama kelamaan menjadi intensif dengan kualitas isi komunikasi. Mulailah—dalam bahasa Norwegia—muncul savner . Atau perder dalam lanskap Portugis. Adalah kecondongan untuk merasakan sensasi peristiwa itu lagi, peristiwa komunikasi. Rasa itu muncul justru saat peristiwa itu terhenti. Semacam adiksi yang menuntut untuk dipenuhi. Itulah rasa rindu. Rasa itu harus dipenuhi. Entah bertemu langsung, by phone, by net atau lewat merpati pos. Sedangkan cara terakhir adalah dengan asosiasi. “Memanggil” peristiwa itu dengan obyek pengganti; foto, musik, cendramata atau sekedar imajinasi. Inilah usaha untuk menjawab laju hormon oxytocin hasil sekresi otak. Ya, nampak seperti laku fetitisme pada benda tertentu untuk memperoleh sensasi tertentu. Di hari ini, Valentine, banyak orang membuat harapan. Salah satunya mengharap yang dirindukannya hadir. Hadir dalam makna sebenarnya atau...

Pernikahan Multikultural dan Gagap Budaya

Oleh: Firdaus Putra “Langit dan bumi bertemu pada tapal batas horizon di laut nun jauh” Saya akan menyebutnya pernikahan multikultural. Misalnya, seorang Indonesia bersuku bangsa Jawa menikah dengan orang Hongkong bersuku bangsa China. Yang satu beragama Islam dan yang lain beragama Kristen. Yang satu berasal dari keluarga menengah-bawah dan yang kedua berasal dari kelas atas. Yang Indonesia hidup di kota kecil dan yang Hongkong hidup di pusat metropolitan Asia, Singapura. Ya, demikianlah saya akan menyebutnya untuk mendeskripsikan tentang pernikahan yang latar belakang pasangannya multi background. Perbedaan itu begitu beragam. Membentang hingga menjadi “different list” yang bisa disusun dari angka satu dan seterusnya. Dan pada ketertarikan emosionallah mereka bertemu dan memadu kasih. Inilah dunia kehidupan yang sangat alamiah. Dimana perasaan cinta yang merupakan manifestasi dari rasa kemanusiaan melampaui tapal batas apapun. Pertanyaannya, bagaimana semua perbedaan itu da...

Pentingnya Menggembleng Mahasiswa-Penulis Unsoed

Oleh: Firdaus Putra, S.Sos. “Achievement is lingua franca to socialize in this era” (Grendeng, 31 Januari 2011) “Scripta manent, verba volent” , begitu kata pepatah Latin. Apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan musnah. Di sinilah peran seorang penulis, mengabadikan dinamika masyarakat dalam beragam mozaik. Proses kreatif itu paduan dari kepiawaian meramu kata dan kedalaman mencerap fakta-data. Dan tidak boleh dilupakan, kemampuan menganalisis persoalan. Dengan pra-syarat seperti itu, banyak penulis lahir dari ruang pembiakan peradaban; universitas. Dan mahasiswa-penulis adalah salah satu bukti dari dinamika ruang peradaban itu. Meski dinamika mahasiswa-penulis di Unsoed-Purwokerto tak sepanas Yogyakarta, namun keberadaan mereka perlu diperhatikan. Misalnya, pada tahun 2009 ada 200 lebih mahasiswa Yogyakarta yang mengikuti Kompetisi Esai tingkat Nasional (Tempo Institute – Jakarta), sedangkan hanya 14 peserta dari Purwokerto. 10 orang di antaranya adalah mahasis...

Tour de Purwokerto

Oleh: Firdaus Putra Di pagi hari, jika kau susuri Jl. HR. Boenyamin dan berjalan ke arah utara, tengoklah ke atas, kau akan lihat Slamet yang gagah. Ia sungguh berwibawa dengan syal awan tipis. Tengoklah senyum simpulnya yang mengembang mempersilahkan kita menyapa. Ia memang tak banyak bicara. Ia memang begitu, tapi kau jangan takut, ia selalu berdiam dengan tenang dan hikmat. Sembari lari pagi, kau akan takjub memandanginya. Hingga pangeran tampanmu akan kalah dibuatnya. Slamet akan berdiri di antara langit biru. Ya, jika hari begitu cerah, Slamet akan mudah kau tatap. Tataplah dengan lekat-lekat. Tapi ingat, jangan sampai membuat kau terlena dan berlari ke tengah jalan. Itu berbahaya, sayang. Susurilah Jl. HR. Boenyamin di pagi hari. Akan kau temukan di bahu jalan, ibu-ibu lanjut menjual kue srabi. Dengan perapian kecil dari arang atau kayu. Kau akan cium aroma lezat srabi hangat. Ada yang merah, ada juga yang putih. Kau bisa pilih rasa sesukamu, manis atau gurih. Tapi cukuplah...

Waktu untuk Mengenang & Berdoa

Saya teringat masa dimana pagi-pagi buta kami melaju di atas bus jurusan Kajen – Kalibening. Bersamanya saya ikut jualan baju di pasar Kalibening (perbatasan Kab. Banjarnegara – Kab. Pekalongan). Yang saya ingat adalah energinya begitu luar biasa. Tengah hari badan saya sudah letih. Sedangkan ia, masih tetap terjaga. Sampai akhirnya kami pulang pukul lima sore, ia masih bertahan. Sedangkan malamnya, saya meriang karena kaget dengan hawa dingin dan panas. Saya ingat betul masa dimana dia selalu memanjakan saya. Mulai dari balita, sekolah dasar dan mungkin sampai beberapa waktu lalu. Saya juga ingat masa dimana kami tidur bersama. Ia kisahkan berulang-ulang tentang diri dan suaminya yang hidup di tanah rantau, Jakarta, Palembang dan Pekanbaru. Meski berulang kali, saya selalu mendengarkannya. Ada rasa haru-pilu-takjub. Saya kenang tanggal 2 Januari lalu di saat saya pamitan berangkat ke Purwokerto. Ia menangis. Saya ingat, hari-hari setelahnya saya selalu berdoa, semoga Tuhan be...